logo alinea.id logo alinea.id

Hadapi China, Duterte siap perintah pasukannya untuk misi bunuh diri

Presiden Filipina memperingatkan Beijing untuk mundur dari Pagasa atau Thitu, yang disengketakan di Laut China Selatan.

Khairisa Ferida
Khairisa Ferida Jumat, 05 Apr 2019 14:14 WIB
Hadapi China, Duterte siap perintah pasukannya untuk misi bunuh diri

Presiden Filipina Rodrigo Duterte memperingatkan Beijing untuk mundur dari pulau yang disengketakan di Laut China Selatan. Dia mengatakan akan mengerahkan tentara ke sana jika Tiongkok menyentuh pulau itu.

Selama ini, Duterte dinilai menahan kritik atas klaim Beijing yang meluas di Laut China Selatan, sebuah titik pertikaian regional yang dilewati barang dagangan bernilai lebih dari US$3,4 triliun setiap tahunnya.

Tetapi ketika dalam minggu ini muncul laporan bahwa ratusan penjaga pantai dan kapal penangkap ikan China telah "berkerumun" di dekat Pulau Thitu, Duterte pun buka suara pada Kamis (4/4) malam.

"Saya tidak akan membela diri atau memohon, tetapi saya hanya memberitahu Anda untuk mundur dari Pagasa karena saya punya pasukan di sana. Jika Anda menyentuhnya, maka ceritanya akan lain. Saya akan perintahkan pasukan saya untuk bersiap melakukan misi bunuh diri," kata Duterte yang menyebut nama lokal untuk Pulau Thitu.

Duterte berulang kali mengatakan bahwa perang dengan China akan sia-sia dan Filipina akan kalah dan sangat menderita.

Sebelumnya, Kementerian Luar Negeri Filipina menyebut keberadaan lebih dari 200 kapal Tiongkok di dekat Pulau Thitu ilegal.

China, Filipina, Brunei Darussalam, Malaysia, Taiwan, dan Vietnam saling berebut klaim di Laut China Selatan yang diperkirakan kaya sumber daya alam. 

Pada 2016, tepatnya di awal kepresidenan Duterte, Filipina meraih kemenangan besar setelah Mahkamah Arbitrase di Den Haag, Belanda menetapkan, China tidak memiliki bukti sejarah terkait kekuasaan atas perairan Laut Cina Selatan, yang diperebutkan kedua negara.

Sponsored

Kendati demikian, Duterte menghadapi kritik di dalam negeri karena mengejar hubungan yang lebih hangat dengan China sejak mulai menjabat dengan imbalan miliaran dolar dari pinjaman dan investasi yang dijanjikan.

"Kehadiran kapal pukal di dekat Pulau Thitu menimbulkan pertanyaan tentang maksud dan peran mereka dalam mendukung tujuan pemaksaan," kata Kementerian Luar Negeri Filipina beberapa hari setelah mereka mengajukan protes diplomatik ke China.

Di Beijing, juru bicara Kementerian Luar Negeri Geng Shuang menuturkan bahwa pembicaraan bilateral di Laut China Selatan yang diadakan di Filipina pada Rabu (3/4) berlangsung dengan jujur, bersahabat, dan konstruktif.

"Kedua belah pihak menegaskan bahwa masalah Laut China Selatan harus diselesaikan secara damai oleh pihak-pihak yang terlibat langsung," kata Geng Shuang.

Menurut militer Filipina, mereka telah memantau kapal-kapal China ini dari Januari hingga Maret tahun ini.

"Dicurigai mereka adalah milisi laut," kata Kapten Jason Ramon, juru bicara Komando Armada Barat Filipina. "Ada kalanya mereka hanya di sana tanpa memancing. Kadang-kadang, mereka tidak melakukan apa-apa."

Amerika Serikat, sekutu lama Filipina dan mantan penguasa kolonial, telah bergerak untuk menentang ekspansi Cina di laut. 

Untuk pertama kalinya, AS melalui Wakil Presiden Mike Pence pada Maret lalu menyakinkan Filipina bahwa mereka akan membela jika terjadi serangan bersenjata di Laut China Selatan.

Angkatan Laut AS juga menegaskan haknya atas kebebasan navigasi di daerah itu, berulang kali mereka telah berlayar dekat dengan pulau-pulau buatan dan memicu protes China. (The Guardian dan South China Morning Post)