logo alinea.id logo alinea.id

Inggris tingkatkan persiapan no-deal Brexit

Secara total, pemerintah Inggris telah mengalokasikan US$7,63 miliar untuk persiapan skenario no-deal Brexit.

Khairisa Ferida
Khairisa Ferida Kamis, 01 Agst 2019 18:52 WIB
Inggris tingkatkan persiapan no-deal Brexit

Inggris menyatakan tengah meningkatkan persiapan untuk menghadapi skenario Brexit tanpa kesepakatan (no-deal Brexit) dengan membelanjakan anggaran tambahan sebesar US$2,54 miliar. Dana itu digunakan untuk menimbun obat-obatan, mempekerjakan lebih banyak petugas perbatasan dan mendanai kampanye-kampanye informasi publik secara massal.

Sebanyak US$525 juta akan digunakan untuk menimbun obat-obatan dan produk medis lainnya guna memastikan pasokan terus berlanjut. Anggaran senilai US$167 juta akan dialokasikan untuk menyelenggarakan kampanye informasi publik secara massal. Kampanye tersebut bertujuan untuk memberikan saran kepada pebisnis dan masyarakat Inggris terkait persiapan yang harus mereka lakukan untuk mencegah dampak buruk dari no-deal Brexit.

Kemudian sebanyak US$416 juta akan digunakan untuk meningkatkan operasi bea cukai dan kinerja di perbatasan. Peningkatan itu termasuk merekrut 500 petugas perbatasan tambahan dan menggandakan tenaga bantuan untuk agen bea cukai.

Ini artinya pemerintah secara total telah mengalokasikan US$7,63 miliar untuk persiapan menghadapi skenario no-deal.

Boris Johnson, yang baru menjabat sebagai Perdana Menteri Inggris sejak pekan lalu, telah berjanji akan meninggalkan Uni Eropa dengan skenario no-deal jika blok itu tidak bersedia menegosiasikan kembali kesepakatan Brexit yang sebelumnya disusun oleh Theresa May.

Menteri Keuangan Sajid Javid menyatakan anggaran tersebut akan memungkinkan pemerintah untuk meningkatkan pelatihan bagi petugas bea cukai, mempekerjakan lebih banyak staf untuk menangani peningkatan aplikasi paspor dan meningkatkan infrastruktur di sekitar pelabuhan.

"Dengan hanya 92 hari yang tersisa sampai Inggris resmi hengkang dari Uni Eropa, penting bagi kami untuk mengintensifkan perencanaan untuk memastikan bahwa kami siap," kata Javid. 

Jika Inggris cerai dari Uni Eropa dengan skenario no-deal, berarti tidak akan ada kesepakatan untuk mengatur transisi yang mencakup banyak hal, salah satunya pengaturan bea cukai di perbatasan Irlandia dan Irlandia Utara.

Sponsored

Sejumlah investor menilai, no-deal Brexit akan berdampak buruk bagi ekonomi dunia, membawa Inggris ke dalam resesi ekonomi, mengacaukan pasar keuangan dan melemahkan posisi London sebagai salah satu pusat keuangan internasional.

Namun, pihak pro-Brexit mengatakan bahwa meskipun akan ada kesulitan jangka pendek, no-deal Brexit tidak akan membawa dampak seburuk yang dikhawatirkan banyak orang. Mereka menyatakan, dalam jangka panjang, Inggris justru akan berkembang jika meninggalkan Uni Eropa.

Oposisi utama, Partai Buruh, menyebut pengeluaran itu sebagai pemborosan uang para pembayar pajak. Partai Buruh menekankan bahwa pada beberapa kesempatan sebelumnya, mayoritas anggota parlemen telah memperjelas mereka ingin hengkang dari Uni Eropa dengan kesepakatan dan akan memblokir no-deal Brexit. 

"Pemerintah bisa saja mengesampingkan skenario no-deal dan menghabiskan anggaran miliaran itu untuk mendanai sekolah, rumah sakit, dan membantu masyarakat Inggris," tutur Kepala Keuangan Partai Buruh John McDonnell.

Menteri Muda Keuangan Rishi Sunak menolak klaim Partai Buruh.

"Sudah merupakan tugas saya untuk memastikan bahwa kita membelanjakan uang para pembayar pajak dengan bijak. Dan dana itu memang diperlukan untuk mempersiapkan kepergian kita dari Uni Eropa," jelasnya.

Dia menuturkan, detail terkait rencana pengeluaran pemerintah akan dirilis pada tinjauan pengeluaran menjelang akhir 2019.

Sumber : Reuters