logo alinea.id logo alinea.id

Hong Kong bersiap hadapi protes lanjutan

Sejumlah pengunjuk rasa berencana untuk mengganggu jaringan transportasi ke Bandara Internasional Hong Kong pada Sabtu (7/9).

Valerie Dante
Valerie Dante Jumat, 06 Sep 2019 14:53 WIB
Hong Kong bersiap hadapi protes lanjutan

Hong Kong bersiap menghadapi demonstrasi lanjutan pada akhir pekan ini. Pengunjuk rasa mengancam akan mengganggu jaringan transportasi menuju Bandara Internasional Hong Kong.

Demonstrasi lanjutan akan berlangsung meski Kepala Eksekutif Hong Kong Carrie Lam telah secara resmi menarik RUU ekstradisi untuk menenangkan gejolak gerakan pro-demokrasi di kota itu.

Kanselir Jerman Angela Merkel membahas persoalan Hong Kong saat bertatap muka dengan Perdana Menteri China Li Keqiang di Beijing pada Jumat (6/9). Merkel menekankan bahwa solusi damai diperlukan untuk meredakan situasi di Hong Kong.

"Saya menegaskan bahwa hak dan kebebasan perlu diberikan kepada warga Hong Kong," kata Merkel. "Situasi kekerasan saat ini harus dicegah. Hanya dialog yang dapat membantu."

Dia menyatakan, ada tanda-tanda bahwa Lam akan mengundang demonstran untuk berdialog.

"Saya berharap itu terwujud dan para pengunjuk rasa memiliki kesempatan untuk berpartisipasi dalam kerangka hak warga negara," ujar dia.

Menanggapi Merkel, Li mengatakan bahwa pemerintah Tiongkok menegakkan formula "Satu Negara, Dua Sistem" dan independensi Hong Kong.

"Beijing mendukung pemerintah Hong Kong untuk mengakhiri kekerasan dan kekacauan sesuai dengan hukum, serta kembali ke ketertiban untuk menjaga stabilitas jangka panjang kota tersebut," ungkap dia.

Sponsored

Sejumlah pengunjuk rasa berencana untuk mengganggu jaringan transportasi ke Bandara Internasional Hong Kong pada Sabtu (7/9). Para demonstran berjanji untuk terus berjuang meskipun RUU ekstradisi telah ditarik, mereka menilai pemerintah terlambat mengambil langkah itu.

Beberapa aktivis dan kelompok pro-demokrasi mengatakan mereka akan tetap memperjuangkan empat tuntutan utama lainnya pada demonstrasi akhir pekan yang direncanakan dimulai pada Jumat malam. Unjuk rasa rencananya akan digelar di sejumlah tempat seperti stasiun MTR dan di sekitar kantor-kantor pemerintah.

Protes pecah di Hong Kong pada pertengahan Juni akibat RUU ekstradisi yang akan memungkinkan tersangka diadili di China daratan.

Pihak berwenang menyatakan bahwa kekacauan yang terjadi telah membebani ekonomi Hong Kong yang kini berada di ambang resesi pertama mereka dalam satu dekade terakhir.

Pada Jumat, lembaga pemeringkat, Fitch, menurunkan peringkat kepercayaan terhadap Hong Kong dengan alasan adanya kerusuhan yang terus berlanjut di pusat keuangan Asia itu.

Banyak pengunjuk rasa yang marah karena Lam menolak untuk mengadakan penyelidikan independen terhadap dugaan kebrutalan polisi dalam menangani demonstrasi.

Dalam bentrokan yang kerap terjadi, polisi telah menembakkan gas air mata, peluru karet dan meriam air kepada para demonstran. Pengunjuk rasa membalas dengan melemparkan molotov dan batu bata.

Selain penyelidikan independen, demonstran menuntut pemerintah berhenti menggunakan kata "kerusuhan" untuk mendeskripsikan aksi unjuk rasa, pembebasan semua pemrotes yang ditangkap dan memberikan warga Hong Kong kebebasan untuk memilih pemimpin mereka sendiri.

Banyak warga Hong Kong khawatir China sedang berupaya mengikis otonomi yang melekat pada kota itu ketika diserahkan kembali ke Beijing pada 1997. China menyangkal tuduhan ikut campur dan mengatakan bahwa Hong Kong merupakan urusan internal. Mereka mengecam serangkaian protes dan memperingatkan bahwa gerakan pro-demokrasi dapat merusak ekonomi kota tersebut.

Isu terkait tindakan China di Hong Kong dilaporkan akan menjadi prioritas pembahasan Senat AS setelah reses pekan depan.

Sumber : Reuters