logo alinea.id logo alinea.id

Donald Trump: Rusia harus keluar dari Venezuela

Para ahli menilai terdapat dua alasan mengapa Rusia mengambil risiko menghasut kemarahan AS atas isu Venezuela. 

Khairisa Ferida
Khairisa Ferida Kamis, 28 Mar 2019 14:43 WIB
Donald Trump: Rusia harus keluar dari Venezuela

Donald Trump pada Rabu (27/3) meminta Rusia untuk hengkang dari Venezuela, menyusul laporan belum lama ini yang menyebutkan bahwa pesawat Rusia mendarat di negara pimpinan Presiden Nicolas Maduro itu.

Selama pertemuannya dengan Fabiana Rosales, istri dari pemimpin oposisi sekaligus Presiden Majelis Nasional Venezuela Juan Guaido, di Ruang Oval, Gedung putih, Trump ditanya oleh wartawan apakah keterlibatan Rusia memperumit situasi di Venezuela.

"Rusia harus keluar. Pertanyaan selanjutnya?," jawab Trump.

Oleh wartawan, Trump juga ditanya apakah dia telah mengomunikasikan desakan agar Rusia meninggalkan Venezuela kepada penasihat keamanan nasionalnya John Bolton atau PBB.

Trump menjawab, "Mereka tahu betul."

Jika Rusia tidak meninggalkan Venezuela, Trump mengatakan, "Kita akan lihat ... Semua opsi terbuka."

Sikap Trump terhadap keterlibatan Rusia di Venezuela dianggap bertentangan dengan pembelaannya yang berulang terhadap Negeri Beruang Merah dalam situasi lain, termasuk keyakinan atas klaim Presiden Rusia Vladimir Putin bahwa pemerintahannya tidak terlibat dalam pemilu presiden 2016.

Sebelumnya, Wakil Presiden AS Mike Pence juga membahas kedatangan pesawat Rusia di Venezuela pada Sabtu (23/3).

Sponsored

"AS memandang kedatangan pesawat militer Rusia pada akhir pekan ini sebagai provokasi yang tidak disukai dan hari ini kami menyerukan Rusia untuk menghentikan semua dukungan bagi rezim Maduro, dan berdiri dengan Guaido, dengan negara-negara di seluruh belahan bumi ini dan di seluruh dunia hingga kebebasan dipulihkan," kata Wapres Pence.

Sementara pemerintahan Trump membuat deklarasi yang berani dengan mengakui Guaido sebagai penjabat presiden Venezuela, Rusia terus mendukung rezim Maduro.

Pada Desember, terdapat tanda bahwa Rusia dan Venezuela memperdalam hubungan ketika Kremlin menyetujui restrukturisasi utang senilai US$3,15 miliar yang dipinjamkan oleh Moskow. 

Pesawat Rusia tiba di Bandara Internasional Simon Bolivar di dekat Caracas pada Sabtu (23/3). Demikian ungkap sumber diplomatik di Caracas kepada media Rusia, RIA Novosti. 

Menurut sumber tersebut, militer Rusia datang untuk berkonsultasi dengan perwakilan Venezuela tentang kerja sama teknis militer.

"Sumber yang sama mencatat bahwa tidak ada yang misterius karena kedatangan pesawat secara langsung berkaitan dengan pelaksanaan kontrak yang diteken oleh para pihak terkait bertahun-tahun lalu," sebut RIA Novisti.

Tetapi pemerintahan Trump melihat hal ini secara berbeda.

Juru Bicara Kementerian Luar Negeri AS Robert Palladino menerangkan bahwa Menteri Luar Negeri Mike Pompeo pada Senin (25/3) telah berbicara dengan Menteri Luar Negeri Rusia Sergey Lavrov dan menyerukan mereka untuk menghentikan perilaku tidak konstruktifnya di Venezuela.

"AS tidak akan berpangku tangan ketika Rusia memperburuk ketegangan di Venezuela," sebut pernyataan Palladino. "Masuknya personel militer Rusia untuk mendukung rezim Nicolas Maduro yang tidak sah berisiko memperpanjang penderitaan rakyat Venezuela yang sangat mendukung presiden sementara Juan Guaido."

Mengapa Rusia berani ambil risiko?

Dinilai terdapat dua alasan mengapa Rusia mengambil risiko menghasut kemarahan AS atas isu Venezuela. 

Beberapa kritikus percaya alasan utamanya adalah Trump ingin menjadikan perjuangannya melawan kaum sosialis sebagai persoalan mendesak dalam pemilu presiden 2020. Trump sendiri mencoba menggulingkan Maduro dengan alasan presiden ke-65 Venezuela itu salah kelola negara.

Fokus AS pada Venezuela, yang lama menjadi target antisosialis di AS, telah membawa Negeri Paman Sam terlibat dalam perang proksi skala kecil dengan Rusia.

Sebagian kalangan memandang aneh bahwa Moskow yang belakangan menghabiskan begitu banyak waktu untuk menggunakan pengaruhnya di Eropa dan Timur Tengah, sangat peduli dengan sebuah negara di Amerika Latin. Tetapi ternyata, Venezuela telah menjadi perhatian utama Rusia selama beberapa dekade.

Alasan pertama Rusia cawe-cawe adalah bersekutu dengan Venezuela memberikan mereka pijakan yang kuat di belahan Amerika. Rusia, terutama di bawah Putih, disebut-sebut memiliki desain untuk menjadi pemain global teratas maka menggunakan pengaruh di Benua Amerika adalah salah satu cara untuk mencapai itu dan mungkin membatasi pengaruh Washington dalam prosesnya.

Rusia membangun dan mempertahankan persahabatan dengan Venezuela dengan mendekati kepemimpinan sosialis negara itu, yang telah berkuasa sejak 1990-an. Itu membuat upaya AS untuk mengleserkan Maduro begitu meresahkan Moskow. Jika Maduro pergi dan Guaido menggantikannya, maka Venezuela mungkin menjadi lebih bersahabat dengan AS daripada dengan Rusia.

"Jika Venezuela jatuh dari orbit Rusia, akan sangat menyakitkan bagi Kremlin," tulis Vladimir Rouvinski, seorang ahli hubungan Rusia-Venezuela di University of Cali, dalam sebuah laporan pada Februari. "Moskow berusaha keras untuk mencegah hal ini terjadi."

Alasan kedua, murni tentang ekonomi. Venezuela telah membeli miliaran peralatan militer Rusia, hingga hampir semua persenjataan modernnya berasal dari Rusia. Moskow tentu tidak ingin kehilangan pelanggan yang begitu menonjol.

Tetapi hubungan ekonomi riil kedua pihak berpusat pada minyak.

Pada 14 Maret, Reuters melaporkan bahwa perusahaan minyak nasional Rusia, Rosneft, telah menghabiskan sekitar US$9 miliar untuk berinvestasi dalam proyek-proyek minyak Venezuela sejak 2010. Perusahaan itu belum mencapai titik impas, dan pada kenyataannya berutang sekitar US$3 miliar dari Venezuela.

Terlebih lagi, Rosneft memiliki dua ladang gas lepas pantai di Venezuela dan memiliki saham sekitar 20 juta ton minyak mentah di sana.

Itulah sebabnya Igor Sechin, CEO Rosneft dan bisa dibilang orang terkuat kedua Rusia, sangat peduli dengan Venezuela. Sebagai contoh, November lalu dia pergi ke Caracas untuk bertemu dengan Maduro, terutama untuk mengeluh tentang semua utang perusahaannya.

Antara tujuan Rusia di seluruh dunia dan kepentingan ekonominya di Venezuela, maka dinilai tidak heran jika Moskow mengirim sejumlah pasukannya ke negara itu untuk mendukung Maduro dan menunjukkan tekadnya.

"Rusia sekarang sangat berinvestasi dalam rezim Maduro sehingga satu-satunya pilihan yang realistis adalah melipatgandakannya," tulis Alexander Gabuev, seorang ahli di Carnegie Moscow Center, di Financial Times pada 3 Februari. (CNN dan Vox)