sun
moon
a l i n e a dot id
fakta data kata
logo alinea.id

Italia laporkan 4 kematian setelah terima vaksin AstraZeneca

Italia sebelumnya sempat menghentikan vaksinasi AstraZeneca bulan lalu setelah masalah kasus pembekuan darah muncul.

Valerie Dante
Valerie Dante Jumat, 16 Apr 2021 12:45 WIB
Italia laporkan 4 kematian setelah terima vaksin AstraZeneca

Empat orang dilaporkan meninggal di Italia karena kondis pembekuan darah atau trombosis setelah mereka menerima vaksin Covid-19 milik AstraZeneca. Pernyataan tersebut dilaporkan oleh badan farmasi nasional Italia, AIFA, pada Kamis (15/4).

Laporan AIFA mengatakan, berbagai efek samping terlihat setelah 0,5% dari 9,07 juta dosis yang diberikan antara 27 Desember 2020 hingga 26 Maret 2021, dengan ketiga vaksin sejauh ini digunakan dilaporkan telah memicu reaksi yang tidak diinginkan.

Ketiga vaksin yang dimaksud merupakan vaksin milik Pfizer, AstraZeneca, dan Moderna.

Menurut AIFA, efek samping yang parah tercatat pada 0,04% kasus.

Efek samping ringan telah dilaporkan setelah penggunaan ketiga vaksin tersebut menambahkan sebagian besar gejala mirip flu, nyeri di tempat suntikan, dan kelelahan.

Seperti banyak negara Eropa lainnya, Italia sempat menghentikan vaksinasi menggunakan suntikan AstraZeneca bulan lalu ketika masalah pembekuan darah muncul. 

Sejak itu, Italia telah melanjutkan program vaksinasi bagi mereka yang berusia 60 tahun ke atas setelah regulator obat-obatan Uni Eropa menyimpulkan bahwa manfaat vaksin AstraZeneca lebih besar daripada risikonya.

AIFA melaporkan, ada 11 kasus di Italia di mana orang mengembangkan satu dari dua jenis pembekuan darah setelah suntikan AstraZeneca mereka, trombosis sinus vena serebral (CVST) dan trombosis yang melibatkan banyak pembuluh darah (DVT).

Sponsored

CVST merupakan penggumpalan di pembuluh darah otak, sementara DVT dijelaskan sebagai kondisi pembekuan di satu atau sejumlah pembuluh darah vena.

Empat dari 11 orang itu tewas. AIFA tidak merinci lebih lanjut apakah empat orang tersebut meninggal karena CVST atau DVT. AstraZeneca mengatakan pihaknya tengah bekerja untuk memahami kasus individu dan kemungkinan mekanisme yang dapat menjelaskan peristiwa yang sangat langka ini.

Sumber : Reuters

Berita Lainnya