sun
moon
a l i n e a dot id
fakta data kata
logo alinea.id

Hubungan China-Australia kian retak

China tuding Australia bertanggung jawab atas penurunan tajam hubungan bilateral.

Valerie Dante
Valerie Dante Kamis, 19 Nov 2020 15:15 WIB
Hubungan China-Australia kian retak
Informasi mutakhir perkembangan Covid-19 di Indonesia bisa dilihat di sini
Terinfeksi 557.877
Dirawat 77.969
Meninggal 17.355
Sembuh 462.553

China menyatakan bahwa Australia bertanggung jawab atas penurunan tajam dalam hubungan bilateral kedua negara tersebut. Juru bicara Kementerian Luar Negeri China mengatakan, Australia cenderung menganggap rencana pembangunan Beijing sebagai ancaman.

Hubungan Australia-China telah memburuk selama bertahun-tahun, tetapi situasinya semakin parah dengan cepat setelah Perdana Menteri Australia Scott Morrison pada April menyerukan penyelidikan internasional terkait asal-usul pandemik Covid-19.

Pemerintah China menilai proposal Morrison sebagai manipulasi politik. Sejak Mei dan seterusnya, ekspor Australia yang menguntungkan ke China termasuk anggur dan daging sapi telah menghadapi hambatan dari Tiongkok, termasuk peningkatan tarif, penyelidikan antisubsidi, serta penundaan dalam proses bea cukai.

Kemudian pada September, dua reporter dari organisasi berita Australia di China, harus direpatriasi setelah mereka diinterogasi secara agresif oleh pihak berwenang atas kasus keamanan nasional yang melibatkan Cheng Lei, seorang jurnalis Australia yang bekerja untuk media pemerintah China.

Dalam wawancara dengan media Australia yang diterbitkan pekan lalu, Menteri Perdagangan Simon Birmingham mengatakan, China bertanggung jawab dalam meredakan tensi antara kedua negara.

Dia berharap penandatanganan perjanjian Kemitraan Ekonomi Komprehensif Regional (RCEP) pada minggu lalu akan membantu menyelesaikan perselisihan antara kedua pemerintahan.

RCEP merupakan perjanjian perdagangan besar yang mempertemukan 14 negara di Asia Pasifik, termasuk China dan Australia, dalam kesepakatan perdagangan bebas besar-besaran.

Namun, Juru Bicara Kementerian Luar Negeri China Zhao Lijian menjelaskan, tidak ada gencatan senjata yang terlihat dalam konferensi pers hariannya di Beijing, pada Selasa (17/11). Zhao mengatakan, pemerintah China bukanlah pihak yang bersalah atas rusaknya hubungan dengan Australia.

Sponsored

"Mereka (Australia) telah mengambil serangkaian tindakan yang salah terkait dengan China, yang merupakan akar penyebab hubungan China-Australia mengalami penurunan tajam dan terjebak dalam situasi sulit saat ini," katanya.

Zhao memaparkan, tiga area di mana Australia tidak menyenangkan pemerintah China, salah satunya adalah keputusan PM Morrison untuk menyerukan penyelidikan internasional terkait Covid-19.

"Hal tersebut sangat mengganggu kerja sama internasional dalam pencegahan dan pengendalian pandemik," tambahnya.

Zhao mengecam Australia atas upayanya untuk menindak dugaan campur tangan asing dalam politik dalam negerinya, sebuah upaya yang diyakini Beijing ditargetkan ke China.

Selain itu, Zhao juga mengkritik Australia karena berulang kali mengomentari pelanggaran hak asasi manusia di Xinjiang dan Hong Kong.

"Praktik-praktik ini telah sangat mengganggu urusan dalam negeri China dan sangat melukai perasaan masyarakat kami," ujar dia.

Komentar Zhao muncul setelah Australia dan Jepang menyetujui perjanjian pertahanan penting antara kedua negara, dalam pertemuan di Tokyo antara PM Morrison dan Perdana Menteri Jepang Yoshihide Suga.

Pada Rabu (18/11), pemerintah Australia menyatakan bahwa kesepakatan itu tidak ada kaitannya dengan hubungan Australia-China. Namun, ini adalah yang terbaru dari serangkaian langkah Australia dan Jepang untuk memperdalam hubungan militer mereka. (CNN)

Berita Lainnya