logo alinea.id logo alinea.id

Erdogan sebut AS dan Uni Eropa campuri urusan pemilu Turki

Atas kekalahan pemilihan gubernur di Ankara dan Istanbul, AS dan UE mendesak Turki menerima hasil tersebut.

Valerie Dante
Valerie Dante Sabtu, 06 Apr 2019 23:00 WIB
  Erdogan sebut AS dan Uni Eropa campuri urusan pemilu Turki

Pada Jumat (5/4), Presiden Turki Recep Tayyip Erdogan menuduh Amerika Serikat (AS) dan Uni Eropa (UE) terlalu campur tangan dalam urusan internal Turki.

Kecaman Erdogan itu menanggapi pernyataan perwakilan kedua pihak yang mengomentari kekalahan partainya, Partai Keadilan dan Pembangunan (AKP), dalam Pemilu Lokal Turki.

AKP menderita kekalahan dalam pemilu yang berlangsung pada Minggu (31/3), hasil menunjukkan partai tersebut kalah dalam pemilihan gubernur di Ankara dan Istanbul.

AS meminta Turki untuk menerima hasil pemilu tersebut dan UE mendesak pemerintahan Erdogan agar segera mengizinkan para pejabat terpilih untuk menjalankan mandat mereka. Namun, Erdogan menolak pernyataan dari kedua pihak dan meminta agar AS dan Uni Eropa tahu diri.

"AS dan Eropa sedang ikut campur dalam urusan internal Turki," kata Erdogan kepada wartawan.

Dia menyebut, Turki justru telah memberikan pelajaran demokrasi kepada seluruh dunia.

Pada Selasa (2/4), Juru bicara Departemen Luar Negeri AS Robert Palladino menyatakan pemilu yang bebas dan adil sangat penting untuk demokrasi.

"Ini berarti menerima hasil pemilu merupakan hal yang sangat penting," ujarnya.

Sponsored

Hal serupa pun digaungkan oleh Juru Bicara Uni Eropa Maja Kocijancic dan kepala delegasi dari Dewan Eropa, Andrew Dawson.

"Tim saya tidak sepenuhnya yakin saat ini Turki memiliki lingkungan pemilu yang bebas dan adil yang diperlukan untuk pemilu demokratis," katanya pada Senin (1/4).

Setelah dinyatakan mengalami kekalahan di Istanbul, AKP memprotes dan melakukan banding terhadap hasil pemilu. Partai itu menuntut Komisi Tinggi Pemilu Turki melakukan penghitungan suara ulang.

Presiden Turki mengecam AS dan Eropa yang mengkritik tindakan partainya untuk mengajukan banding.

"Di negara kalian sendiri, kalian juga meluncurkan banding," ungkapnya.

Erdogan berupaya keras menjelang pemungutan suara untuk mempromosikan partainya. Dia menyambangi sejumlah wilayah di Turki dan mendorong warga untuk memilih AKP dalam pemilu lokal.

Akan tetapi, para pemilih yang prihatin dengan meningkatnya biaya hidup, inflasi yang menyentuh angka dua digit, dan pengangguran, justru memenangkan oposisi, Partai Rakyat Republik (CHP), di dua kota terbesar Turki.

Kandidat gubernur untuk Istanbul dari CHP, Ekrem Imamoglu, menang tipis atas kandidat dari AKP, Binili Yildirim. Imamoglu meraih 4,15 juta suara, sedangkan 4,13 juta suara yang diperoleh Yildirim.

Imamgolu memperkirakan hasil perhitungan akhir pada Minggu (7/6) bisa memperluas selisih perolehan suaranya dengan Yildirim hingga 20.000 suara. Hampir 200.000 suara lagi masih perlu dihitung ulang, katanya.

Meski begitu, AKP mengklaim penghitungan ulang akan menunjukkan kandidatnya menang.

Komisi Tinggi Pemilu Turki memberikan rincian penghitungan ulang yang kepada pengamat dari kedua belah pihak untuk memastikan transparansi. Partai politik memiliki waktu hingga 10 April untuk mengajukan banding.

Kekalahan di Istanbul menjadi pukulan telak bagi Erdogan yang memulai karier politiknya sebagai wali kota di kota tersebut. Selain itu, sejak 1994, AKP belum pernah kalah dalam pemungutan suara di Istanbul dan Ankara.

Menurut hasil sementara di Ankara, kandidat dari CHP Mansur Yavas meraih 50,90% suara berbanding 47,06% suara yang diraih kandidat dari AKP, Mehmet Ozhaseki.

Para pejabat AKP meyakini ada perbedaan besar antara jumlah surat suara di TPS Istanbul dan Turki, dengan data yang dikirim ke otoritas pemilu.

Erdogan pada Jumat mengklaim partainya memenangkan 24 dari 39 distrik di Istanbul, tetapi dia menekankan bahwa keputusan akhir akan diambil oleh Komisi Tinggi Pemilu. (Arab News)