sun
moon
logo alinea.id logo alinea.id

India janjikan perlakuan adil bagi sawit Indonesia

India sepakat dengan catatan Indonesia membeli beras dan gula dalam bentuk raw sugar dari mereka.

Khairisa Ferida
Khairisa Ferida Senin, 04 Nov 2019 12:56 WIB
India janjikan perlakuan adil bagi sawit Indonesia

Presiden Joko Widodo melakukan pertemuan bilateral dengan Perdana Menteri India Narendra Modi usai mengikuti KTT ASEAN-India, di Bangkok, Thailand, Minggu (3/11) siang.

Menteri Luar Negeri Retno Marsudi mengatakan, dalam pertemuan itu PM Modi kembali menekankan dukungannya terhadap sentral ekonomi di ASEAN dan mengapresiasi Presiden Jokowi dalam membentuk outlook ASEAN, yang pada akhirnya diadosi oleh semua negara ASEAN.

"PM Modi mengatakan bahwa konsep yang ada di Presiden Jokowi exactly mirroring, jadi hampir sama dengan konsep yang dimiliki oleh PM Modi," kata Menlu Retno dalam media briefing di Bangkok, Thailand, Minggu (3/11) sore seperti dilansir setkab.go.id.

Menurut Menlu Retno, Presiden Jokowi dan PM Modi menyampaikan bahwa kerja sama politik kedua negara yang bagus harus direfleksikan dalam kerja sama ekonomi.

"Presiden membahas mengenai masalah sawit. Intinya adalah PM Modi siap memberikan treatment yang fair terhadap sawit Indonesia," terang Menlu.

PM Modi, lanjut Menlu, juga menyampaikan apresiasi atas respons positif Indonesia sebagai bagian dari founding members Global Coalition for Disaster Resilient Infrastructure (CDRI) yang diluncurkan pada 25 September tahun ini di PBB.

"Jadi, Indonesia adalah satu dari 12 founding members untuk insiatif CDRI ini," ujar Retno.

Saat menerima PM Modi, Presiden Jokowi didampingi oleh Menko Bidang Polhukam Mahfud MD, Menko Bidang Perekonomian Airlangga Hartarto, Sekretaris Kabinet Pramono Anung, Menteri Luar Negeri Retno Marsudi dan Menteri Perdagangan Agus Suparmanto.

Sponsored

Dalam kesempatan yang sama, Menteri Perekonomian Airlangga Hartarto mengungkap pernyataan senada bahwa pemerintah India menyetujui persyaratan yang diminta Indonesia terkait nilai tarif impor sawit agar tidak ada perbedaan dengan Malaysia.

"Memang saat sekarang tarif kelapa sawit, baik itu untuk CPO maupun RBD sudah sama. Semula ada perbedaan 5%, namun sesuai dengan permintaan Bapak Presiden, PM Narendra Modi menerima itu sehingga tarif CPO itu sama, Refined Bio Blended itu sama, RBD itu sama," kata Airlangga.

Disampaikan Airlangga, bea masuk untuk CPO saat ini 40%, 50% RBD per akhir Desember akan menjadi 37,5% dan 45%, dan ini berlaku untuk Indonesia dan Malaysia, sehingga tidak ada perbedaan.

Namun, menurutnya, India juga meminta Indonesia untuk bisa membeli beras dan gula dalam bentuk raw sugar dari mereka. Pemerintah pun, sebut Airlangga, sudah mengatakan akan diambil secara bertahap.

"Nanti bisa ditingkatkan sesuai dengan kebutuhan ke depan dan memang per hari ini trade kita dengan India positif. Kita positif 8 miliar dollar AS, tertinggi di 2017 sebesar 10 miliar dollar AS, dan komoditas utamanya adalah batu bara dan kelapa sawit," terang Airlangga.