logo alinea.id logo alinea.id

Dubes Bangladesh: Myanmar tunda repatriasi pengungsi Rohingya

Hingga kini masih belum ada kemajuan yang dicapai sejak Myanmar dan Bangladesh menyepakati perjanjian terkait repatriasi pada 2017.

Valerie Dante
Valerie Dante Kamis, 25 Apr 2019 18:42 WIB
Dubes Bangladesh: Myanmar tunda repatriasi pengungsi Rohingya

Duta Besar Bangladesh untuk Indonesia Azmal Kabir mengatakan hingga kini, repatriasi pengungsi Rakhine State masih menjadi pertanyaan besar. Dia menyatakan masih belum ada kemajuan yang dicapai sejak Myanmar dan Bangladesh menyepakati perjanjian terkait repatriasi pada 2017.

"Repatriasi belum dimulai. Perjanjian yang sudah ada sejak dua tahun lalu itu masih sebatas kata-kata di atas kertas saja," ujar Dubes Kabir di Hotel Borobudur, Jakarta, Kamis (25/4).

Dia menegaskan bahwa hingga sekarang, belum ada satupun pengungsi Rakhine State di Bangladesh yang dipulangkan ke Myanmar.

Dubes Kabir menilai penundaan ini terjadi karena pemerintah Myanmar tidak berniat menerima para pengungsi kembali.

"Kami tidak tahu apa yang diinginkan Myanmar. Jika mereka tidak menginginkan para pengungsi itu pulang, pasti mereka akan selalu menunda proses repatriasi," lanjutnya.

Dia menyebut, hingga sekarang pemerintah kedua negara terus melanjutkan perundingan soal repatriasi, tetapi tidak ada poin baru yang berhasil disepakati.

"Semua yang dibicarakan sudah tertera di kesepakatan yang tercapai dua tahun yang lalu," kata dia.

Dubes Kabir menyayangkan sikap pemerintah Myanmar. Dia berharap Myanmar meningkatkan upaya mereka dan memegang komitmen untuk menjalankan repatriasi yang aman dan terhormat.

Sponsored

Sementara itu, Kabir pun mengungkapkan bahwa para pengungsi yang sebagian besar tinggal di kamp pengungsian di Cox's Bazar justru ingin menetap di Bangladesh dan tidak ingin kembali ke Myanmar.

"Mereka bahkan tidak percaya dengan pemerintah mereka sendiri," ujar Dubes Kabir.

Sejak 2017, sekitar 730.000 warga Rakhine State melarikan diri akibat tindakan brutal militer Myanmar. Penyelidik PBB menuduh militer Myanmar melakukan pembunuhan massal dengan niat melakukan pemusnahan etnis dalam serangan yang menghancurkan ratusan desa etnis Rohingya di bagian barat Rakhine.

Namun, Myanmar membantah tuduhan tersebut dan mengatakan bahwa serangan itu merupakan tindakan balasan untuk mengatasi ancaman gerilyawan. Mereka berjanji akan menerima pengungsi kembali.