logo alinea.id logo alinea.id

Iran: Serangan siber AS gagal

Teheran dan Washington mencapai titik paling dekat ke konfrontasi militer langsung setelah Iran menembak jatuh pesawat pengintai AS.

Khairisa Ferida
Khairisa Ferida Senin, 24 Jun 2019 19:32 WIB
Iran: Serangan siber AS gagal

Iran pada Senin (24/6) mengatakan, serangan siber yang dilancarkan Amerika Serikat terhadap militernya berujung kegagalan. Di lain sisi, Teheran mengisyaratkan bersedia untuk membahas konsesi baru dengan Washington jika sanksi dicabut dan insentif baru ditawarkan.

Teheran dan Washington mencapai titik paling dekat ke konfrontasi militer langsung setelah Iran menembak jatuh pesawat pengintai AS pekan lalu. 

AS bersikeras bahwa drone itu terbang di wilayah udara internasional. Sementara Iran menegaskan, penembakan terhadap pesawat pengintai AS adalah pesan yang jelas bahwa perbatasan Iran adalah "garis merah". 

Donald Trump telah mengakui bahwa dirinya merencanakan serangan udara ke Iran pada Kamis (20/6) sebelum akhirnya membatalkannya karena diperhitungkan akan memakan banyak korban jiwa. Rencana serangan sudah dalam tahap awal, di mana jet-jet pengebom AS telah mengudara.

Media AS melaporkan bahwa Washington melancarkan serangan siber saat Trump membatalkan serbuan udara. The Washington Post dalam laporannya pada Sabtu (22/6) menyebutkan, serangan siber yang direncanakan sebelumnya telah melumpuhkan sistem peluncuran roket Iran.

"Mereka berusaha keras, tetapi serangan mereka belum berhasil," ungkap Menteri Teknologi Informasi dan Komunikasi Iran Mohammad Javad Azari Jahromi di Twitter.

Sekutu AS telah menyerukan langkah-langkah untuk meredakan krisis, dengan mengatakan, mereka khawatir kesalahan kecil di kedua pihak dapat memicu perang.

"Kami sangat prihatin. Kami meyakini kedua belah pihak tidak menginginkan perang, tetapi kami sangat khawatir bahwa kita dapat terlibat dalam perang yang tidak disengaja. Kami melakukan segala yang kami bisa untuk meredakan ketegangan," ungkap Menteri Luar Negeri Inggris Jeremy Hunt.

Sponsored

Eskalasi ketegangan antara AS dan Iran dimulai tahun lalu ketika AS menarik diri dari kesepakatan nuklir 2015 yang ditujukan mengekang program nuklir Iran dengan imbalan pencabutan sanksi.

Situasi kian memanas setelah Trump menerapkan kembali sanksi, meminta seluruh negara untuk berhenti membeli minyak Iran.

Beberapa pekan terakhir, terjadi sejumlah serangan terhadap tanker minyak. AS menuduh Iran mendalanginya, namun hal tersebut dibantah keras Teheran.

Washington juga menyalahkan Iran atas sejumlah serangan terhadap Arab Saudi yang diluncurkan dari Yaman, di mana aliansi yang dipimpin Arab Saudi memerangi kelompok Houthi.

Insentif baru

AS berpendapat bahwa kesepakatan nuklir 2015 yang dikenal dengan sebutan JCPOA tidak berjalan cukup efektif. Menurut mereka sanksi baru diperlukan untuk memaksa Iran kembali ke meja perundingan demi membuat lebih banyak konsesi.

Sepanjang eskalasi, kedua belah pihak telah mengatakan mereka bersedia melakukan pembicaraan lebih lanjut tetapi pihak lain harus lebih dulu mengubah perilakunya.

Dalam komentar terakhirnya, penasihat Presiden Hassan Rouhani mengulangi permintaan lama agar Washington mencabut sanksi sesuai dengan kesepakatan.

Tetapi, Hesameddin Ashena, juga mentwit pernyataan langka. Itu menyebutkan bahwa Iran bersedia membahas konsesi baru jika Washington bersedia memberikan insentif baru.

"Jika mereka menginginkan sesuatu di luar JCPOA, mereka harus menawarkan sesuatu di luar JCPOA; dengan jaminan internasional," twit Ashena.

Juru bicara Kementerian Luar Negeri Iran Abbas Mousavi dikutip oleh kantor berita ISNA mengatakan pada Senin bahwa Teheran tidak menginginkan peningkatan ketegangan dan konsekuensinya. Itu senada dengan Trump yang mengatakan, dia tidak menginginkan perang dengan Iran dan siap untuk mengejar kesepakatan.

Sekutu AS di Eropa dan Asia memandang keputusan Trump untuk meninggalkan kesepakatan nuklir 2015 sebagai suatu kesalahan. Mereka menilai langkah itu akan memperkuat kelompok garis keras di Iran dan melemahkan faksi pragmatis Rouhani.

Menlu AS sambangi Timur Tengah

Di tengah ketegangan yang terjadi, Menteri Luar Negeri AS Mike Pompeo berkunjung ke Arab Saudi dan bertatap muka dengan Raja Salman serta Putra Mahkota Pangeran Mohammed bin Salman (MBS) pada Senin. 

Lawatan Pompeo digambarkan sebagai upaya untuk mempromosikan koalisi anti-Iran.

"Anda adalah kawan baik," ungkap Raja Salman kepada Pompeo, yang dijadwalkan akan melanjutkan lawatannya ke Uni Emirat Arab.

Saat masih berada di AS, Pompeo menuturkan bahwa Arab Saudi dan Uni Emirat Arab adalah sekutu utama atas tantangan yang disajikan Iran.

"Kami akan berbicara dengan mereka tentang bagaimana memastikan bahwa kita semua selaras secara strategis serta bagaimana kita dapat membangun koalisi global," tutur Pompeo.

Menlu AS itu mengulang kembali tawaran dialog Trump untuk meningkatkan hubungan dengan Iran. "Kami siap bernegosiasi tanpa prasyarat. Mereka tahu betul bagaimana menemukan kami." (Reuters dan The Guardian)