logo alinea.id logo alinea.id

Iran resmi lampaui batas pengayaan uranium yang diizinkan

Organisasi Energi Atom Iran mengonfirmasi negara itu telah memperkaya uranium hingga kemurnian 4,5%, melampaui batas yang ditentukan JCPOA.

Valerie Dante
Valerie Dante Senin, 08 Jul 2019 19:43 WIB
Iran resmi lampaui batas pengayaan uranium yang diizinkan

Pada Senin (8/7), juru bicara Organisasi Energi Atom Iran Behrouz Kamalvindi mengancam akan mengaktifkan kembali mesin sentrifugal yang sebelumnya ditangguhkan dan meningkatkan pengayaan uranium menjadi 20%.

Keputusan Iran dapat menimbulkan pertanyaan serius tentang kelayakan kesepakatan nuklir 2015 (JCPOA). Pasalnya, kesepakatan itu bertujuan untuk mengekang ambisi nuklir Teheran.

Selain itu, Kamalvindi mengonfirmasi bahwa pihaknya telah memperkaya uranium hingga kemurnian 4,5%, melampaui batas 3,67% yang ditentukan dalam JCPOA.

Pernyataan itu menyusul pengumuman sepekan lalu yang menyatakan Iran telah menimbun lebih banyak uranium tingkat rendah yang diperkaya dari yang diizinkan berdasarkan JCPOA.

Iran mengatakan, dalam 60 hari, mereka akan mengambil langkah ketiga untuk melanggar JCPOA. Namun, sejauh ini Teheran belum mengumumkan secara detail.

Kamalvindi menuturkan, pihak berwenang sedang mendiskusikan opsi yang termasuk prospek pengayaan uranium hingga kemurnian 20% atau lebih, dan mengaktifkan kembali mesin sentrifugal yang dibongkar atas perintah JCPOA.

"Ada opsi pengayaan hingga 20%," kata Kamalvandi. "Mengaktifkan kembali sentrifugal IR-2 dan IR-2M juga merupakan pilihan yang dapat kami ambil."

Ancaman semacam itu akan memberi tekanan baru kepada negara-negara Eropa, yang bersikeras Iran harus mematuhi JCPOA meskipun Amerika Serikat tidak lagi melakukannya.

Sponsored

AS telah menjatuhkan sanksi atas Teheran, menghilangkan salah satu manfaat yang seharusnya diterima Iran sebagai imbalan pengekangan program nuklirnya.

Memperkaya uranium hingga kemurnian 20% akan menjadi langkah dramatis, karena itu adalah level pengayaan yang dicapai Iran sebelum JCPOA diberlakukan. Level itu dianggap sebagai tahap penting untuk mendapatkan 90% uranium fisil murni yang diperlukan untuk membuat bom.

Salah satu pencapaian utama dari JCPOA adalah komitmen Iran untuk membongkar mesin sentrifugal IR-2M yang digunakan untuk memurnikan uranium. Iran memiliki 1.000 mesin sejenis yang terpasang di situs pengayaan Natanz.

Berdasarkan JCPOA, Iran hanya diperbolehkan mengoperasikan maksimal dua mesin untuk pengujian mekanis.

Kamalvindi tidak merinci berapa banyak uranium yang akan dimurnikan ke tingkat yang lebih tinggi atau berapa banyak mesin sentrifugal yang dipertimbangkan untuk diaktifkan kembali.

Persoalan nuklir hanyalah satu dari sejumlah aspek konfrontasi antara Washington dan Teheran. Iran telah mengancam untuk memicu konflik sejak AS memperketat sanksi pada awal Mei.

Pada Juni, Donald Trump memerintahkan serangan udara terhadap Iran dan segera membatalkannya beberapa menit sebelum terjadi.

Sejumlah sekutu Washington memperingatkan bahwa kesalahan tidak disengaja kedua pihak dapat menyebabkan perang.

Dilema Eropa

JCPOA menjamin akses perdagangan dunia bagi Iran sebagai imbalan kepatuhan Teheran pada JCPOA. Kini, setelah AS ingkar, Iran menjamin kepatuhannya terhadap JCPOA akan berkurang secara bertahap.

"Jika para penandatangan kesepakatan, khususnya negara Eropa, gagal memenuhi komitmen mereka dengan cara yang serius, langkah ketiga yang kami ambil akan lebih kuat, lebih tegas dan mengejutkan," kata juru bicara Kementerian Luar Negeri Abbas Mousavi pada Senin.

Sanksi AS yang berlaku sejak Mei dimaksudkan untuk menghalangi Iran dari semua ekspor minyak. Itu telah berhasil mendorong Teheran keluar dari pasar minyak arus utama.

Negara-negara Eropa tidak secara langsung mendukung sanksi AS, tetapi mereka pun tidak dapat menemukan cara untuk memungkinkan Iran menghindari dampak buruk sanksi.

Inggris, salah satu sekutu utama Washington, terseret dalam konfrontasi pada pekan lalu ketika negara itu menangkap tanker minyak Iran yang diduga menuju ke Suriah, melanggar sanksi Uni Eropa.

Meskipun ketegangan antara Washington dan Teheran semakin terasa, tidak ada tanda-tanda bahwa kedua pihak siap untuk menghadapi konflik besar.

"Seperti yang berulang kali dinyatakan sebelumnya, Iran tidak ingin perang dengan negara mana pun, tetapi kami telah belajar untuk mempertahankan diri dengan baik," jelas Mayor Jenderal Abdolrahim Mousavi.

Sumber : Reuters