sun
moon
logo alinea.id logo alinea.id

Drama Donald Trump pada Natal 2018

Donald Trump memilih memanfaatkan momen jelang Natal 2018 untuk menyerang berbagai pihak, termasuk The Fed.

Khairisa Ferida
Khairisa Ferida Rabu, 26 Des 2018 11:36 WIB
Drama Donald Trump pada Natal 2018

Pada Senin (24/12), saat orang-orang bersukacita menyambut Natal, Donald Trump mengeluhkan bahwa dia 'seorang diri' di Gedung Putih. Melalui media sosial kesayangannya, Twitter, orang nomor satu di Amerika Serikat itu mengomeli lawan-lawannya, sementara pasar saham jatuh bebas, pemerintah semakin terperosok ke dalam krisis dan sebagian administrasi negara lumpuh karena government shutdown.

Salah satu alasan kemarahan Trump adalah barometer favorit kesuksesannya dilucuti oleh hari-hari yang dipenuhi kerugian di pasar. Dow Jones Industrial Average anjlok lebih dari 600 poin justru setelah pada hari Minggu (23/12), Menteri Keuangan Steven Mnuchin berusaha menenangkan investor dengan berkonsultasi bersama sejumlah CEO bank.

Kerugian kabarnya diperparah oleh serangan Twitter Trump kepada The Fed menyusul pengakuan bank sentral AS itu bahwa Trump pernah bertanya apakah legal untuk memecat Jerome Powell sebagai gubernur The Fed.

Dow Jones turun 2.91% dan indeks S&P 500 terkoreksi 2,71% pada sesi Natal. Kemerosotan terjadi setelah pekan lalu pasar saham mengalami minggu terburuknya sejak Resesi Hebat satu dekade lalu. Terakhir kali pasar terpuruk di bulan Desember adalah pada 1931 selama Depresi Hebat. 

Lewat Twitter, Trump mengatakan dia berada di Gedung Putih untuk menantikan Demokrat menyetujui soal dana pembangunan dinding perbatasan. Kebuntuan terkait biaya pembangunan senilai US$5 miliar itu telah memicu government shutdown atau penutupan pemerintahan pada Jumat (21/12) tengah malam.

Twit berisi keluhan Trump itu merupakan yang ke-10 yang ditulisnya hari itu. 

Sponsored

Namun, kembalinya Melania Trump dari Florida pada Senin malam, tidak membuat Trump seorang diri lagi. Pasangan itu memiliki agenda untuk menjadi relawan program Santa-tracking yang diadakan Komando Pertahanan Dirgantara Amerika Utara (NORAD) dengan bicara via telepon dengan anak-anak yang ingin mengetahui perjalanan Sinterklas 

Selama panggilan telepon tersebut, Trump juga sempat bikin heboh dengan bertanya kepada seorang anak usia tujuh tahun, "Apakah kamu masih percaya pada Sinterklas? Karena pada usia tujuh tahun itu meragukan, bukan?."

Pertanyaannya dinilai menganggu imaji anak-anak.

Sebelumnya, pada hari yang sama, Trump mengecam Brett McGurk, utusan khususnya untuk memerangi ISIS yang mengikuti jejak Menteri Pertahanan Jim Mattis mengundurkan diri. McGurk memilih mundur karena tidak setuju dengan kebijakan Trump menarik pasukan dari Suriah.

Senator Bob Corker juga tidak luput dari targetnya. Politikus Tennessee itu telah mengkritiknya atas keputusannya soal penarikan pasukan dari Suriah dan government shutdown.

Dalam deretan twitnya pada 24 Desember, Trump pun menuliskan bahwa dia menyukai persekutuan AS. Namun, beberapa negara menurutnya telah mengambil keuntungan dari persahabatan mereka dengan AS, baik secara perdagangan mau pun perlindungan militer.

Seorang pejabat senior pemerintah mengatakan kepada CNN bahwa pengambilan keputusan keamanan nasional pada dasarnya tidak berfungsi sebagaimana mestinya dan keputusan dibuat berdasarkan keinginan yang disampaikan melalui telepon. Sumber yang sama menambahkan bahwa penarikan pasukan dari Suriah adalah pembalikan penuh dari kebijakan sebelumnya dan diambil tanpa pertimbangan, perhitungan akan risiko.

"Sekutu dan mitra AS dibuat terkejut dan benar-benar bingung serta pasukan Demokratik Suriah tidak percaya bahwa ini terjadi," ungkap pejabat itu.

Kondisi tersebut menambah kacau Gedung Putih yang berada di luar kendali dengan presiden yang menjadi semakin emosional dan jengkel saat menghadapi tekanan hukum dan politik yang meningkat dari penyelidik khusus Robert Mueller. Dalam beberapa hari mendatang, sebuah era baru di mana Demokrat menguasai Kongres setelah menang dalam pemilu paruh waktu pada November lalu akan segera dimulai.

Kongres baru akan bersidang pada awal Januari 2019.

Berbagai kekacauan ini membuat dua tokoh utama Demokrat Nancy Pelosi dan Chuck Schumer merilis pernyataan bersama.

"Ini Malam Natal dan Presiden Trump menjerumuskan negara ke dalam kekacauan. Pasar saham tengah merosot dan presiden mengobarkan perang pribadi terhadap The Fed setelah dia baru saja memecat menteri pertahanan," sebut pernyataan bersama Pelosi dan Schumer.

Setelah tiga hari lebih government shutdown, kebuntuan belum menunjukkan tanda-tanda akan berakhir. Ini merupakan penutupan pemerintahan ketiga sepanjang 2018.

Government shutdown pertama terjadi pada  Januari ketika RUU Imigran yang diajukan Trump gagal disahkan. Ada pun yang kedua terjadi pada 9 Februari. 

Beruntung, lampu-lampu di Pohon Natal Nasional di dekat Gedung Putih tetap menyala usai menerima dana pada menit-menit terakhir. Sebelumnya, sempat muncul kekhawatiran Pohon Natal Nasional akan gelap akibat terdampak government shutdown.

Sumber : CNN