sun
moon
a l i n e a dot id
fakta data kata
logo alinea.id

Dua hotel di Gaza jadi pusat karantina Covid-19

Palestina mencatat 59 kasus positif Covid-19, di mana 17 di antaranya dilaporkan telah pulih.

Khairisa Ferida
Khairisa Ferida Selasa, 24 Mar 2020 00:28 WIB
Dua hotel di Gaza jadi pusat karantina Covid-19
Informasi mutakhir perkembangan Covid-19 di Indonesia bisa dilihat di sini
Terinfeksi 252923
Dirawat 58788
Meninggal 9837
Sembuh 184298

Kementerian Dalam Negeri Palestina mengatakan pada Minggu (23/3), mereka menjadikan dua hotel paling modern di Gaza sebagai pusat karantina bagi mereka yang baru kembali dari luar negeri.

Dalam pernyataan tertulis yang dikirim ke media, juru bicara Kementerian Dalam Negeri Palestina Iyad Al-Bozom menuturkan bahwa para pemilik hotel Commodore dan Blue Beach telah menyerahkan properti mereka agar dapat digunakan sebagai pusat karantina.

Menurut Al-Bozom, Komite Tinggi Darurat Melawan Coronavirus memutuskan menggunakan kedua fasilitas tersebut untuk pasien usia lanjut. Kedua hotel itu merupakan dua dari 19 pusat karantina di seluruh Jalur Gaza yang telah dikepung Israel selama 14 tahun.

Otoritas di Gaza mengumumkan dua orang pertama positif coronavirus jenis baru pada Sabtu (22/3) malam. Masing-masing pasien adalah pria usia 79 tahun dan 63 tahun yang kembali ke Gaza dari Pakistan melalui Mesir.

Pihak berwenang mengatakan bahwa mereka diuji di Rafah Crossing sebelum masuk ke Gaza dan segera dikarantina. Semua orang yang menemani mereka juga dikarantina.

Seorang pejabat PBB telah memperingatkan bahwa Gaza rentan terhadap kemungkinan bencana jika Covid-19 menyebar di sana menyusul kurangnya peralatan medis dan obat-obatan akibat blokade Israel.

Sementara itu, delegasi Organisasi Kesehatan Dunia (WHO) dilaporkan telah tiba di Jalur Gaza pada Minggu untuk menilai situasi setelah pengumuman dua kasus positif coronavirus jenis baru.

Delegasi yang dipimpin oleh Direktur WHO di Palestina Gerald Rockenschaub itu memasuki Gaza melalui Erez Crossing.

Sponsored

Hamas, yang memerintah Gaza, telah menutup pasar-pasar dan gedung pernikahan pada Jumat (20/3) setelah sebelumnya menutup sekolah. Hampir 1.300 orang yang kembali dari luar negeri menjalani karantina, sementara petugas menyemprotkan disinfektan di jalan-jalan dan fasilitas publik.

Rakyat Palestina sendiri telah didesak untuk salat di rumah dibanding di masjid, dan tidak berkumpul dalam proses pemakaman.

Di Tepi Barat, Perdana Menteri Mohammad Shtayyeh memerintahkan orang-orang untuk tetap di rumah selama dua pekan, dimulai dari Minggu malam, demi memperlambat penyebaran Covid-19. Desakan itu mengecualikan tenaga medis, apoteker, pedagang grosir, dan tukang roti. 

Masyarakat masih diizinkan untuk keluar untuk berbelanja makanan.

Israel pada Sabtu mengatakan bahwa mereka menutup perbatasannya dengan Gaza dan Tepi Barat untuk lalu lintas komersial. Namun, sejumlah pasien dan staf kemanusiaan dapat menyeberang.

Dalam beberapa hari terakhir, Israel disebut telah mengirim 200 kit uji coronavirus jenis baru ke Gaza.

"Virus dan penyakit tidak punya batas, dan pencegahan coronavirus di Gaza (dan Tepi Barat) adalah kepentingan utama Israel," sebut Cogat, badan militer Israel yang berkoordinasi dengan Otoritas Palestina (PA).

Hingga berita ini diturunkan, Palestina mencatat 59 kasus positif Covid-19, di mana 17 di antaranya dilaporkan telah pulih. Di Israel, terdeteksi 1.238 kasus, dengan satu kematian dan 37 orang dinyatakan sembuh.

Pejabat WHO di Gaza, Abdelnasser Soboh, menuturkan bahwa wilayah tersebut memiliki 62 ventilator, tetapi mungkin memerlukan 100 ventilator tambahan jika kondisi memburuk.

Di Qatar, kantor berita QNA menyebutkan bahwa negara itu akan menyediakan US$150 juta untuk menyokong Jalur Gaza dalam perjuangannya melawan pandemik Covid-19. (Middle East Monitor, The Guardian, dan Reuters)

Berita Lainnya
×
img