sun
moon
logo alinea.id logo alinea.id

India bersiap memulai penyelenggaraan pemilu terbesar di dunia

Dengan 900 juta pemilih yang memenuhi syarat, pemilu di India akan menjadi yang terbesar di dunia.

Khairisa Ferida
Khairisa Ferida Senin, 11 Mar 2019 11:36 WIB
 India bersiap memulai penyelenggaraan pemilu terbesar di dunia

Pemilihan umum India akan berlangsung dalam tujuh fase antara April dan Mei. Demikian pengumuman Komisi Pemilihan Umum.

Jajak pendapat untuk memilih Lok Sabha atau majelis rendah parlemen baru akan diadakan dari 11 April hingga 19 Mei dan suara akan dihitung pada 23 Mei.

Dengan 900 juta pemilih yang memenuhi syarat, pemilu di India akan menjadi yang terbesar di dunia.

Partai Bharatiya Janata Party (BJP) yang berkuasa akan berjuang melawan oposisi utama di Kongres dan sejumlah partai regional. Dua rival regional yang kuat telah membentuk koalisi melawan BJP di Uttar Pradesh, negara bagian terpadat di India yang juga penentu kemenangan.

Majelis rendah memiliki 543 kursi dan setiap partai atau koalisi membutuhkan minimal 272 anggota parlemen untuk membentuk pemerintahan.

Lantas apa yang membuat pemilu di India ini berbeda?

Segala sesuatu tentang pemilu India adalah kolosal. Majalah the Economist pernah membandingkannya dengan "gajah yang tengah melakukan perjalanan epik".

Dan kali ini, lebih dari 900 juta orang di atas usia 18 tahun diperkirakan akan memberikan suara mereka di satu juta tempat pemungutan suara. Jumlah pemilih tersebut lebih besar dari gabungan populasi Eropa dan Australia.

Sponsored

Rakyat India merupakan pemilih yang antusias, itu terlihat dari partisipasi dalam pemilu terakhir pada 2014 yang mencapai lebih dari 66% atau naik dari 45% dari 1951 ketika pemilu pertama digelar. Dalam pemilu 2014 terdapat lebih dari 8.250 kandidat yang mewakili 464 partai, itu nyaris tujuh kali lipat dari pemilu pertama.

Pemungutan suara pemilu India 2019 akan diadakan pada 11 April, 18 April, 23 April, 29 April, 6 Mei, 12 Mei, dan 19 Mei. Beberapa negara bagian akan mengadakan pemungutan suara dalam beberapa fase.

Pemilu pertama India membutuhkan tiga bulan untuk menyelesaikannya. Kemudian pada 1962 dan 1989, pemilu diselesaikan dalam empat hingga 10 hari. Pemilu empat hari pada 1980 merupakan yang terpendek di Negeri Hindustan.

Lamanya proses pemilu di India terkait dengan kebutuhan untuk mengamankan tempat pemungutan suara. Polisi lokal dilaporkan partisan, sehingga kondisi itu mengharuskan pengerahan pasukan federal. 

Pasukan federal harus dibebastugaskan dan mengalami rotasi ke seluruh negeri.

Centre for Media Studies memperkirakan pemilu 2014 menghabiskan dana sekitar US$5 miliar. 

"Tidak bisa dibayangkan bahwa pengeluaran keseluruhan akan berlipat ganda tahun ini," kata Milan Vaishnav dari think-tank Carnegie Endowment for International Peace yang berbasis di Amerika Serikat.

Jumlah itu sangat fantastis bahkan jika dibanding dengan pemilu presiden dan kongres AS 2016 yang menghabiskan dana US$6,5 miliar. 

Pendanaan partai-partai politik di India dinilai tetap buram meskipun mereka telah dipaksa untuk mengungkapkan sumbernya. Tahun lalu, pemerintahan PM Narendra Modi meluncurkan kebijakan yang memungkinkan bisnis dan individu menyumbang dengan identitas yang dirahasiakan.

Para donatur dilaporkan telah menggelontorkan nyaris US$150 juta dan sebagian besar mengalir kepada BJP.

India memiliki jumlah pemilih wanita yang besar. Ini merupakan kali pertama jumlah pemilih wanita lebih banyak dari pria.

Kesenjangan gender pemungutan suara di India telah menyusut. Pada 2014, jumlah pemilih perempuan adalah 65,3% berbanding 67,1% pemilih pria.

Dalam lebih dari puluhan pemilu lokal yang digelar antara 2012 dan 2018, jumlah pemilih perempuan lebih tinggi dibanding laki-laki di dua per tiga negara-negara bagian.

Partai-partai politik dinilai telah mulai melirik suara perempuan dengan memberikan mereka lebih banyak penawaran, seperti pinjaman pendidikan, tabung gas gratis, dan sepeda untuk anak perempuan.

Akankah Modi kembali berkuasa?

Pada 2014, Modi memimpin BJP dan sekutunya meraih kemenangan bersejarah.

BJP sendiri memenangkan 282 dari 428 kursi yang diperebutkan. Itu adalah pertama kalinya sejak 1984 sebuah partai memenangkan mayoritas mutlak dalam pemilu. BJP juga mengambil sepertiga dari suara rakyat.
 
Kemenangan yang mengejutkan itu sebagian besar dipicu oleh kemampuan Modi untuk mempromosikan dirinya sebagai pemimpin tegas dan pekerja keras yang akan mengantarkan negara itu ke era bebas korupsi yang lebih baik.

Terlepas dari kinerja yang tidak jelas terkait sejumlah janjinya, Modi tetap merupakan penggalang suara utama partainya. Dia juga didukung oleh mesin partai yang tangguh dan disiplin, yang dijalankan oleh asistennya  Amit Shah.

Sementara itu, kampanye oposisi akan sepenuhnya menargetkan sang PM, yang dinilai dicintai dan dibenci dalam takaran yang sama.

Pemilu 2019 menjadi harapan besar bagi Partai Kongres yang berusia 133 tahun untuk kembali ke panggung utama.

Pada 2014, partai ini menderita kekalahan terburuk dalam pemilu. Mereka hanya mampu mengamankan 44 kursi, turun dari 206 kursi, dan meraih kurang dari 20% suara rakyat.

Situasi tetap suram karena partai kehilangan serangkaian pemilu di negara bagian selama empat tahun belakangan. Pada pertengahan 2018, Kongres dan para sekutunya hanya menjalankan tiga negara bagian, sementara BJP dan sekutunya memerintah di 20 negara bagian.

Namun, pada Desember lalu partai pimpinan Rahul Gandhi menunjukkan semacam kemunculan kembali. Mereka merebut tiga negara bagian dari BJP.

Masuknya saudara Rahul, Priyanka Gandhi, sosok yang dianggap karismatik dinilai membawa angin segar bagi Kongres. Kebangkitan Kongres telah membantu meremajakan oposisi yang retak, dan mereka berjanji untuk membuat pemilu 2019 berbeda.

Di bawah kepemimpinan Modi, India yang merupakan ekonomi ketiga terbesar ketiga di Asia disebut telah kehilangan sebagian momentumnya. Pendapatan pertanian mandek karena panen melimpah sementara harga komoditas menurun, membuat petani dibebani utang dan marah. 

Demonetisasi pada 2016 yang kontroversial serta Pajak Barang dan Jasa (GST) baru yang kompleks dan dijalankan dengan buruk dilaporkan telah melukai usaha kecil dan menengah. Ekspor menurun, pengangguran meningkat, dan pemerintah Modi dituduh menyembunyikan angka pengangguran. Kondisi itu diperburuk dengan sejumlah bank milik pemerintah tenggelam dalam kredit macet.

Meski demikian, inflasi masih terkendali. Peningkatan pengeluaran pemerintah dalam infrastruktur dan pekerjaan umum telah membuat ekonomi terus bergerak. Pertumbuhan diperkirakan 6,8% pada tahun fiskal ini. Tetapi, pada kenyataannya PDB India perlu tumbuh lebih cepat dari 7% agar negara berkekuatan nuklir itu dapat menarik jutaan rakyatnya keluar dari kemiskinan.

PM Modi sebelumnya telah menegaskan bahwa reformasi ekonomi tengah berjalan. Pemilu akan membuktikan apakah rakyat bersedia memberinya lebih banyak waktu.

Pemerintahan Modi telah mengumumkan transfer tunai langsung ke petani dan keringanan pinjaman pertanian. Dia juga menjanjikan kuota pekerjaan bagi masyarakat dari kasta tinggi dan pemeluk agama lainnya.

Adapun Rahul berjanji menjamin pendapatan minimum bagi rakyat miskin jika Kongres memenangi pemilu. Yang lain akan menghujani para pemilih dengan berbagai barang gratis, mulai dari TV hingga laptop. 

Para kritikus berpendapat bahwa nasionalisme Modi dan mayoritas partainya telah menempatkan India dalam situasi yang sangat terpecah dan gelisah. Namun, para pendukungnya mengklaim itu justru telah memberi energi dan konsolidasi. 

Pendukung Modi percaya tidak perlu meminta maaf tentang Hinduisme politik karena bagi mereka India adalah negeri yang memang sangat beragama Hindu.

Sayangnya, retorika nasionalis telah memperkuat kelompok sayap kanan radikal untuk menghukum mati warga muslim yang diduga menyelundupkan sapi. Bagi pemeluk Hindu, sapi adalah hewan suci. 

Orang-orang yang kritis terhadap Hindu radikal telah dicap sebagai anti-nasional. Perbedaan pendapat tidak disukai.

Seratus tujuh puluh juta muslim India diyakini telah menjadi minoritas tidak terlihat. BJP tidak memiliki anggota parlemen muslim di majelis rendah. Mereka setidaknya pernah mengajukan tujuh kandidat dalam pemilu 2014, tetapi seluruhnya kalah.

Ketegangan India-Pakistan meningkatkan citra Modi?

Aksi balas-balasan serangan udara antara India dan Pakistan pada akhir Februari pasca-serangan bunuh diri di Kashmir yang dikelola India memicu kampanye nasionalis yang lebih tinggi. Modi telah menjelaskan bahwa dia tidak akan ragu untuk membalas jika ada serangan lain di tanah India yang diprovokasi atau disponsori oleh kelompok-kelompok militan yang berbasis di Pakistan.

Yang jelas, Modi akan menjadikan keamanan nasional sebagai kunci utama kampanyenya. Peluang keberhasilannya masih belum jelas.

Uttar Pradesh akan menjadi panggung pertempuran utama mengingat satu dari enam orang India tinggal di sini. Negara bagian yang paling terpecah secara sosial itu memiliki 80 kursi di parlemen.

Dalam pemilu 2014, BJP memenangkan 71 dari 80 kursi. Terakhir kali, karisma Modi dan kemampuan partainya untuk berkoalisi berkontribusi pada sejumlah kekalahan partai regional yang kuat, yaitu Partai Samajwadi (SP) dan Partai Bahujan Samaj (BSP).

Mayawati, yang memimpin BSP, adalah ikon bagi jutaan Dalit. Saat ini dia bersekutu dengan rival utamanya, Akhilesh Yadav dari SP, untuk berjuang memenangkan lebih dari 50 kursi dan menghentikan pawai BJP ke Delhi.

Walaupun merupakan aliansi oportunistik, tetapi langkah BSP dan SP diperkirakan dapat merusak prospek BJP di Uttar Pradesh.

Sumber : BBC