Dunia / Suriah

Ibu Negara Suriah jalani perawatan kanker payudara

Asma al-Assad lahir dan besar di London. Di ibu kota Inggris itu pula dia mengenyam pendidikan sebelum akhirnya menjadi bankir investasi. 

Ibu Negara Suriah jalani perawatan kanker payudara Ilustrasi / Shutterstock

Istri Presiden Suriah Bashar al-Assad didiagnosis menderita kanker payudara. Para pejabat mengonfirmasi bahwa Nyonya Assad tengah menjalani pengobatan untuk tumor ganas stadium awal.

Sebuah foto yang diunggah akun Twitter kepresidenan Suriah menunjukkan Asma tengah menjalani perawatan dengan didampingi sang suami.

"Nyonya Assad memulai tahap pertama pengobatan untuk tumor ganas payudara yang dideteksi lebih awal ... Presiden dan timnya berharap Nyonya Asma lekas sembuh," bunyi keterangan yang diunggah bersama dengan foto tersebut seperti dikutip dari BBC, Kamis (9/8).

Asma al-Assad lahir dan besar di London. Di ibu kota Inggris itu pula dia mengenyam pendidikan sebelum akhirnya menjadi bankir investasi. 

Perempuan berusia 42 tahun itu pindah ke Suriah pada tahun 2000 dan menikahi Assad, yang merupakan seorang dokter mata, hanya beberapa bulan setelah dia menggantikan ayahnya Hafez al-Assad sebagai presiden.

Pasangan Assad dan Asma pada awalnya digambarkan sebagai reformis, harapan akan perubahan dari pemerintahan represif sebelumnya. Namun pandangan tersebut perlahan berubah, terutama sejak majalah gaya hidup dan mode terkemuka dunia, Vogue, menampilkan Asma di sampulnya pada Februari 2011. Di sana, Asma didefinisikan sebagai "the freshest and most magnetic of first ladies".

Satu bulan setelahnya, polisi merespons secara brutal demonstrasi di Deraa, memicu konflik yang hingga kini telah merenggut nyawa sekitar setengah juta orang dan membuat jutaan lainnya terlantar.

Pada Februari 2012, ketika Asma merilis komentar perdananya tentang kekerasan yang terjadi, dia membela sang suami.

"Presiden (Assad) adalah presiden Suriah, bukan faksi tertentu di Suriah, dan Ibu Negara mendukungnya dalam peran tersebut," ungkap keterangan yang dirilis pihak Asma kepada surat kabar The Times.

Pada tahun yang sama, aktivis merilis ribuan email pribadi yang konon menunjukkan bahwa Asma terus berburu barang-barang mewah bahkan setelah konflik di Suriah dimulai. Asma yang sempat dipuji karena kecantikan dan karismanya pun masuk dalam daftar pihak yang dikenai sanksi oleh Uni Eropa.

Asma tidak pernah lagi berbicara dengan media asing hingga tahun 2016. Saat itu kepada televisi pemerintah Rusia dia mengatakan bahwa dia menolak tawaran untuk melarikan diri ke luar negeri.


Berita Terkait