sun
moon
logo alinea.id logo alinea.id

Dikomplain berisik, SD di Belanda terpaksa tutup sebagian arena bermain

Di Belanda, batas polusi suara ditetapkan pada tingkat 70 desibel.

Valerie Dante
Valerie Dante Kamis, 11 Jul 2019 09:26 WIB
Dikomplain berisik, SD di Belanda terpaksa tutup sebagian arena bermain

Sebuah SD di Belanda terpaksa menutup lapangan bola di arena bermain anak-anak setelah warga yang tinggal di blok apartemen mewah yang baru dibangun mengeluh tentang kebisingan murid yang bermain di sana.

SD De Buut, yang terletak di Nijmegen, diperintahkan untuk menutup lapangan sepak bola mereka pada akhir bulan ini. Jika tidak melakukannya, sekolah itu terancam menghadapi denda hingga US$11.263.

Kepala Sekolah SD De Buut Jenneke Colsen mengatakan permasalahan itu adalah situasi yang aneh.

"Ini benar-benar tidak adil bagi anak-anak, apalagi sekarang semua orang menekankan bahwa anak-anak perlu bermain di luar lebih banyak," katanya.

Hal itu terjadi setelah keluhan sejumlah warga yang tinggal di blok apartemen yang terletak di seberang sekolah berujung pada penyelidikan oleh dewan setempat.

Di Belanda, batas polusi suara ditetapkan pada tingkat 70 desibel, tetapi penyelidikan dewan menemukan bahwa anak-anak yang bermain di lapangan bola SD De Buut melampaui batas ini dengan kebisingan 88 desibel.

Lebih dari 4.000 orang telah menandatangani petisi untuk menyelamatkan lapangan itu, yang tidak hanya digunakan oleh murid SD De Buut, namun juga menjadi arena bermain anak-anak setempat selama 40 tahun terakhir.

Petisi tersebut menyatakan bahwa arena itu merupakan satu-satunya lapangan bermain di lingkungan setempat dan setiap hari digunakan oleh anak-anak untuk bermain, berolahraga dan belajar.

Sponsored

Sebuah spanduk protes tergantung di dekat taman bermain merujuk pada julukan tim sepak bola wanita Belanda, yang baru-baru ini menjadi juara kedua Piala Dunia Wanita 2019.

"Singa Betina juga harus mulai dari suatu tempat," tulis spanduk itu.

Direktur Dutch Noise Pollution Foundation (NSG) Erik Roelofsen mengatakan dapat dimaklumi jika warga mengeluhkan kebisingan yang menyentuh 88 desibel itu. Tapi dia menyalahkan pemerintah setempat atas permasalahan ini.

"Solusi utama adalah perencanaan tata ruang apartemen yang lebih baik. Letak apartemen-apartemen itu salah," tutur Roelofsen. "Sekolah dan arena bermain tersebut sudah ada di area itu terlebih dahulu, jadi pemerintah kota madya yang melakukan kesalahan."

Anggota parlemen Belanda, Rudmer Heerema yang merupakan juru bicara bidang olahraga dan pendidikan, mengatakan sungguh ironis jika orang memilih untuk tinggal di sebelah sekolah dan mengeluh tentang kebisingan anak-anak.

"Anda memilih untuk tinggal di sebelah lapangan di mana anak-anak beraktivitas dan berolahraga, lalu Anda malah mengajukan keluhan terkait kebisingan," keluhnya.

Heerema menegaskan bahwa pemerintah harus menemukan solusi untuk permasalahan ini.

"Anak-anak harus dapat berolahraga dan beraktivitas," tegasnya. (Euro News dan France 24)