logo alinea.id logo alinea.id

Iran akan mempercepat pengayaan uranium

Ini merupakan langkah terbaru Iran untuk mengurangi komitmennya terhadap kesepakatan nuklir 2015.

Valerie Dante
Valerie Dante Kamis, 05 Sep 2019 16:18 WIB
Iran akan mempercepat pengayaan uranium

Pada Rabu (4/9), Presiden Hassan Rouhani mengatakan bahwa mulai Jumat (6/9), negaranya akan mulai mengembangkan mesin sentrifugal untuk mempercepat pengayaan uranium. Itu merupakan langkah terbaru Iran dalam mengurangi komitmennya terhadap kesepakatan nuklir 2015 (JCPOA).

"Mulai Jumat, kita akan mulai menjalankan penelitian dan pengembangan berbagai jenis mesin sentrifugal baru dan apa pun yang diperlukan untuk mempercepat proses pengayaan uranium," ungkap Rouhani dalam pidato yang disiarkan melalui stasiun televisi pemerintah.

Di bawah JCPOA, Teheran setuju untuk mengizinkan adanya pemeriksaan internasional dan membatasi kegiatan nuklirnya. Sebagai imbalannya, mereka berharap kesepakatan itu dapat mengakhiri sanksi ekonomi yang ketat atas negaranya.

Namun, pada 2018, Amerika Serikat menarik diri dari JCPOA dan kembali menerapkan sanksi terhadap Iran.

Pada Juli, Iran merespons langkah AS dengan secara bertahap melanggar dua komitmen JCPOA. Teheran melanggar batas untuk menimbun tidak lebih dari 300 kilogram uranium yang diperkaya rendah. Setelah itu, mereka mulai memperkaya uranium di atas konsentrasi 3,67%, melebihi ketetapan yang diatur dalam JCPOA.

Rouhani mendesak negara-negara Eropa yang terlibat dalam JCPOA untuk melindungi Iran dari dampak sanksi AS yang menghantam penjualan minyak Teheran.

"Eropa memiliki waktu dua bulan untuk memenuhi komitmen mereka," kata dia.

Di bawah JCPOA, Iran tidak diizinkan mengoperasikan lebih dari 5.060 mesin sentrifugal, peralatan yang dapat digunakan untuk memperkaya uranium.

Sponsored

Menurut kesepakatan tersebut, Iran hanya diizinkan untuk memproduksi uranium yang diperkaya rendah, yang memiliki konsentrasi 3% hingga 4% dan dapat digunakan untuk menghasilkan bahan bakar untuk pembangkit listrik tenaga nuklir. Sedangkan uranium yang diperkaya dengan konsentrasi hingga 90% atau lebih dapat digunakan untuk membuat senjata.

Teheran menegaskan pihaknya tidak berupaya untuk mengembangkan senjata nuklir tetapi hanya ingin menggunakannya sebagai pembangkit listrik. 

Secara terpisah, Washington menolak untuk melonggarkan sanksi ekonomi terhadap Iran tetapi tidak menentang rencana Prancis untuk memberikan kredit sebesar US$15 miliar bagi Teheran.

Presiden Donald Trump mengatakan dia membuka kemungkinan bertemu dengan Rouhani tetapi menegaskan tidak ada niat untuk mengurangi sanksi.

"Itu tidak akan terjadi," tegas dia.

Pada Rabu, Washington mencantumkan sejumlah jaringan perusahaan, tanker dan individu ke dalam daftar hitam karena dicurigai berafiliasi dengan Pengawal Revolusi Iran (IRGC) untuk secara ilegal memasok minyak senilai ratusan juta dolar ke Suriah.

"Kami menjatuhkan serangkaian sanksi pada hari ini. Akan ada lebih banyak sanksi lagi ke depannya ... Kami tidak akan memberikan pengecualian atau keringanan," tutur Perwakilan Khusus AS untuk Iran Brian Hook.

Pemerintahan Trump juga merilis peringatan tentang praktik IRGC untuk melanggar sanksi AS. Mereka menegaskan bahwa pihak mana pun yang berbisnis dengan entitas yang tercantum dalam daftar hitam juga akan terkena sanksi Washington. (BBC dan France 24)