logo alinea.id logo alinea.id

Iran: Militer AS bukan ancaman serius, tapi target serangan

Iran menegaskan pihaknya siap merespons gertakan AS.

Valerie Dante
Valerie Dante Senin, 13 Mei 2019 10:18 WIB
Iran: Militer AS bukan ancaman serius, tapi target serangan

Kepala Divisi Kerdirgantaraan Korps Garda Revolusi Iran (IRGC) Amirali Hajizadeh mengatakan kehadiran militer Amerika Serikat di Teluk bukan merupakan ancaman serius, melainkan sebuah target serangan. Demikian dilaporkan Iranian Students News Agency (ISNA) pada Minggu (12/5). 

Pekan lalu militer AS mengirim kapal induk dan gugus tugas pengebom ke Timur Tengah dalam langkah yang disebut Washington sebagai tanggapan atas indikasi ancaman dari Iran terhadap pasukan AS di wilayah tersebut.

"Sebuah kapal induk yang membawa setidaknya 40 hingga 50 pesawat di dalamnya dan 6.000 pasukan yang berkumpul di dalamnya merupakan ancaman serius bagi kami di masa lalu, tetapi sekarang, hal itu kami anggap sebagai target serangan," jelas Hajizadeh. "Ancaman telah berubah menjadi peluang."

Hajizadeh pun menegaskan IRGC siap merespons gertakan AS. Mereka akan menyerang jika AS melakukan tindakan yang memprovokasi.

"Jika AS bergerak, kami akan serang mereka tepat di kepala," tuturnya.

Sebelumnya, Presiden AS Donald Trump telah meningkatkan tekanan ekonomi terhadap Iran dengan menerapkan sanksi untuk menghambat ekspor minyak negara itu.

Langkah itu diambil Trump sebagai upaya menekan Teheran agar mengekang program nuklir dan misilnya serta untuk mengakhiri dukungan mereka di Suriah, Irak, Lebanon, dan Yaman.

Berbicara kepada CNBC dalam sebuah wawancara yang akan tayang pada Senin (13/5), Menteri Luar Negeri AS Mike Pompeo menyebut penempatan pasukan AS merupakan tanggapan terhadap informasi intelijen yang mengatakan adanya potensi serangan Iran.

Sponsored

"Kami telah melihat laporan intelijen itu," kata Pompeo. "Ancaman tersebut nyata dan merupakan ancaman yang baru, itu yang kami khawatirkan sekarang."

Lebih lanjut lagi, Pompeo menerangkan selain untuk berjaga-jaga, langkah AS juga bertujuan untuk mencegah terjadinya serangan dan merespons bila perlu.

"Jika Iran memutuskan untuk menyerang kepentingan AS, baik itu di Irak, Afghanistan, Yaman, atau wilayah lainnya di Timur Tengah, kami siap untuk menanggapinya dengan cara yang tepat," lanjutnya.

Meski demikian, Pompeo menegaskan AS tidak menginginkan terjadi perang antara kedua negara.

Komandan Angkatan Laut Iran Laksamana Muda Hossein Khanzadi pada Minggu mendesak agar AS menarik mundur pasukan mereka.

"Kehadiran AS di kawasan Teluk Arab harus berakhir, mereka harus meninggalkan wilayah itu," tegasnya.

Mayor Jenderal Hossein Salami, yang baru dilantik sebagai Kepala IRGC pada April, mengatakan kepada Parlemen Iran bahwa AS telah memulai perang psikologis di wilayah tersebut.

"Mayjen Salami menyampaikan analisis bahwa AS memulai perang psikologis karena kedatangan dan kepergian militer mereka," kata juru bicara parlemen Behrouz Nemati.

Sumber : Reuters