logo alinea.id logo alinea.id

Iran akan kembali langgar kesepakatan nuklir 2015

Iran mengumumkan akan melampaui batas yang ditetapkan terkait pengayaan uranium.

Valerie Dante
Valerie Dante Senin, 08 Jul 2019 10:56 WIB
Iran akan kembali langgar kesepakatan nuklir 2015

Iran mengumumkan akan melampaui batas yang ditetapkan terkait pengayaan uranium. Langkah itu melanggar kesepakatan nuklir 2015, Joint Comprehensive Plan of Action (JCPOA), yang dirancang untuk mengekang aktivitas nuklir negara tersebut.

Pada 2018, Presiden Amerika Serikat Donald Trump secara sepihak memutuskan untuk keluar dari JCPOA. Sejak itu, Washington kembali menerapkan sanksi ketat yang berdampak buruk terhadap ekonomi Iran.

Mei 2019, Iran mengumumkan rencana untuk meningkatkan produksi uranium yang diperkaya, yang dapat digunakan untuk membuat bahan bakar reaktor dan senjata nuklir.

Dan kini, Teheran telah menimbun lebih banyak uranium yang diperkaya melampaui yang diizinkan berdasarkan JCPOA.

Iran telah memberikan tenggat 60 hari kepada negara penandatangan JCPOA lainnya yakni China, Prancis, Jerman, Rusia dan Inggris, untuk melindunginya dari sanksi AS.

Berbicara dalam konferensi pers pada Minggu (7/6), tepat saat berakhirnya tenggat tersebut, Wakil Menteri Luar Negeri Iran Abbas Araqchi menyatakan Iran akan mulai memperkaya uranium di atas konsentrasi 3,67% dalam beberapa jam mendatang.

Otoritas Iran mengatakan bahwa peningkatan akan berkisar di angka 5%. Pasalnya, pembangkit listrik tenaga nuklir Iran di Bushehr membutuhkan bahan bakar diperkaya rendah sekitar tingkat itu.

Araqchi mengatakan Iran akan terus mengurangi komitmennya terkait JCPOA setiap 60 hari. Peningkatan pengayaan itu dinilai sebagai upaya untuk memberikan tekanan pada negosiasi diplomatik.

Sponsored

Menteri Luar Negeri Iran Mohammad Javad Zarif menekankan bahwa Teheran dapat menghentikan langkah-langkah itu jika negara-negara Eropa memenuhi komitmen mereka.

Seorang juru bicara Badan Energi Atom Internasional (IAEA) mengatakan, pejabat mereka akan melaporkan kembali ke markas besar setelah memverifikasi perkembangan terkait peningkatan pengayaan uranium.

Reaksi dunia

Merespons pengumuman Iran, Trump memperingatkan agar negara itu berhati-hati. Pernyataan Trump tersebut muncul setelah Menteri Luar Negeri AS Mike Pompeo mentwit bahwa langkah Iran hanya akan mengarah pada isolasi dan sanksi lebih lanjut.

"Rezim Iran, yang dipersenjatai dengan senjata nuklir, akan menimbulkan bahaya yang lebih besar bagi dunia," twitnya.

Sejumlah negara Eropa mengatakan mereka telah berunding satu sama lain untuk membahas langkah selanjutnya. Jerman menyatakan kekhawatirannya dan mendesak Iran untuk tidak mengambil langkah lebih lanjut yang dapat membahayakan JCPOA.

Sementara itu, seorang juru bicara Kementerian Luar Negeri Inggris mengatakan bahwa meski Iran telah melanggar ketentuan kesepakatan nuklir, Inggris akan tetap berkomitmen penuh menjalaninya.

Pengumuman Iran muncul sehari setelah Presiden Prancis Emmanuel Macron berbicara dengan Presiden Iran Hassan Rouhani dan menyatakan keprihatinan mendalam tentang apa yang akan terjadi jika kesepakatan itu diabaikan.

Prancis menyatakan kedua pemimpin negara sepakat untuk memulai kembali dialog dengan seluruh pihak pada 15 Juli. Rouhani meminta negara-negara Eropa bertindak sekarang untuk menyelamatkan JCPOA.

Adapun Perdana Menteri Israel Benjamin Netanyahu menekankan, pengumuman Iran adalah langkah yang sangat berbahaya.

Netanyahu kembali menyerukan agar Prancis, Jerman dan Inggris menjatuhkan sanksi terhadap Teheran.

Menteri Energi Israel Yuval Steinitz turut mengkritik langkah Iran. Menurutnya, meski peningkatan pengayaan itu tidak signifikan, Iran sebenarnya mulai menempuh jalan menuju pengembangan persenjataan nuklir.

Di bawah JCPOA, Teheran setuju untuk membiarkan adanya pemeriksaan internasional dan membatasi kegiatan nuklirnya. Sebagai imbalannya, mereka berharap kesepakatan itu dapat mengakhiri sanksi ekonomi yang ketat atas negaranya.

Menurut kesepakatan tersebut, Iran hanya diizinkan untuk memproduksi uranium yang diperkaya rendah, yang memiliki konsentrasi 3% hingga 4% dan dapat digunakan untuk menghasilkan bahan bakar untuk pembangkit listrik tenaga nuklir.

Kesepakatan itu juga membatasi Iran untuk menimbun tidak lebih dari 300 kilogram uranium yang diperkaya rendah. Menurut Arms Control Association, timbunan 1.050 kilogram uranium dapat diperkaya lebih lanjut untuk menjadi bahan yang cukup untuk membuat satu bom nuklir.

Sumber : BBC