sun
moon
a l i n e a dot id
fakta data kata
logo alinea.id

India panik hadapi isu vaksin serum anak sapi baru lahir

Berita tentang Serum anak sapi baru lahir jadi momok bagi pemerintah India. India tidak mau informasi sesat itu terus menyebar.

Fitra Iskandar
Fitra Iskandar Kamis, 17 Jun 2021 09:17 WIB
India panik hadapi isu vaksin serum anak sapi baru lahir

Pemerintah India dibuat pusing dengan kegaduhan di media sosial terkait Covaxin yang dibuat Bharat Biotech. Isu menyebar, vaksin buatan perusahaan bioteknologi lokal itu mengandung bahan yang tidak bisa diterima masyarakat India. 

Jika di Indonesia bahan yang tidak bisa diterima itu adalah babi, di India yang jadi masalah adalah adanya isu vaksin mengandung newborn calf serum atau serum anak sapi baru lahir. Sebagai negara yang masyarakatnya mayoritas beragama Hindu, India sangat sensitif dengan isu makanan/obat mengandung sapi karena hewan itu dianggap sakral dan tidak patut dikonsumsi.   

Isu miring itu membuat panik Kementerian Kesehatan India. Dalam sebuah pernyataannya mereka membantah keras rumor tersebut dan mengatakan fakta telah "dipelintir dan disalahartikan".

“Serum anak sapi baru lahir hanya digunakan untuk persiapan/ pertumbuhan sel vero. Berbagai jenis serum sapi dan hewan lainnya adalah bahan pengayaan standar yang digunakan secara global untuk pertumbuhan sel vero, bunyi pernyataan itu, seperti dilansir timesofindia, Rabu (16/6).

Ditambahkan bahwa sel vero digunakan untuk membangun kehidupan sel yang membantu dalam produksi vaksin. Teknik ini telah digunakan selama beberapa dekade dalam vaksin polio, rabies, dan influenza.

Ia pun merinci lebih jauh. “Sel vero ini, setelah pertumbuhan, dicuci dengan air, dengan bahan kimia (juga secara teknis dikenal istilah buffer). Itu dilakukan berkali-kali untuk membebaskannya dari serum anak sapi yang baru lahir. Setelah itu, sel-sel vero ini diinfeksi virus corona untuk pertumbuhan virus.”

Kementerian Kesehatan menginformasikan bahwa dalam formulasi vaksin akhir, tidak ada serum anak sapi. “Sel vero benar-benar hancur dalam proses pertumbuhan virus. Setelah itu virus yang tumbuh ini juga dibunuh (dimatikan) dan dimurnikan. Virus yang terbunuh ini kemudian digunakan untuk membuat vaksin akhir, dan dalam formulasi vaksin akhir tidak digunakan serum anak sapi." 

Pernyataan itu menegaskan lagi bahwa proses tersebut menjadikan vaksin terakhir Covaxin sama sekali tidak mengandung serum anak sapi yang baru lahir. "Serum anak sapi tersebut bukan merupakan bahan dari produk vaksin akhir,” bunyi pernyataan itu.

Sponsored

Covaxin adalah vaksin COVID-19 yang dikembangkan oleh Bharat Biotech yang berbasis di Hyderabad, India.

India sendiri dikenal reputasinya sebagai 'raja vaksin' dunia. Di negara ini sejumlah produsen vaksin berbasis. Selain Bharat Biotech, ada Panacea Biotec, Sanofi Shantha Biotechnics, Biological E, Hester Biosciences dan Zydus Cadila dan juga SII. Total produksi vaksin sebanyak 8,2 miliar dosis berbagai vaksin setiap tahun.

India memang cukup kuat dalam industri farmasi. Dengan kapasitas produksinya yang besar dan harga yang murah, vaksin dari India sangat bersaing secara global.

SII misalnya, berhasil mengembangkan vaksin meningitis murah untuk dikirim ke seluruh Afrika. DW mencatat, pada akhir 2013, sebanyak 152 juta orang menerima vaksin untuk memutus siklus epidemi meningitis di 26 negara.

Perusahaan lainnya, India Cipla sukses memasok obat AIDS ke Afrika dengan harga yang lebih murah dari Amerika Serikat.

India sendiri sedang  dalam situasi darurat Covid-19 sehingga pemerintahnya menggencarkan pemberian vaksin kepada rakyatnya. Ledakan kasus Covid-19 di India berlangsung pada rentang April hingga awal Juni. Tercatat puncak ledakan terjadi pada 8 Mei dengan 403.405 kasus. Setelah itu berangsur-angsur turun. Saat ini rata-rata kasus dalam tujuh hari berkisar 85 ribu kasus per hari.

Sampai hari ini total kasus Covid-19 di India sekitar 29.6 juta dari populasi yang berjumlah sekitar 1,4 miliar jiwa.

India sendiri menggunakan tiga vaksin yaitu Covishield buatan SII, Covaxin dan Sputnik V, yang dikembangkan Moscow's Gamaleya Istitute.  India telah memberikan lebih dari 220 juta suntikan. Dan sejauh ini sekitar 15 persen warganya telah menerima setidaknya satu dosis vaksinasi.

Kebutuhan vaksin yang tinggi membuat India berkejar-kejaran dengan pertumbuhan kasus yang tak terkendali. Pada awal Juni dikabarkan Negara Ini sampai memesan 300 juta vaksin yang belum disetujui. Sebab itu kampanye negatif terkait vaksin, merupakan persoalan yang sangat serius bagi India yang sedang berjuang keras melepaskan diri dari situasi gawat yang disebabkan pandemi Covid-19..

Berita Lainnya