sun
moon
logo alinea.id logo alinea.id

Hong Kong pascarusuh terbaru: 260 orang ditangkap

Hong Kong mengalam peningkatan kekerasan yang nyata pada Senin (11/11).

Khairisa Ferida
Khairisa Ferida Selasa, 12 Nov 2019 12:45 WIB
Hong Kong pascarusuh terbaru: 260 orang ditangkap
Informasi mutakhir perkembangan Covid-19 di Indonesia bisa dilihat di sini
Terinfeksi 2273
Dirawat 1911
Meninggal 198
Sembuh 164

Polisi antihuru-hara Hong Kong menembakkan gas air mata di sejumlah kampus pada Selasa (12/11) pagi untuk membubarkan mahasiswa. Sementara warga di kota itu berjuang atas kepentingan mereka, gangguan transportasi terjadi di seluruh wilayah dan para aktivis masih merencanakan aksi.

Sejumlah jalan ditutup pada Selasa pagi dan kemacetan panjang tidak terhindarkan. Pada Senin (11/11), Hong Kong mengalam peningkatan kekerasan yang nyata.

Seorang aktivis ditembak dengan peluru tajam oleh polisi. Dalam kasus berbeda, seorang lainnya dibakar oleh pengunjuk rasa antipemerintah. Keduanya dilaporkan berada dalam kondisi kritis.

Lebih dari 100 orang dilaporkan terluka dalam kekerasan yang terjadi pada Senin. Bentrokan pemrotes dengan polisi berlanjut hingga Selasa dini hari.

Polisi antihuru-hara dikerahkan ke stasiun-stasiun metro di seluruh Hong Kong, sementara operator kereta MTR Corp meminta penumpang untuk mencari opsi lain.

"Sangat tidak nyaman bagi saya karena saya memiliki beberapa janji di Central," kata seorang pria berusia berusia 38 tahun bernama Rodyney yang bekerja sebagai konsultan hukum untuk sebuah perusahaan internasional.

Rodney menambahkan, "Semoga mitra saya dapat memahami bahwa kota saya sedang mengalami masa sulit."

Dia menyalahkan Kepala Eksekutif Hong Kong atas protes yang berkecamuk di kota bekas koloni Inggris tersebut.

Sponsored

Para pengunjuk rasa mendesak orang-orang untuk berkumpul di Distrik Central dan kawasan wisata Kowloon serta area perbelanjaan Tsim Sha Tsui pada siang hari. Di distrik yang sama pada Senin, polisi menembakkan gas air mata di mana sejumlah pengunjuk rasa berjongkok di balik payung, memblokir jalan-jalan selama jam makan siang.

"Lebih dari 260 orang ditangkap pada Senin sehingga jumlah total (orang yang ditangkap) menjadi lebih dari 3.000 sejak protes meningkat pada Juni," kata polisi.

Kekacauan juga merembet ke dunia pendidikan dengan universitas dan sekolah-sekolah membatalkan kelas. Praktik belajar-mengajar masih mandek hingga hari ini karena alasan keselamatan setelah para pemrotes menyerukan untuk melancarkan gangguan lalu lintas.

Lam pada Senin menyatakan bahwa para pemrotes yang mencoba melumpuhkan kota itu sangat egois. Dia meminta pihak kampus dan sekolah untuk mendesak siswa tidak ambil bagian dalam demonstrasi.

Kekerasan di Hong Kong, kata Lam, telah melampaui tuntutan para demonstran untuk demokrasi. Menurutnya, para pengunjuk rasa sekarang telah menjadi musuh rakyat.

Para demonstran marah atas apa yang mereka sebut sebagai campur tangan Beijing atas kebebasan Hong Kong yang dijamin di bawah formula "Satu Negara, Dua Sistem" yang diterapkan ketika kota itu dikembalikan ke China pada 1997.

China membantah tuduhan tersebut dan menyalahkan Barat, termasuk Inggris dan Amerika Serikat, sebagai biang kerok kekacauan di Hong Kong.

Washington mengutuk penggunaan kekuatan mematikan yang tidak dibenarkan dalam kekerasan terbaru, mendesak polisi dan warga mengurangi eskalasi krisis.

Juru bicara Kementerian Dalam Negeri AS Morgan Ortagus juga mendesak China untuk menghormati prinsip "Satu Negara, Dua Sistem".

Editorial di surat kabar China Daily mengutuk kekerasan pada Senin. Mereka menyoroti kemurahan hati hakim di Hong Kong.

"Mengizinkan (pengunjuk rasa) untuk mengajukan jaminan dengan persyaratan yang mudah dan menjatuhkan hukuman yang sangat ringan juga membantu mendorong tindakan teroris yang tidak manusiawi," sebut editorial itu. (Reuters dan BBC)

Berita Lainnya