logo alinea.id logo alinea.id

Dialog Iran dengan AS mungkin terjalin asal dua syarat terpenuhi

Ketegangan antara Teheran dan Washington meningkat sejak tahun lalu, ketika Trump menarik AS keluar dari kesepakatan nuklir 2015.

Khairisa Ferida
Khairisa Ferida Jumat, 05 Jul 2019 07:31 WIB
Dialog Iran dengan AS mungkin terjalin asal dua syarat terpenuhi

Menteri intelijen Iran menegaskan bahwa dialog antara pihaknya dengan Amerika Serikat dapat terjalin hanya jika Washington mengakhiri sanksi dan ada izin dari otoritas tertinggi Iran, Ayatullah Ali Khamenei. Demikian seperti dilaporkan kantor berita IRNA pada Kamis (5/7).

"Melangsungkan dialog dengan AS hanya dapat dipertimbangkan oleh Iran jika sanksi dicabut dan pemimpin tertinggi kami memberikan izin untuk mengadakan pembicaraan," tutur Mahmoud Alavi pada Rabu (3/7) malam.

Alavi menyinggung pula rencana serangan AS ke Iran. "AS takut dengan kekuatan militer Iran. Itulah alasan di balik keputusan mereka untuk membatalkan serangan ke Iran."

Bulan lalu, Donald Trump mengatakan bahwa dia telah membatalkan serangan militer ke Iran untuk membalas insiden penembakan drone pada 20 Juni oleh Teheran di langit Selat Hormuz. Trump beralasan bahwa serangan itu dapat menewaskan 150 orang.

Iran mengklaim bahwa drone AS ditembak jatuh oleh rudal darat ke udara di wilayah mereka, sementara versi Washington menyebutkan bahwa drone itu berada di wilayah udara internasional.

Trump sendiri telah mengisyaratkan bahwa dia membuka diri untuk berbicara dengan Iran.

Ketegangan antara Teheran dan Washington meningkat sejak tahun lalu, ketika Trump menarik AS keluar dari kesepakatan nuklir 2015 dan menerapkan kembali sanksi yang sebelumnya telah dicabut sebagai imbalan atas pembatasan nuklir Iran.

Sebagai reaksi terhadap sanksi-sanksi AS, yang secara khusus menargetkan aliran pendapatan asing utama dalam bentuk ekspor minyak mentah, pada Mei Iran mengatakan akan mengurangi komitmennya terhadap kesepakatan itu.

Sponsored

Dalam pelanggaran besar pertamanya, pada Senin (1/7), Iran mengumumkan bahwa pihaknya telah menimbun lebih banyak uranium tingkat rendah yang diperkaya dari yang diizinkan di bawah kesepakatan nuklir tersebut.

Kemudian pada Rabu (3/7) Iran menuturkan akan meningkatkan pengayaan uranium setelah 7 Juli, melampaui batas yang ditetapkan dalam kesepakatan nuklir 2015.

Trump merespons pernyataan itu dengan mengatakan, "Hati-hati dengan ancaman, Iran. Mereka dapat kembali menggigit Anda seperti yang belum pernah terjadi sebelumnya."

Meski ada peringatan Trump, Teheran bergeming dan menegaskan akan tetap pada rencananya untuk mengurangi komitmennya pada kesepakatan nuklir 2015.

"Dengan keluar dari kesepakatan nuklir, Trump telah mencederai jalur diplomasi ... Penawar terbaik atas semua ancaman adalah perlawanan yang aktif," kata Keyvan Khosravi, juru bicara Dewan Keamanan Nasional Tertinggi Iran.

Uni Eropa telah mendesak Iran untuk tetap berpegang pada ketentuan-ketentuan di kesepakatan nuklir 2015, tetapi Teheran menyatakan bahwa komitmennya akan secara bertahap menurun sampai Inggris, Prancis dan Jerman dapat memastikan bahwa Iran diuntungkan secara finansial dari pakta tersebut.

Kondisi perekonomian Iran kian terpuruk setelah Mei lalu AS memerintahkan seluruh negara untuk berhenti membeli minyak Iran atau diasingkan dari sistem keuangan global. AS juga menambah jumlah pasukannya di Timur Tengah untuk melawan apa yang mereka sebut sebagai ancaman Iran. 

Sumber : Reuters