sun
moon
a l i n e a dot id
fakta data kata
logo alinea.id

Fatalitas Covid-19 di AS tembus 400.000

Penyebab utama kematian di AS karena faktor penyakit menular terakhir kali terjadi pada 1920.

Valerie Dante
Valerie Dante Rabu, 20 Jan 2021 19:46 WIB
Fatalitas Covid-19 di AS tembus 400.000
Informasi mutakhir perkembangan Covid-19 di Indonesia bisa dilihat di sini
Terinfeksi 1.322.866
Dirawat 158.408
Meninggal 35.786
Sembuh 1.128.672

Lebih dari 400.000 warga Amerika Serikat (AS) dilaporkan meninggal akibat pandemi Covid-19. Angka terbaru itu datang ketika ribuan lebih kematian lainnya diperkirakan terjadi di musim dingin.

The Johns Hopkins University Coronavirus Resource Center pada Selasa (19/1) melaporkan, 400.022 orang sejauh ini meninggal.

Bulan-bulan penuh kematian diperkirakan masih menanti AS. Perkiraan yang dibuat Pusat Pengendalian dan Pencegahan Penyakit (CDC) AS memperkirakan, jumlah kematian bisa menyentuh 477.000 pada 6 Februari.

Prediksi itu juga mewakili lonjakan kematian yang jelas terlihat di "Negeri Paman Sam". Butuh lebih dari 16 minggu bagi AS mencapai 100.000 kematian, tetapi kurang dari lima minggu untuk melonjak dari 300.000 menjadi 400.000.

Banyak ahli memperkirakan AS akan mencapai 500.000 kematian pada Februari.

"Tahun 1920 adalah terakhir kali penyakit menular menjadi penyebab utama kematian di AS," ujar Stephen Woolf, pakar kesehatan populasi dan profesor di Virginia Commonwealth University. "Dari generasi ke generasi, orang yang mempelajari kesehatan masyarakat telah diajarkan bahwa era itu sudah berlalu."

Woolf menambahkan, kini penyakit menular telah kembali menjadi penyebab kematian utama di AS.

"Kini warga AS lebih mungkin meninggal karena Covid-19 daripada karena penyakit jantung atau kanker," ungkap dia.

Sponsored

Terlebih lagi, skala kematian diperkirakan akan menurunkan angka harapan hidup warga AS lebih dari satu tahun, penurunan satu tahun terbesar dalam 40 tahun terakhir.

Menurut sebuah studi yang baru-baru ini diterbitkan di Proceedings of the National Academy of Sciences, beban kematian juga ditanggung secara tidak proporsional pada orang-orang kulit hitam dan Latin, yang mengalami tingkat kematian lebih tinggi dan akan kehilangan harapan hidup lebih dari dua tahun.

Studi itu menilai, kesenjangan harapan hidup antara kulit putih dan kulit hitam di AS diperkirakan akan melebar menjadi lebih dari lima tahun, peningkatan 40%.

Woolf dan pakar kesehatan masyarakat lainnya percaya tingkat fatalitas di AS adalah cerminan dari kegagalan mengendalikan pandemi menjelang lonjakan pada musim dingin, perjalanan selama liburan, dan kegagalan menerapkan protokol kesehatan masyarakat yang luas.

Pemerintahan Donald Trump telah menuai kecaman luas atas penanganannya terhadap pandemi Covid-19 setelah berulang kali gagal meluncurkan kebijakan nasional yang efektif membendung penyebaran virus.

Sekarang, percepatan kematian juga sebagian diperkirakan karena adanya varian baru Covid-19 yang lebih menular diyakini menyebar di sebagian besar negara bagian.

Strain virus, yang disebut B117, lebih mudah ditularkan dari orang ke orang. Varian tersebut diyakini tidak lebih mematikan.

Vaksin memiliki potensi untuk menghentikan pandemi secara dini melalui kampanye vaksinasi massal. Namun, upaya itu sejauh ini tidak berjalan mulus.

Lebih dari 31 juta dosis dari dua vaksin yang tersedia telah didistribusikan, tetapi hanya 12 juta orang yang baru menerima suntikan pertamanya.

Presiden terpilih, Joe Biden, berjanji memvaksinasi 100 juta orang dalam 100 hari pertamanya menjabat.

Menurut pakar penyakit menular terkemuka AS, Anthony Fauci, tujuan Biden dapat tercapai.

"Satu hal yang jelas, masalah mendapatkan dosis 100 juta dalam 100 hari pertama adalah hal yang bisa dilakukan," kata Fauci. (The Guardian)

Berita Lainnya