sun
moon
a l i n e a dot id
fakta data kata
logo alinea.id

Filipina mulai kampanye vaksinasi Covid-19

Kampanye vaksinasi di Filipina menghadapi sejumlah permasalahan seperti isu kurangnya pasokan vaksin hingga keengganan dari publik.

Valerie Dante
Valerie Dante Senin, 01 Mar 2021 18:08 WIB
Filipina mulai kampanye vaksinasi Covid-19
Informasi mutakhir perkembangan Covid-19 di Indonesia bisa dilihat di sini
Terinfeksi 1.341.314
Dirawat 153.074
Meninggal 36.325
Sembuh 1.151.915

Filipina memulai kampanye vaksinasi Covid-19 pada Senin (1/3). Namun, pemerintah dilaporkan menghadapi masalah terkait pasokan dan penolakan dari publik.

Pejabat kabinet, bersama dengan petugas kesehatan dan personel militer serta polisi, termasuk di antara yang pertama divaksinasi di enam rumah sakit di Metropolitan Manila.

Sebelumnya, pada Minggu (28/2), Presiden Rodrigo Duterte dan pejabat tinggi lainnya menerima 600.000 dosis vaksin Covid-19 yang disumbangkan China.

Di Philippine General Hospital yang dikelola negara di Manila, direktur rumah sakit, Gerardo Legaspi merupakan petugas kesehatan pertama ysng diinokulasi oleh seorang perawat dalam upacara yang disiarkan secara langsung via televisi, diikuti oleh pejabat kementerian kesehatan lainnya.

"Ayo divaksinasi, selamatkan nyawa setiap hari," kata Wali Kota Manila Isko Moreno dalam pidatonya di rumah sakit.

Isko menambahkan, mendapatkan vaksinasi dalam waktu sekitar seminggu setelah petugas kesehatan diimunisasi.

Filipina adalah salah satu negara Asia Tenggara terakhir yang menerima gelombang pertama vaksin karena penundaan pengiriman, meskipun telah melaporkan lebih dari 576.000 kasus positif Covid-19, termasuk 12.318 kematian, jumlah tertinggi kedua di Asia Tenggara setelah Indonesia.

Lockdown dan pembatasan sosial telah berdampak buruk bagi ekonomi Manila dalam salah satu resesi terburuk di wilayah tersebut dan memicu pengangguran dan kelaparan.

Sponsored

"Ekonomi kami benar-benar turun. Semakin cepat vaksinasi ini dilaksanakan, semakin baik," kata Duterte dalam konferensi pers yang disiarkan televisi pada Minggu malam setelah dia menyaksikan pengiriman vaksin sumbangan China.

Duterte mengatakan, sedang mempertimbangkan untuk lebih meringankan pembatasan karantina di ibu kota dan di tempat lain setelah kampanye vaksinasi mendapatkan momentum.

Dengan hanya 600.000 dosis tersedia untuk sekitar 300.000 orang untuk mendapatkan masing-masing dua dosis, vakinasi pada Senin dianggap sebagai langkah yang simbolis.

Selain vaksin sumbangan China dari Sinovac Biotech, pemerintah telah memesan 25 juta dosis secara terpisah dari perusahaan yang berbasis di China tersebut, tetapi belum ada tanggal pasti yang ditetapkan untuk pengiriman itu.

Menteri Kesehatan Francisco Duque III mengatakan, pengiriman 525.600 dosis awal vaksin AstraZeneca yang awalnya dijadwalkan pada Senin akan ditunda selama seminggu karena masalah pasokan.

Donasi vaksin dari China adalah sebagian kecil dari setidaknya 148 juta dosis yang telah dinegosiasikan pemerintah untuk diperoleh dari perusahaan Barat dan Asia untuk memvaksinasi sekitar 70 juta warganya Filipina secara gratis.

Sebagian besar pengiriman diharapkan tiba akhir tahun ini di tengah pergolakan global untuk vaksin Covid-19.

Pemerintahan Duterte mendapat kecaman karena dianggap tertinggal dari sebagian besar negara Asia Tenggara lainnya perihal mengamankan pasokan vaksin.

Namun, Duterte membantah kritik itu dengan mengatakan bahwa negara-negara Barat yang kaya telah memonopoli dosis vaskin secara besar-besaran untuk warganya, meninggalkan negara-negara miskin berebut sisanya.

Selain masalah pasokan, ada kekhawatiran atas keamanan vaksin yang digunakan, sebagian besar disebabkan oleh ketakutan terkait vaksin demam berdarah yang mendorong pemerintahan Duterte menghentikan upaya imunisasi besar-besaran pada 2017.

Ada juga kekhawatiran atas vaksin Sinovac karena tingkat kemanjurannya yang lebih rendah dibandingkan dengan vaksin lain yang dikembangkan di Barat dan Rusia.

Sumber : Channel News Asia

Berita Lainnya