sun
moon
logo alinea.id logo alinea.id

Ekonomi China melambat 6,0% di kuartal III 2019

Pertumbuhan ekonomi China tertekan oleh menurunnya permintaan domestik dan perang dagang dengan Amerika Serikat.

Khairisa Ferida
Khairisa Ferida Jumat, 18 Okt 2019 12:03 WIB
Ekonomi China melambat 6,0% di kuartal III 2019

Data resmi pada Jumat (18/10), menunjukkan bahwa ekonomi China berkembang pada tingkat paling lambat dalam hampir tiga dekade pada kuartal ketiga, terpukul oleh permintaan domestik yang menurun dan perang dagang dengan Amerika Serikat.

Menurut Biro Statistik Nasional (NBS), ekonomi Tiongkok tumbuh 6,0% pada Juli-September, dibandingkan dengan 6,2% pada kuartal kedua. Itu merupakan angka triwulanan terburuk sejak 1992 tetapi dalam kisaran target pemerintah, yaitu 6,0-6,5% untuk sepanjang tahun.

Ekonomi China tumbuh 6,6% pada 2018.

"Ekonomi nasional mempertahankan stabilitas secara keseluruhan di tiga kuartal pertama," sebut juru bicara NBS Mao Shengyong.

"Namun, kita harus sadar mengingat kondisi ekonomi yang rumit dan parah baik di dalam maupun luar negeri, pertumbuhan ekonomi global yang melambat dan meningkatnya ketidakstabilan serta ketidakpastian eksternal, ekonomi berada di bawah tekanan yang meningkat."

Mao menambahkan bahwa layanan dan manufaktur teknologi tinggi adalah sektor utama pertumbuhan, sementara itu lapangan kerja umumnya stabil.

Upaya menyokong ekonomi

Beijing telah meningkatkan dukungan untuk mendorong pertumbuhan dengan pemangkasan pajak dan suku bunga besar-besaran serta telah membatalkan pembatasan investasi asing di pasar sahamnya.

Sponsored

Dalam langkah terbaru demi menopang pertumbuhan, bank sentral pada Rabu (16/10) mengatakan bahwa pihaknya memompa US$28 miliar ke dalam sistem keuangan melalui fasilitas pinjaman jangka menengah ke bank-bank. Itu didesain untuk menjaga likuiditas di pasar.

Meski demikian, berbagai upaya tersebut belum dapat mengimbangi pukulan dari lemahnya permintaan di dalam negeri.

Perang dagang dan lemahnya permintaan domestik telah mendorong Dana Moneter Internasional (IMF) mengoreksi perkiraan pertumbuhan 2019 China dari 6,2% menjadi 6,1% pada Selasa (15/10).

Perselisihan dagang yang berlangsung dengan AS disebut telah merusak ekonomi Tiongkok. Minggu ini, China melaporkan angka impor dan ekspor yang lemah dari perkiraaan untuk September setelah Washington memberlakukan tarif baru pada bulan itu.

Pada Jumat lalu, Presiden Donald Trump mengumumkan kesepakatan fase satu setelah dia bertatap muka dengan negosiator utama China, Liu He, di Washington. Bagaimanapun, perkembangan positif itu tidak membatalkan tarif menyengat yang sudah diberlakukan kedua negara terhadap satu sama lain, juga tidak membahas putaran pajak impor lainnya yang direncanakan berlaku pada Desember.

Sebelumnya, pada Rabu, Trump menuturkan harapannya agar penandatanganan kesepakatan AS-China dapat dilakukan di KTT APEC yang akan berlangsung di Chile bulan depan. (AFP)