sun
moon
a l i n e a dot id
fakta data kata
logo alinea.id

Iran siap bertukar seluruh tahanan dengan AS

Hal ini ditegaskan Iran dua hari setelah kesuksesan pertukaran tahanan dengan AS.

Khairisa Ferida
Khairisa Ferida Selasa, 10 Des 2019 08:54 WIB
Iran siap bertukar seluruh tahanan dengan AS
Informasi mutakhir perkembangan Covid-19 di Indonesia bisa dilihat di sini
Terinfeksi 271339
Dirawat 61628
Meninggal 10308
Sembuh 199403

Menteri Luar Negeri Iran Mohammad Javad Zarif mengatakan, pihaknya seutuhnya siap melakukan pertukaran tahanan penuh dengan Amerika Serikat. Pernyataan tersebut dilontarkan Zarif pada Senin (9/12), dua hari setelah kedua negara sukses melakukan pertukaran tahanan.

"Setelah mendapatkan warga kami yang disandera pekan ini, kami sepenuhnya siap untuk pertukaran tahanan yang komprehensif. Bola ada di pengadilan AS," twit Zarif.

Pertukaran tahanan pada Sabtu (7/12) melibatkan Xiyue Wang, seorang warga negara AS kelahiran China yang ditahan di Iran sejak 2016, dan Massoud Soleimani, seorang ilmuwan Iran yang ditahan di AS.

Setelah pertukaran tahanan yang dinegosiasikan secara tidak langsung dan bergulir di Swiss yang netral, Presiden AS Donald Trump berterima kasih kepada Iran atas apa yang disebutnya sebagai negosiasi yang sangat adil.

Meski demikian, pemerintah Iran menolak gagasan bahwa kesuksesan pertukaran tahanan tersebut merupakan hasil dari negosiasi antara AS-Iran, yang memang belum memiliki hubungan diplomatik sejak 1980.

"Ini hanyalah pertukaran dan ... mengenai pertukaran kami siap untuk bertindak tetapi tidak ada negosiasi," ujar juru bicara pemerintah Ali Rabiei.

"Negosiasi atau segala jenis pembicaraan hanya dapat terjadi dalam kerangka P5+1 dan setelah AS menahan diri dari sanksi dan terorisme ekonomi."

Sponsored

Kelompok P5+1 adalah negara-negara yang menyetujui kesepakatan nuklir dengan Iran pada 2015. Mereka adalah lima anggota tetap Dewan Keamanan PBB yang memiliki hak veto, yaitu AS, Inggris, Prancis, Rusia, dan China, ditambah Jerman.

Kesepakatan nuklir tersebut telah menggantung sejak setahun lalu, ketika Trump secara sepihak menarik AS keluar dari pakta itu dan mulai menerapkan kembali sanksi terhadap Iran sebagai bagian dari tekanan maksimum untuk memaksa Teheran agar balik ke meja perundingan.

Trump sejak awal menilai kesepakatan nuklir 2015 yang dicapai oleh pemerintahan Barack Obama cacat dan merugikan AS.

Ada pun pemerintah Iran telah menuntut agar AS lebih dulu mencabut sanksi sebelum kembali bernegosiasi di bawah naungan P5+1. Teheran juga telah mengambil langkah yang menunjukkan pengurangan komitmennya terhadap kesepakatan nuklir.

Rabiei menuturkan bahwa pertukaran tahanan terjadi meski AS menolak tawaran Teheran tahun lalu untuk melakukan pertukaran semua tahanan.

Presiden Iran melawat ke Jepang?

Sementara itu, media Jepang melaporkan bahwa Presiden Iran Hassan Rouhani kemungkinan akan mengunjungi Tokyo pada 20 Desember. Beberapa laporan menyebut bahwa AS telah memberi lampu hijau atas lawatan tersebut.

PM Shinzo Abe pada Senin menuturkan bahwa pemerintahannya mempertimbangkan mengundang Presiden Rouhani untuk kunjungan kenegaraan.

Jepang disebut telah berusaha memosisikan diri sebagai mediator sewaktu-waktu ketegangan meningkat antara sekutunya Washington dan Teheran.

"Kunjungan Presiden Rouhani ke Jepang sekarang tengah dipertimbangkan," kata Abe. "Jepang, yang memiliki aliansi dengan AS dan pada saat yang sama berhasil mempertahankan hubungan baik dengan Iran untuk waktu yang lama, harus menempa jalannya sendiri."

"Saya ingin melakukan upaya diplomatik sebanyak mungkin untuk membantu meredakan ketegangan dan menstabilkan situasi di kawasan dengan melanjutkan dialog," tambah PM Abe.

Jika perjalanan tersebut terjadi, Rouhani akan menjadi Presiden Iran pertama yang mengunjungi Jepang sejak 2000. (Al Jazeera)

Berita Lainnya
×
img