sun
moon
a l i n e a dot id
fakta data kata
logo alinea.id

Dua orang tewas dalam unjuk rasa antikudeta di Myanmar

Dengan kematian terbaru, menurut AAPP, secara total kini setidaknya 249 orang di Myanmar telah tewas sejak kudeta militer pada 1 Februari.

Valerie Dante
Valerie Dante Senin, 22 Mar 2021 14:55 WIB
Dua orang tewas dalam unjuk rasa antikudeta di Myanmar

Para demonstran di Myanmar terus mempertahankan penentangan mereka terhadap junta militer pada Minggu (21/3) meskipun jumlah korban tewas dalam unjuk rasa meningkat.

Dua orang tewas dalam sebuah aksi protes pada Minggu ketika otoritas keamanan berupaya membubarkan massa. 

Myanmar berada dalam kekacauan sejak militer menggulingkan pemerintah terpilih yang dipimpin oleh Aung San Suu Kyi pada 1 Februari. 

Kudeta tersebut mengakhiri upaya pemerintah sipil Myanmar melakukan reformasi demokrasi selama 10 tahun terakhir.

Seorang pria ditembak mati dan beberapa lainnya luka-luka ketika polisi menembaki kelompok yang mendirikan barikade di pusat kota Monywa.

Selain itu, menurut media lokal Myanmar Now, satu orang tewas dan beberapa lainnya luka-luka ketika pasukan keamanan menembaki kerumunan di Kota Mandalay.

Menurut Assistance Association for Political Prisoners (AAPP), setidaknya 249 orang kini telah terbunuh sejak kudeta dimulai.

Kekerasan yang digunakan pihak berwenang memaksa banyak warga untuk memikirkan cara-cara baru untuk mengekspresikan penolakan mereka terhadap pemerintahan militer.

Sponsored

Para pengunjuk rasa di sekitar 20 tempat di seluruh negeri melakukan protes pada malam hari dengan menyalakan lilin selama akhir pekan. Aksi ini digelar dari Yangon hingga Kachin State di wilayah utara Myanmar.

Ratusan orang di Mandalay, termasuk banyak staf medis, berbaris dalam apa yang mereka sebut sebagai "Dawn protest" sebelum matahari terbit pada Minggu.

Para pengunjuk rasa di beberapa tempat berdemo dengan sejumlah biksu Buddhis yang memegang lilin.

Unjuk rasa lainnya terjadi pada Minggu malam di Monywa, di mana polisi melepaskan tembakan untuk memukul mundur pengunjuk rasa.

Juru bicara junta tidak dapat dihubungi untuk dimintai komentar tetapi sebelumnya mereka telah mengatakan bahwa pasukan keamanan telah menggunakan kekuatan hanya jika diperlukan.

Kecaman negara lain

Junta militer mengklaim bahwa pemilu pada 8 November 2020, yang dimenangkan oleh partai yang dipimpin oleh Suu Kyi, merupakan penipuan besar-besaran.

Tuduhan itu telah ditolak oleh Komisi Pemilihan Umum Myanmar. 

Para pemimpin militer telah menjanjikan pemilu baru tetapi belum menetapkan tanggal.

Negara-negara Barat telah berulang kali mengutuk kudeta dan kekerasan tersebut.

Selain itu, para tetangga Myanmar yakni Indonesia, Malaysia, dan Singapura turut mengecam penggunaan kekuatan mematikan dan menyerukan agar kekerasan dihentikan. Filipina telah menyatakan keprihatinannya.

Indonesia dan Malaysia telah menyatakan bahwa mereka menginginkan ASEAN menggelar pertemuan khusus untuk membahas gejolak politik di Myanmar.

Sumber : Reuters

Berita Lainnya