logo alinea.id logo alinea.id

Gelombang panas tewaskan hampir 1.500 orang di Prancis

Angka tersebut jauh lebih rendah dibandingkan jumlah korban tewas akibat gelombang panas pada Agustus 2003.

Valerie Dante
Valerie Dante Senin, 09 Sep 2019 16:39 WIB
Gelombang panas tewaskan hampir 1.500 orang di Prancis

Menteri Kesehatan Agnes Buzyn menyatakan bahwa dua gelombang panas yang melanda Prancis pada musim panas ini menewaskan sekitar 1.435 orang. Jumlah korban itu jauh lebih rendah dibandingkan dengan 15.000 orang yang tewas akibat gelombang panas pada Agustus 2003.

"Nyaris 1.500 kematian yang tercatat ... Jumlah itu 10 kali lebih rendah daripada korban tewas dalam gelombang panas pada 2003," kata Buzyn.

Gelombang panas pada 2019 melanda Prancis pada Juni dan Juli, dengan suhu tertinggi menyentuh 45,9 derajat Celcius yang tercatat pada 28 Juni.

Menurut Kementerian Kesehatan, 567 orang meninggal selama gelombang panas pertama yakni dari 24 Juni hingga 7 Juli. Lebih lanjut, 868 lainnya tewas selama gelombang kedua pada 21-27 Juli.

Populasi lansia sangat rentan. Kementerian Kesehatan Prancis menyatakan, 974 dari keseluruhan jumlah korban tewas akibat gelombang panas sudah melampaui usia 75 tahun.

Buzyn menjelaskan bahwa sementara gelombang panas pada 2003 berlangsung selama 20 hari secara keseluruhan, gelombang panas tahun ini hanya berlangsung selama 18 hari dan meliputi sebagian besar wilayah di Prancis.

Dia menambahkan, tindakan pencegahan yang diambil oleh pemerintah membantu menurunkan angka kematian. Selama musim panas, pemerintah menutup sejumlah sekolah dan membatalkan acara-acara publik.

Taman-taman besar dan kolam renang juga dibuka di beberapa kota untuk membantu orang mendinginkan diri. Otoritas di Paris menyediakan layanan telepon darurat dan mendirikan "kamar dingin" sementara di beberapa gedung di kota.

Sponsored

Prancis dan sebagian besar negara Eropa mengalami suhu yang memecahkan rekor pada musim panas ini. Para ahli khawatir gelombang panas seperti ini, didorong oleh kenaikan suhu yang disebabkan oleh emisi gas rumah kaca, akan menjadi hal yang normal bagi Benua Biru.

Mereka menilai sebagian besar negara Eropa tidak memiliki kemampuan untuk mengatasi panas ekstrem. Menurut laporan pada 2017, hanya kurang dari 5% dari seluruh rumah di Eropa yang dilengkapi AC. (The Guardian, BBC dan CNN)