sun
moon
a l i n e a dot id
fakta data kata
logo alinea.id

Horor di Deir Yassin dan lenyapnya tanah Palestina

Kekejian milisi Yahudi di Deir Yassin memicu gelombang eksodus warga Palestina.

Christian D Simbolon
Christian D Simbolon Minggu, 30 Mei 2021 13:52 WIB
Horor di Deir Yassin dan lenyapnya tanah Palestina

Di tengah deru suara guntur dan kilatan petir, Ghada Karmi, 9 tahun, terbangun dari tidurnya. Di kamar kecil itu, orang tua Karmi bersama para pembantu keluarga Karmi ternyata telah berkumpul. Di balik jendela, langit berwarna oranye. 

"Apakah itu matahari? Apakah sekarang sudah pagi?" tanya Karmi kepada orang tuanya seperti dikutip dari memoir "In Search of Fatima: A Palestinian Story" yang terbit pada 2009. 

Saat itu lepas tengah malam. Namun, tak ada yang menjawab pertanyaan Karmi. Bersandar pada dinding, ayah Karmi duduk dalam diam. Berimpit di sebelahnya, Fatima, pembantu keluarga Karmi. Ia terdengar tengah melafalkan ayat Al Quran. 

Karmi mendengar ibunya berbisik sebelum sebuah dentuman keras terdengar. Rumah keluarga Karmi di kawasan Qatamon, Jerusalem Barat itu bergetar. "Aku tahu aku merasa takut. Lebih takut dari apa pun sebelumnya," tutur Karmi. 

Saat matahari terbit, kabar horor itu tiba. Bom meledak di Hotel Semiramis, sebuah hotel milik warga Palestina keturunan Yunani.  Hotel itu terletak tepat di sebuah jalan di belakang kediaman keluarga Karmi. Ketika ledakan terjadi, hotel tengah terisi penuh. 

Haganah, organisasi paramiliter Yahudi terbesar ketika itu dikabarkan bertanggung jawab dalam pengeboman itu. Mereka mengira hotel itu tempat berkumpul pejuang-pejuang Arab. "Mereka menyebutnya ranjang panas orang-orang Arab bersenjata," kenang Karmi. 

Itu bukan teror pertama dan terakhir yang dirasakan keluarga Karmi dan warga Palestina di lingkungan Qatamon. Pada akhir Januari 1948, sebuah vila di pinggiran Qatamon dibom Haganah. Villa itu dituding kaum Zionis dijadikan tempat persembunyian penembak jitu pejuang Arab. 

Karena serangan-serangan itu, satu per satu penghuni Qatamon mulai mengungsi. Banyak kenalan keluarga Karmi juga menyingkir dari kawasan tersebut. Qatamon pun bak kota mati. "Ya, Tuhan. Mereka bilang orang-orang Yahudi kini tinggal di rumah-rumah kosong itu," kata ibu Karmi. 

Sponsored

Pada suatu hari di bulan Maret 1948, keluarga Karmi akhirnya menyerah. Tak lama setelah mendengar pembantaian warga Palestina di Desa Deir Yassin, mereka mengepak koper dan mengungsi ke Damaskus, Suriah.  Tak banyak barang yang mereka bawa. 

"Kita bisa tinggal sementara sampai situasinya tenang. Itu pikiran orang tua saya. Kami meninggalkan semuanya karena kami pikir kami akan kembali," kata Karmi. 

Sebulan setelah mereka meninggalkan Jerusalem, sebuah negara baru berdiri di tanah Palestina. Kelak, negara baru  itu punya nama resmi Israel. Rumah Karmi dan rumah jutaan warga Palestina lainnya tiba-tiba berdiri di negara Yahudi itu. 

Sebagaimana dikisahkan Karmi dalam memoirnya, dari Damaskus, mereka kemudian pindah ke London, Inggris, setelah sang ayah memeroleh pekerjaan di sana. Di negara bekas pemegang mandat Palestina itu, Karmi tumbuh dewasa, kuliah, dan menikah. 

Meski begitu, Karmi tak pernah melupakan Palestina. Ia terutama selalu terkenang pada Fatima. Kelak, Karmi berulang kali menjelajahi Israel untuk mencari Fatima. Namun, Karmi tak pernah bertemu lagi dengan sosok yang telah ia anggap sebagai ibu keduanya itu.

Pada 2015, dalam sebuah wawancara tak lama setelah ia mengunjungi bekas rumahnya Qatamon yang kini telah berubah menjadi apartemen dua lantai, Karmi menceritakan perasaannya sebagai orang yang terasingkan karena kehilangan tanah air. 

"Kami semua mati. Orang-orang yang hidup pada masa itu mati. Fatima mati. Ini perasaan yang janggal, perasaan seperti punah. Rasanya kami telah dihabisi atau dihapus oleh kekuatan yang tidak mampu kami hadapi," kata Karmi. 

Ledakan bom meluluhlantakkan Hotel Raja Daud di Yerusalem pada 1948. /Foto Wikimedia Commons

Horor di Deir Yassin 

Keluarga Karmi, sebagaimana mayoritas warga Palestina ketika itu, mulai mengungsi setelah mendengar pembantaian di Deir Yassin pada 9 April 1948. Berlokasi di jalur utama antara Tel Aviv dan Yerusalem, Deir Yassin terkenal sebagai desa yang netral dalam konflik antara milisi Palestina dan Israel. 

Operasi pembersihan Deir Yassin dinisiasi milisi Irgun dan Lehi (Stern Gang) dan disetujui Haganah. Meskipun sempat menolak, komandan Haganah David Shaltiel akhirnya memberikan lampu hijau kepada paramiliter Irgun dan Lehi. 

Pada hari nahas itu, sekitar 120-130 personel diterjunkan untuk menyerbu Deir Yassin. Bersenjatakan senapan berburu, sejumlah warga desa berusaha melawan. Upaya itu sia-sia.  Jelang siang, Deir Yassin hampir takluk. 

Dalam laporan tertulis ke komandan Haganah, Meir Pa'el, salah seorang perwira muda yang diterjunkan untuk memata-matai operasi Deir Yasin mengatakan, pertempuran antara warga dan pasukan paramiliter berakhir pada petang hari. Saat itu, pasukan Irgun dan Stern Gang mulai memasuki rumah-rumah warga. 

"Mereka melemparkan granat ke dalam rumah. Mereka memberondong siapa pun yang mereka lihat di dalam rumah, tak terkecuali perempuan dan anak-anak. Pemimpin pasukan sama sekali tak berusaha menghentikan aksi pembantaian menjijikkan itu," kata Pa'el. 

Rombongan pengungsi Palestina tengah berjalan keluar dari kawasan Galilea pada 1948. /Foto Wikimedia Commons

Fahimi Zeidan, ketika itu masih 12 tahun, masih mengingat kengerian pembantaian di Deir Yassin. Ketika milisi Israel merangsek masuk ke dalam desa, ia tengah bersembunyi di rumahnya bersama ibu dan dua saudaranya. Ia mendengar suara pintu didobrak. Sejumlah pria bersenjata menemukan mereka dan membawa mereka ke luar rumah. 

Di luar, ia menyaksikan seorang pria yang sudah terluka parah dibedil. Ketika salah satu anak perempuannya berteriak histeris menyaksikan ayahnya meregang nyawa, menurut Zeidan, milisi Israel lantas memberondongnya pula. 

"Lalu mereka memanggil saudara saya, Mahmoud, dan menembaknya di hadapan kami. Ketika ibu saya berteriak dan membungkuk di depan jenazahnya, ia juga ditembak. Ibu saya menggendong adik perempuan saya yang masih bayi," kata Zeidan sebagaimana dikutip dari "The 1948 Massacre at Deir Yassin Revisited" yang ditulis Matthew Hogan. 

Kekejian milisi Irgun dan Stern Gang beragam di Deir Yassin. Hasil investigasi pemerintah Inggris menemukan bahwa milisi Israel menghancurkan rumah-rumah warga, menjarah isinya, dan memerkosa sejumlah perempuan di desa itu. 

Eliyahu Arbel, perwira operasi Haganah, yang menginspeksi Deir Yassin sehari setelah pembantaian itu mengaku kaget menyaksikan kekejian milisi Irgun dan Stern Gang. "Baru kali itu saya melihat pemandangan seperti Deir Yassin. Jenazah perempuan dan anak-anak menumpuk di mana-mana," kata dia. 

Korban tewas dalam pembantaian di Deir Yassin diperkirakan sekitar 110-140 orang. Akan tetapi, dalam pernyataan pers setelah pembantaian tersebut, Ranaan, salah seorang komandan militer Irgun, menyebut ada 254 warga Deir Yassin yang tewas. 

Kelak, Ranaan mengaku sengaja mendramatisasi horor di Deir Yassin dan memperbesar jumlah warga yang mati. "Saya bilang kepada para pewarta ada 254 yang mati supaya angka yang besar itu dipublikasikan. Itu supaya orang-orang Arab di seluruh negeri panik," kata dia. 

Dalam Thirteen Days in September, The Dramatic Story of The Struggle For Peace, Lawrence Wright mengatakan, operasi Deir Yassin diapresiasi setinggi langit oleh bos Irgun, Menachem Begin. Pria yang kemudian jadi perdana menteri Israel itu bahkan menginstruksikan agar pasukannya menyerbu desa-desa lainnya. 

"Bilang kepada para prajurit: kalian telah mencetak sejarah dengan serangan dan penaklukan itu. Lanjutkan hingga kemenangan. Seperti di Deir Yassin, begitu pula di tempat-tempat lain, kita akan menghancurkan musuh Israel," kata Begin dalam sebuah pesan tertulis kepada komandan Irgun. 

Pada 20 April 1948, militer Israel kembali menyerang. Kali itu, desa Zir'in jadi target. Saat menyerbu desa, geng militer Zionis terdengar berteriak, "Kadima, kadima (Pergilah, pergilah). Deir Yassin! Deir Yassin!"

Pada 1955, Al Urdin, sebuah harian di Yordania mempublikasi sebuah artikel hasil wawancara dengan para penyintas pembantaian Deir Yassin. Menurut Al Urdin, gerilyawan Palestina turut menyebarluaskan horor di Deir Yassin dengan harapan bangsa Palestina ikut turun angkat senjata. 

Propaganda itu malah jadi bumerang. Alih-alih membangkitkan kemarahan bangsa Palestina, horor Deir Yassin membuat mayoritas warga Palestina ketakutan. Desa-desa ditinggalkan tanpa perlawanan. Eksodus besar-besaran pun lahir. Kamp-kamp pengungsian terbentuk di Gaza dan sejumlah lokasi. 

Kompleks Al-Haram Asy-Syarif tempat berdirinya Dome of The Rock atau Kubah Batu di Yerusalem. /Foto Pixabay

Realisasi Plan Dalet 

Dalam buku Arab Attitude To Israel yang terbit pada 1972, Yehoshafat Harkabi mengatakan, pembantaian di Deir Yassin dan serangan-serangan terhadap desa-desa Palestina oleh militer Israel merupakan bagian dari pelaksanaan Plan Dalet. 

Menurut dokumen sejarah resmi Haganah, rencana itu disusun oleh komandan pasukan Haganah di Tel Aviv, Elimelech Slikowitz (Avnir) sejak 1937.  Avnir menyusun rencana penaklukan Palestina atas perintah bos Haganah, Ben Gurion.

"Plan Dalet menjadi panduan untuk menaklukkan kota-kota dan desa-desa  Palestina di dalam dan di perbatasan-perbatasan area yang dialokasikan untuk jadi wilayah negara Israel sebagaimana skema pembagian wilayah yang disusun PBB," tulis Harkabi. 

Sejarawan Walid Khalidi mengatakan Plan Dalet--termasuk di antaranya pengusiran sistematis terhadap bangsa Palestina--tercipta karena kebutuhan. Kaum Zionis ketika itu memerlukan lahan yang subur untuk mengakomodasi kedatangan imigran-imigran Israel dari seluruh dunia. 

Dalam skema pembagian lahan PBB pada 1947, Israel direncanakan bakal mendapatkan 56% tanah di Palestina. Namun, sebagian besar lahan yang bakal dianugerahkan kepada kaum Zionis berada di Gurun Negev. Ketika itu, kawasan tersebut tidak bisa dijadikan lahan pertanian dan tidak cocok dikembangkan untuk jadi permukiman. 

Infografik Alinea.id/Oky Diaz

Plan Dalet, kata Khalidi, juga dimaksudkan sebagai skenario untuk mempertahankan wilayah Israel dari kemungkinan invasi Arab setelah Inggris resmi hengkang pada 15 Mei 1948. Dalam skenario itu, Israel butuh basis-basis militer yang bersih dari desa-desa yang dihuni warga Palestina untuk mencegah infilitrasi musuh.  

Upaya mengusir warga Palestina itu sebelumnya dilakukan lewat pengeboman ke area permukiman dan serangan bertubi-tubi ke sejumlah desa Palestina pada periode Desember 1947 hingga Maret 1948. Namun, warga Palestina tetap bertahan. 

"Hingga 1 Maret, tak satu desa pun yang dikosongkan warganya. Jumlah warga Palestina yang mengungsi di kota-kota pun beragam dan cenderung tak signifikan. Situasinya seolah orang-orang Arab bakal tetap bertahan di area-area yang jadi wilayah Israel," tulis Khalidi dalam "Plan Dalet: Plan for The Conquest of Palestine".

Dalam kajiannya, Khalidi turut menyertakan terjemahan dari teks Plan Dalet yang diambil dari History of Haganah karya Selfet Todot Hahaganah.  Di Plan Dalet, "pembumihangusan" desa-desa Palestina termasuk dalam strategi konsolidasi sistem pertahanan dan  barikade. 

Secara khusus, personel militer Israel ditugasi untuk menghancurkan pusat-pusat populasi musuh yang lokasinya berada di dalam area yang basis militer atau berdekatan dengan basis militer. "Ketika ada perlawanan, pasukan bersenjata musuh harus dihabisi dan populasinya harus diusir keluar batas wilayah," tulis dokumen itu.

Pada periode 1947-1948, kaum Zionis menghancurkan 531 desa warga Palestina di wilayah Israel. Usai perang Arab-Israel pertama berakhir, total ada sekitar 750 ribu warga Palestina yang diusir paksa dari rumah mereka. 

Setelah memenangi perang melawan enam negara Arab pada 1967, Israel mengambil alih kawasan Tepi Barat dan sejumlah wilayah Gaza. Pada 1948, kawasan itu di bawah kuasa Yordania dan Mesir. Setelah perang itu, Palestina "resmi" berada di bawah kuasa militer Israel. 

Saleh Abd al-Jawad, pakar sejarah dan ilmu politik dari Birzeit University di Ramallah, mengatakan mayoritas desa Palestina yang dihancurkan Israel kini telah hilang dari peta. Sebagian berganti pemilik, sebagian lagi tak dihuni. 

"Sekitar 418 hingga 530 desa dihapus oleh Israel yang membangun hutan-hutan di atasnya. Orang-orang tua dengan ingatan yang kuat juga bakal kesulitan untuk menggambarkan desa mereka sekarang," kata Saleh. 

Berita Lainnya