logo alinea.id logo alinea.id

Gedung Putih minta opsi serangan terhadap Iran

Opsi serangan terhadap Iran mengemuka setelah sekelompok militan menembakkan mortir ke lokasi Kedubes AS di Baghdad, Irak.

Khairisa Ferida
Khairisa Ferida Senin, 14 Jan 2019 09:55 WIB
Gedung Putih minta opsi serangan terhadap Iran

Tim keamanan nasional Gedung Putih pada musim gugur lalu meminta Pentagon memberi pilihan untuk menyerang Iran setelah sekelompok militan yang bersekutu dengan Teheran menembakkan mortir ke sebuah area di Baghdad, Irak, yang menjadi tempat Kedutaan Amerika Serikat. 

Hal itu diungkap oleh sebuah sumber yang mengetahui isu tersebut.

Sumber yang sama mengatakan Pentagon menyusun beberapa pilihan untuk menanggapi permintaan itu. Kabar terkait hal ini pertama kali dilaporkan oleh Wall Street Journal dan berasal dari Dewan Keamanan Nasional Gedung Putih yang dipimpin John Bolton.

Dengan mengutip pernyataan dari pejabat AS yang masih bertugas dan yang sudah keluar, surat kabar itu melaporkan bahwa permintaan tersebut memicu kekhawatiran mendalam di antara pejabat di Pentagon dan Kementerian Luar Negeri.

Wall Street Journal juga melaporkan tidak jelas apakah opsi tersebut diberikan kepada Gedung Putih, apakah Presiden Donald Trump mengetahui permintaan itu atau apakah rencana matang untuk melancarkan serangan AS terhadap Iran mulai ditetapkan pada saat itu.

"Keputusan tersebut dipicu oleh tiga serangan mortir yang ditembakkan ke gedung diplomatik di Baghdad pada September," ungkap Wall Street Journal.

Serangan mortir tersebut mendarat di sebuah area terbuka dan tidak ada korban cedera.

Dua hari berikutnya, beberapa militan yang tidak diketahui identitasnya menembakkan tiga roket yang menghantam area di dekat konsulat AS di kota bagian selatan, Basra, tetapi tidak menimbulkan kerusakan parah.

Sponsored

Kementerian Luar Negeri tidak mengomentari laporan itu. Pentagon mengatakan pihaknya memberi presiden beberapa pilihan ancaman.

Juru bicara Dewan Keamanan Nasional Garrett Marquis mengatakan melakukan hal sama dan akan terus mempertimbangkan "berbagai opsi" setelah serangan itu. (Ant)