logo alinea.id logo alinea.id

Hong Kong pascademo akhir pekan: Sejumlah stasiun MTR lumpuh

Stasiun yang ditutup sementara termasuk yang berada di kawasan sibuk seperti Admiralty dan Wan Chai. 

Khairisa Ferida
Khairisa Ferida Senin, 07 Okt 2019 10:24 WIB
Hong Kong pascademo akhir pekan: Sejumlah stasiun MTR lumpuh

Hong Kong berusaha memulihkan diri pada Senin (7/10) usai bentrokan antara pengunjuk rasa antipemerintah dan polisi pada Minggu (6/10). Operator kereta api bawah tanah, MTR Corp, mengatakan bahwa sebagian besar stasiun masih ditutup karena mengalami kerusakan serius.

Stasiun yang ditutup sementara termasuk yang berada di kawasan sibuk seperti Admiralty dan Wan Chai. 

Sementara itu, hari ini, MTR akan menutup jaringan transportasi pada 18.00, empat jam lebih awal dari biasanya, untuk melakukan perbaikan.

Sejumlah toko grosir yang tutup lebih awal pada Minggu (6/10) sebagian besar sudah beroperasi pada Senin pagi.

Puluhan ribu pemrotes melakukan aksi unjuk rasa damai pada Minggu, menyembunyikan muka mereka dengan masker dan topeng, menentang UU darurat yang disahkan pemerintah pada Jumat (4/10). 

Mereka terancam menghadapi hukuman maksimal satu tahun penjara jika melanggar larangan memakai masker dalam demonstrasi yang tidak diizinkan pihak berwenang.

Demonstrasi berubah menjadi bentrokan saat malam tiba. Polisi menembakkan air mata dan menggunakan pentungan untuk membubarkan massa di sejumlah lokasi di Hong Kong. Pengunjuk rasa membalas dengan melemparkan batu bata dan bom molotov ke arah petugas keamanan.

Pengunjuk rasa meneriakkan, "Fight for freedom, stand with Hong Kong". Para pemrotes pun membagikan masker, mendorong orang-orang menentang hukum baru.

Sponsored

Ketika hari semakin larut, demonstran mulai menargetkan sejumlah stasiun MTR dan bank-bank China. Mereka membakar stasiun MTR Mong Kok, dan menuliskan grafiti yang berbunyi, "If we burn, you burn with us".

Protes lanjutan direncanakan akan berlangsung di sejumlah distrik pada Senin malam waktu setempat.

Polisi melakukan penangkapan pertama mereka di bawah UU baru itu, menahan sejumlah demonstran. Petugas mengikat pergelangan tangan mereka dan membuka penutup wajah yang digunakan pengunjuk rasa.

Seorang demonstran yang menggunakan masker, Lee, mengatakan bahwa UU antimasker hanya memicu kemarahan warga Hong Kong. Dia menyebut, lebih banyak orang akan turun ke jalan untuk menentang hukum baru itu.

"Kami tidak takut dengan UU baru, kami akan terus berjuang. Kami akan berjuang untuk membela kebenaran. Saya memakai masker untuk memberi tahu pemerintah bahwa saya tidak takut akan tirani," tegas dia.

Hanya beberapa jam setelah Kepala Eksekutif Hong Kong Carrie Lam mengumumkan Ordonansi Peraturan Darurat pada Jumat, para pemrotes yang menggunakan masker membanjiri jalanan. Mereka membakar stasiun MTR, menghancurkan bank-bank China dan bentrok dengan polisi.

Kontak pertama dengan PLA

Tentara Pembebasan Rakyat China (PLA) memberi peringatan kepada demonstran yang menembak laser ke arah dinding barak mereka. Itu merupakan interaksi langsung pertama militer China dengan demonstran dalam protes antipemerintah yang sudah berlangsung sejak Juni.

Garnisun PLA di Distrik Kowloon memperingatkan beberapa ratus pemrotes bahwa mereka dapat ditangkap karena menembakkan laser ke dinding barak dan pasukannya.

Seorang prajurit PLA berteriak melalui pengeras suara, mengatakan bahwa para demonstran akan menanggung risiko dari tindakan mereka.

Personel PLA yang berdiri di atap Barak Osborn mengacungkan papan bertuliskan, "Warning. You are in breach of the law. You may be prosecuted".

Sejumlah pasukan menyoroti kerumunan dengan lampu tembak dan menggunakan kamera untuk memantau pergerakan pengunjuk rasa. Seiring waktu, para pengunjuk rasa yang berkumpul di sekitar barak akhirnya membubarkan diri.

Pada Agustus, ribuan tentara PLA melintasi perbatasan ke Hong Kong dalam sebuah operasi yang disebut Beijing sebagai rotasi rutin. PLA tetap berada di dalam barak mereka sejak protes pecah empat bulan lalu, membiarkan polisi Hong Kong mengurusi unjuk rasa di kota itu.

Sebelumnya, sejumlah petinggi PLA telah menyatakan bahwa mereka mengecam kekerasan yang terjadi di Hong Kong.

Serangkaian protes di Hong Kong telah menjerumuskan kota itu ke dalam krisis politik terburuknya dalam beberapa dekade terakhir.

Aksi unjuk rasa awalnya merupakan penentangan terhadap RUU ekstradisi yang kini sudah ditarik secara resmi oleh pemerintah. Belakangan, protes berkembang menjadi gerakan luas untuk menuntut reformasi demokrasi di Hong Kong.

Demonstran mengecam China, menuduhnya berupaya memperkuat pengaruh di Hong Kong. Beijing menolak tuduhan itu dan menyatakan bahwa pemerintah asing, termasuk Amerika Serikat dan Inggris, sebagai pihak yang telah mengobarkan api kerusuhan.

Sumber : Reuters