sun
moon
logo alinea.id logo alinea.id

Hong Kong sambut tahun baru dengan serangkaian demo

Pada Senin (30/12) malam, unjuk rasa direncanakan juga akan digelar di kawasan pusat bisnis Hong Kong.

Khairisa Ferida
Khairisa Ferida Senin, 30 Des 2019 15:54 WIB
Hong Kong sambut tahun baru dengan serangkaian demo

Hong Kong akan menutup 2019 dan mengawali 2020 dengan sejumlah protes antipemerintah. Aksi bertajuk "Suck the Eve" dan "Shop with you" dijadwalkan berlangsung pada Selasa (31/12) di sekitar kota, termasuk di Distrik Lan Kwai Fong, Victoria Harbour, dan sejumlah pusat perbelanjaan populer.

Pihak penyelenggara, Front Hak Asasi Manusia Sipil, menyatakan bahwa demonstrasi pada Rabu (1/1), telah mengantongi izin polisi dan akan dimulai dari taman di Causeway Bay sebelum berakhir di kawasan pusat bisnis.

Kelompok yang sama telah beberapa kali menyelenggarakan unjuk rasa besar-besaran, yang terakhir adalah pada awal Desember, di mana aksi diperkirakan diikuti oleh 800.000 orang.

"Kita perlu menunjukkan solidaritas kita pada hari pertama di tahun baru ... untuk menentang pemerintah. Kami berharap masyarakat Hong Kong akan turun ke jalan demi masa depan kota ini," kata Jimmy Sham, pemimpin Front Hak Asasi Manusia Sipil.

Protes dalam suasana tahun baru tersebut terjadi setelah bentrokan antara pemrotes dan polisi pecah pada malam Natal.

Pada Senin (30/12) malam, unjuk rasa direncanakan juga akan digelar di kawasan pusat bisnis. Para demonstran akan mengenang rekan-rekan mereka yang meninggal atau terluka selama aksi menentang pemerintah berlangsung.

Menurut Otoritas Rumah Sakit Hong Kong, lebih dari 2.000 pengunjuk rasa terluka sejak unjuk rasa berlangsung pada Juni. Namun, tidak ada jumlah resmi menyangkut dengan kematian.

Disebutkan, ada banyak bunuh diri yang dikaitkan dengan aksi protes antipemerintah.

Sponsored

Sementara itu, polisi dilaporkan menangkap sejumlah demonstran selama akhir pekan dan menggunakan semprotan merica untuk membubarkan sebuah pertemuan di dekat perbatasan dengan China daratan. Lebih dari 6.000 pemrotes telah ditangkap sejak unjuk rasa dimulai.

Pada Minggu (29/12), lebih dari 1.000 orang pengunjuk rasa berkumpul di kawasan pusat bisnis Hong Kong. Di tengah hujan, mereka meneriakkan slogan-slogan demokrasi.

Protes, yang semula ditujukan untuk menentang RUU ekstradisi, telah berkembang menjadi gerakan prodemokrasi. RUU yang telah sepenuhnya ditarik tersebut dipandang sebagai contoh terbaru campur tangan Beijing dalam kebebasan yang dijanjikan bagi Hong Kong ketika Inggris mengembalikan kota itu ke China pada 1997.

China menyangkal klaim tersebut dan menegaskan bahwa pihaknya berkomitmen pada formula "Satu Negara, Dua Sistem". Beijing pun menyalahkan kekuatan asing, termasuk Inggris dan Amerika Serikat, sebagai pemicu kerusuhan di Hong Kong.

Demonstrasi selama berbulan-bulan yang kerap diwarnai kekerasan telah menghancurkan ekonomi Hong Kong, yang sudah terguncang akibat perang dagang AS-China.

Sekretaris Keuangan Hong Kong Paul Chan pada Minggu mengatakan bahwa penurunan PDB pada kuartal keempat tidak dapat dihindari.

Untuk meringankan kesusahan tersebut, Chan menuturkan, anggaran pemerintah pada Februari akan fokus pada peningkatan ekonomi, perlindungan pengangguran dan mengurangi penderitaan rakyat serta perusahaan.

Sumber : Reuters

Berita Lainnya