sun
moon
a l i n e a dot id
fakta data kata
logo alinea.id

Erdogan minta Prancis segera singkirkan Macron

Erdorgan mengatakan Macron adalah masalah bagi Prancis.

Valerie Dante
Valerie Dante Sabtu, 05 Des 2020 14:21 WIB
Erdogan minta Prancis segera singkirkan Macron
Informasi mutakhir perkembangan Covid-19 di Indonesia bisa dilihat di sini
Terinfeksi 1.341.314
Dirawat 153.074
Meninggal 36.325
Sembuh 1.151.915

Presiden Turki Recep Tayyip Erdogan pada Jumat (4/12) mengatakan bahwa dia berharap Prancis akan segera menyingkirkan Presiden Emmanuel Macron.

Pernyataan keras tersebut merupakan yang terbaru dalam perang kata-kata di tengah ketegangan yang meningkat di antara kedua pemimpin tersebut.

"Macron adalah masalah bagi Prancis. Di bawah kepemimpinan Macron, Prancis sedang melewati periode yang sangat berbahaya. Saya berharap Prancis akan menyingkirkannya secepat mungkin," kata Erdogan kepada wartawan usai salat Jumat di Istanbul.

Turki dan Prancis tengah terlibat dalam serangkaian perselisihan, mulai dari ketegangan di Mediterania timur hingga wilayah Nagorno-Karabakh yang diperebutkan.

Ketegangan antara kedua negara telah meningkat ke tingkat baru dalam beberapa bulan terakhir setelah Prancis menindak ekstremisme Islam setelah beberapa serangan di negaranya.

Erdogan telah berulang kali menyindir Presiden Macron dengan menyarankan agar kondisi mentalnya diperiksa oleh profesional. Selain itu, dia juga mendesak rakyat Turki untuk memboikot produk Prancis.

Pada Jumat, Ergodan menuturkan bahwa Prancis harus menyingkirkan Macron jika ingin menyelesaikan isu rompi kuning, mengacu pada gelombang protes yang dimulai di Prancis sejak 2018.

Turki dan Prancis juga berselisih tentang Nagorno-Karabakh, wilayah Azerbaijan yang dihuni oleh etnis Armenia yang memisahkan diri dari kendali Baku dalam perang pasca-Soviet pada 1990-an.

Sponsored

Pertempuran baru atas Nagorno-Karabakh pecah pada September hingga kesepakatan gencatan senjata yang ditengahi Rusia disepakati pada bulan lalu.

Turki merupakan salah satu sekutu setia Azerbaijan.

Prancis bersama dengan Rusia dan Amerika Serikat menjadi ketua bersama Grup Minsk, yang telah memimpin perundingan demi mencari solusi untuk konflik selama beberapa dekade terakhir.

Pada Oktober, Senat Prancis mengadopsi resolusi tidak mengikat yang menyerukan Prancis untuk mengakui Nagorno-Karabakh sebagai negara merdeka.

Menanggapi pernyataan senat, Erdogan mengatakan Prancis telah kehilangan peran sebagai mediator dalam sengketa Nagorno-Karabakh.

"Kalian adalah mediator, tetapi di sisi lain, kalian justru mengeluarkan resolusi di parlemen, tentang wilayah di mana kalian seharusnya menjadi mediator," ujarnya. (France 24)

Berita Lainnya