sun
moon
logo alinea.id logo alinea.id

Italia dan Prancis sepakat soal imigran

Italia, lama mengeluh bahwa mereka telah dibiarkan seorang diri dalam menangani krisis migran.

Khairisa Ferida
Khairisa Ferida Kamis, 19 Sep 2019 16:45 WIB
Italia dan Prancis sepakat soal imigran

Uni Eropa harus memperkenalkan sebuah sistem otomatis baru untuk menerima migran yang diselamatkan dari Mediterania. Hal tersebut disampaikan oleh pemimpin Italia dan Prancis pada Rabu (18/9), ketika keduanya berusaha memperbaiki hubungan bilateral yang sempat retak. 

Italia, lama mengeluh bahwa mereka telah dibiarkan seorang diri dalam menangani ratusan ribu migran yang mencari kehidupan lebih baik di Eropa.

Isu ini memicu ketegangan antara Roma dan Paris, di mana Italia mengeluh bahwa organisasi non-pemerintah Prancis telah berperan dalam menyelamatkan migran sementara Prancis belum berbuat cukup untuk menangani mereka.

Tetapi Presiden Emmanuel Macron telah menyatakan bahwa pemerintahannya akan menyelesaikan perselisihan soal ini.

"Saya tidak meremehkan apa yang telah dialami Italia sejak 2015. Telah terjadi banyak kesalahpahaman dan ketidakadilan," kata Macron kepada wartawan di Roma saat konferensi pers bersama PM Italia Giuseppe Conte.

"Saya yakin bahwa mekanisme otomatis dari Eropa diperlukan untuk penerimaan imigran."

Conte menuturkan bahwa pihaknya telah menerima dukungan Prancis atas sistem redistribusi migran, yang berarti seluruh negara anggota Uni Eropa akan secara otomatis mendapat jatah migran yang harus ditangani segera setelah mereka diselamatkan.

Macron menyatakan bahwa negara-negara Uni Eropa yang menolak untuk ambil bagian dalam skema tersebut harus mendapat "hukuman berat". Mereka tidak mengumumkan rincian lebih lanjut, hanya mengatakan bahwa isu ini akan segera dibahas oleh para menteri dalam negeri Uni Eropa. 

Sponsored

"Isu imigrasi tidak boleh lagi memicu propaganda antiEropa," kata Conte.

Relasi Italia dan Prancis, yang secara tradisional merupakan sekutu dekat, retak di bawah pemerintahan sebelumnya. Matteo Salvini yang merupakan wakil PM saat itu dan Luigi Di Maio yang menjabat sebagai menteri luar negeri berulang kali menyerang Macron, mayoritas soal imigrasi.

Pada Februari, Paris menarik duta besarnya di Roma untuk pertama kalinya sejak Perang Dunia II setelah Di Maio bertemu dengan anggota gerakan rompi kuning, yang memprotes reformasi ekonomi liberal ala Macron.

Di Maio kemudian menurunkan nada permusuhannya ke Prancis dan Gerakan Bintang Lima yang dipimpinnya masih berada dalam koalisi Conte.

"Persahabatan Italia-Prancis tidak bisa dihancurkan. Kita tidak selalu sepakat satu sama lain. Kita mungkin bertengkar atau gagal sependapat. Tapi kita selalu akan kembali bersama," ujar Macron.

Sumber : Reuters