sun
moon
logo alinea.id logo alinea.id

Indonesia ajak Asia Tenggara tingkatkan kesejahteraan petani kecil

Wamenlu menekankan pentingnya pertanian keluarga karena itu menyangkut kepentingan nasional Indonesia.

Valerie Dante
Valerie Dante Kamis, 04 Apr 2019 13:57 WIB
Indonesia ajak Asia Tenggara tingkatkan kesejahteraan petani kecil

Sejumlah perwakilan negara-negara Asia Tenggara bertemu di Hotel Aryaduta, Jakarta, pada Kamis (4/4), untuk membahas upaya membantu petani kecil mencapai ketahanan pangan yang lebih baik serta meningkatkan kualitas mata pencaharian mereka.

Dalam pidato sambutannya, Wakil Menteri Luar Negeri RI A. M. Fachir menjelaskan bahwa Indonesia menginisiasi pertemuan yang berlangsung selama dua hari itu sebagai bentuk realisasi dari resolusi PBB "UN Decade of Family Farming 2019-2028" yang disahkan dalam sidang ke-72 Majelis Umum PBB pada 2017.

Resolusi itu mengakui kontribusi penting dari pertanian keluarga dan petani kecil bagi ketahanan pangan dan perbaikan nutrisi.

"Indonesia menganggap penting pertanian keluarga karena hal itu menyangkut kepentingan nasional kita. Kami ingin memastikan agar para petani kecil memperoleh manfaat dari kerja mereka serta meningkatkan kesejahteraan mereka," tutur Wamenlu Fachir dalam pembukaan forum "Regional Conference on Strengthening South East Asia's Food Security, Nutrition, and Farmers' Welfare through the UN Decade of Family Farming".

Melalui forum tersebut, Wamenlu RI berharap seluruh perwakilan dapat bertukar pengalaman dan saling mempelajari kebijakan masing-masing negara di bidang kesejahteraan kehidupan petani kecil.

Menurut Fachir, bahasan pada pertemuan itu tidak hanya menyangkut kehidupan petani saja, tetapi juga menyinggung aspek teknologi dan infrastruktur pertanian, serta perdagangan panen.

Dalam kesempatan yang sama, Direktur Jenderal Kerja Sama Multilateral Kementerian Luar Negeri RI Febrian Alphyanto Ruddyard menyatakan bahwa hasil diskusi konferensi tersebut diharapkan dapat dituangkan dalam dokumen berbentuk komunike bersama.

"Kami berharap komunike itu dapat menangkap kerja sama dan semangat kolaborasi kami untuk memastikan keamanan pangan, meningkatkan gizi, dan menaikkan kesejahteraan petani," jelasnya.

Sponsored

Febrian menyebut, komunike bersama itu nantinya akan dipresentasikan dalam peluncuran "UN Decade of Family Farming" pada Mei 2019 di markas Food and Agriculture Organization (FAO) di Roma, Italia.

Meski Indonesia menjadi rumah bagi lebih dari 24 juta petani skala kecil, Wamenlu Fachir mengatakan bahwa para petani itu terpapar kemiskinan dan kekurangan akses teknologi untuk meningkatkan kualitas mata pencaharian mereka.

"Dalam beberapa tahun terakhir, para petani kecil juga harus menanggung hambatan perdagangan yang mengancam mata pencaharian mereka," kata dia. "Misalnya, perlakuan diskriminatif terhadap minyak kelapa sawit yang akan memengaruhi 17 juta petani dan keluarga mereka."

Tidak hanya Indonesia, Fachir menilai Asia Tenggara secara keseluruhan juga perlu sama-sama berupaya mendorong kesejahteraan petani kecil.

Pasalnya, dari seluruh negara di Asia Tenggara, hanya Singapura yang berhasil meraih posisi lima besar di Indeks Ketahanan Pangan Global 2018.

"Indonesia melihat resolusi PBB terkait kesejahteraan petani kecil itu perlu diimplementasikan di lapangan, tidak hanya di RI, tetapi juga di seluruh negara di Asia Tenggara, bahkan di dunia," lanjutnya.

Fachir menganggap forum tersebut sebagai cerminan semangat multilateralisme untuk menghasilkan solusi global demi menyejahterakan para petani kecil.

Asisten Direktur Jenderal FAO Kawasan Asia dan Pasifik Kundhavi Kadiresan memaparkan bahwa para petani kecil di Asia Tenggara masih menghadapi sejumlah kesulitan.

Data FAO menunjukkan bahwa pertanian keluarga sulit mengakses kredit, layanan, teknologi, serta pasar yang memungkinkan mereka meningkatkan produktivitas sumber daya alam dan tenaga kerja.

"Sebagian besar pekerjaan yang tersedia di bidang pertanian memiliki hubungan dengan pendapatan yang rendah dan tidak stabil, kondisi keselamatan dan kesehatan yang buruk, ketidaksetaraan gender dalam upah dan peluang kerja, serta perlindungan sosial yang terbatas," ujar Kadiresan dalam sambutannya.

Kadiresan menyatakan pemerintah negara-negara Asia Tenggara perlu membuat kebijakan terkait pertanian keluarga yang mencakup solusi atas persoalan perubahan iklim, ketimpangan gender, keterlibatan anak muda, dan kualitas pekerjaan yang layak.

"Untuk meningkatkan kesejahteraan pertanian keluarga, perlu inovasi dalam kebijakan," tegasnya. "Namun, yang paling penting, kesejahteraan para petani kecil harus menjadi inti dan fokus utama dari inovasi itu."

Berita Lainnya