logo alinea.id logo alinea.id

Jelang pemilu, PM Israel sambangi Hebron

Kunjungan PM Netanyahu dinilai bagian dari upayanya untuk mendapat dukungan kalangan ultranasionalisme.

Khairisa Ferida
Khairisa Ferida Jumat, 06 Sep 2019 09:59 WIB
Jelang pemilu, PM Israel sambangi Hebron

Perdana Menteri Israel Benjamin Netanyahu melakukan kunjungan kontroversial ke Kota Hebron di Tepi Barat yang diduduki. Kedatangannya secara luas dianggap sebagai bagian dari upaya untuk menggalang dukungan dari kalangan ultranasionalisme jelang pemilu yang akan berlangsung dalam waktu kurang dari dua pekan.

Pada Rabu (4/9), Netanyahu berpidato di luar situs suci yang diperebutkan, yang oleh bangsa Yahudi dikenal sebagai Gua Makhpela dan bagi umat Islam disebut Masjid Ibrahimi.

Netanyahu mengatakan bahwa Hebron tidak akan menjadi "Judenrein". Itu merupakan istilah yang digunakan selama Nazi Jerman untuk menyebut "bebas dari Yahudi".

"Kami tidak berusaha untuk melucuti hak seseorang, tetapi tidak ada yang akan mencabut hak waris kami," ujar Netanyahu. "Kita bukan orang asing di Hebron, kita akan tetap di sini selamanya."

Sekitar 800 pemukim Yahudi tinggal di Hebron dengan pengamanan militer Israel yang ketat, mereka dikelilingi sekitar 200.000 warga Palestina. 

Pada 1994, Baruch Goldstein, seorang ultranasionalisme Yahudi, melancarkan penembakan massal di Masjid Ibrahimi. Tragedi itu menewaskan 29 jemaah dan melukai sejumlah lainnya sebelum dia terbunuh.

Permukiman Israel di Hebron dilaporkan sangat mendukung partai-partai nasionalis agama dalam pemilu sebelumnya, dengan hanya 7,5% dari pemukim di sana memilih Partai Likud.

Otoritas Palestina (PA) mengutuk kunjungan Netanyahu, dengan sejumlah pengunjuk rasa Palestina membakar foto-foto pemimpin Israel itu. Media Israel menyebut ini merupakan kunjungan perdananya sejak 1998.

Sponsored

"Ini murni kunjungan kolonialis, rasis, yang dilakukan Netanyahu di puncak pertarungan pemilu dalam upaya memenangkan suara kelompok kanan dan ekstrem kanan," sebut Kementerian Luar Negeri Palestina dalam pernyataannya.

Israel menduduki Tepi Barat dalam perang 1967, sebuah langkah yang tidak diakui oleh masyarakat internasional. Palestina menginginkan Tepi Barat sebagai bagian dari negara masa depan mereka yang akan mencakup Jalur Gaza dengan Yerusalem Timur sebagai ibu kotanya.

Sumber : Al Jazeera