logo alinea.id logo alinea.id

Ingin cari suaka ke Australia, wanita Arab Saudi ditahan di Thailand

Rahaf Mohammed al-Qunun melarikan diri dari keluarganya karena mengalami kekerasan fisik dan psikologis.

Valerie Dante
Valerie Dante Senin, 07 Jan 2019 15:04 WIB
Ingin cari suaka ke Australia, wanita Arab Saudi ditahan di Thailand

Rahaf Mohammed al-Qunun, seorang perempuan asal Arab Saudi ditahan di Bandara Suvarnabhumi, Bangkok, pada Senin (7/1).

Melalui serangkaian twit dari kamar hotel bandara tempatnya membarikade diri, Rahaf memohon suaka dan meminta bantuan untuk memprotes deportasinya.

Rahaf menerangkan bahwa dia melarikan diri dari keluarganya saat bepergian di Kuwait. Dia memilih untuk kabur karena mengalami kekerasan fisik dan psikologis dari anggota keluarganya.

Rencana awal Rahaf untuk pergi ke Australia dan memohon suaka di sana gagal setelah ditahan oleh petugas imigrasi Thailand saat sedang transit di bandara pada Minggu (6/1).

Dia menolak dipulangkan oleh imigrasi Thailand karena takut akan dibunuh oleh keluarganya.

Perempuan berusia 18 tahun itu menyebut, dia dihentikan oleh sejumlah pejabat dari Kedutaan Besar Arab Saudi dan Kuwait ketika tiba di Bandara Suvarnabhumi. 

Menurutnya, para pejabat tersebut secara paksa menyita paspornya, klaim Rahaf ini didukung oleh Human Rights Watch (HRW).

Menurut keterangan dalam sebuah twitnya, Rahaf mengatakan dia akan dideportasi melalui penerbangan Kuwait Airways untuk kembali ke Kuwait. Penerbangan ini dijadwalkan lepas landas pukul 11.15 waktu setempat. 

Sponsored

"Saya meminta pemerintah Thailand ... untuk menghentikan deportasi saya ke Kuwait," tulisnya di Twitter. "Saya meminta polisi di Thailand untuk memulai proses suaka saya."

Sesaat sebelum jadwal keberangkatan, Rahaf kembali memohon agar penumpang di dalam area transit di bandara Bangkok untuk memprotes deportasinya.

Sebagai tanda keputusasaan, Rahaf mengunggah rekaman video saat dia membarikade pintu kamar hotelnya dengan furnitur yang ada.

Jika dideportasi kembali ke kampung halamannya, Rahaf berkata ada kemungkinan dia akan dipenjara dan dia "sangat yakin" bahwa keluarganya akan membunuhnya.

Pada Minggu, seorang pejabat senior imigrasi Thailand menyatakan bahwa Rahaf ditolak masuk karena tidak memiliki "dokumen lebih lanjut seperti tiket pulang atau uang". Thailand pun telah menghubungi Kedutaan Arab Saudi untuk berkoordinasi.

Direktur HRW di Asia Phil Robertson mengatakan bahwa Rahaf menghadapi bahaya besar jika dia dipaksa kembali ke Arab Saudi dan Thailand harus mengizinkannya menemui Komisioner Tinggi PBB untuk Pengungsi (UNHCR) untuk mengajukan permohonan suaka.

"Mengingat rekam jejak panjang Arab Saudi yang mengabaikan insiden 'kekerasan demi kehormatan' keluarga, kekhawatirannya bahwa dia bisa dibunuh jika pulang tidak dapat diabaikan," tuturnya.

Pasalnya dalam budaya tertentu termasuk di Arab Saudi, pembunuhan saudara, terutama seorang gadis, diperbolehkan jika dianggap telah membawa aib kepada keluarga.

UNHCR mengatakan bahwa sesuai dengan prinsip non-refoulement, pencari suaka tidak dapat dikembalikan ke negara asal jika nyawa mereka terancam.

"UNHCR telah mengikuti perkembangan kasus ini dan berusaha mencari akses dari pemerintah Thailand untuk bertemu dengan Rahaf Mohammed al-Qunun guna menilai kebutuhannya akan perlindungan internasional," jelas Robertson dalam sebuah pernyataan.

Riyadh telah lama dikritik karena memaksakan beberapa larangan berat bagi perempuan. Salah satunya, sistem perwalian yang memungkinkan pria memiliki wewenang untuk membuat keputusan bagi kerabat perempuan mereka.

Selain menghadapi hukuman karena kejahatan "moral", perempuan Arab Saudi juga dapat menjadi sasaran "pembunuhan demi kehormatan" di tangan keluarga mereka. 

Kuasa hukum di Kedutaan Arab Saudi di Bangkok Abdulilah al-Shouaibi mengakui dalam sebuah wawancara dengan media milik Arab Saudi, Rotana Khalijial, bahwa ayah dari Rahaf telah menghubungi diplomat di Bangkok untuk membantu membawa anaknya kembali.

Tetapi Abdulilah membantah adanya penyitaan paspor dan klaim Rahaf yang mengatakan adanya pejabat kedutaan yang menunggunya di bandara.

Wanita asal Arab Saudi lainnya, Dina Ali Lasloom, dihentikan saat transit di Filipina pada April 2017 ketika sedang berusaha melarikan diri dari keluarganya. (AFP)