sun
moon
logo alinea.id logo alinea.id

Jepang akan kirim kapal perang ke Timur Tengah

Pengiriman kapal perang dan pesawat patroli ini dilakukan di tengah situasi Timur Tengah yang tidak menentu.

Valerie Dante
Valerie Dante Jumat, 27 Des 2019 14:23 WIB
Jepang akan kirim kapal perang ke Timur Tengah

Pada Jumat (27/12), Sekretaris Kabinet Jepang Yoshihide Suga mengumumkan bahwa pihaknya akan mengirim kapal perang dan pesawat patroli untuk melindungi kapal-kapal Jepang yang melewati Timur Tengah.

Di bawah rencana yang disetujui oleh kabinet Perdana Menteri Shinzo Abe, sebuah kapal perusak yang dilengkapi helikopter dan dua pesawat patroli P-3C akan dikirim untuk mengamankan jalan bagi kapal-kapal Jepang yang berlayar melalui kawasan tersebut.

Jika terjadi keadaan darurat, Menteri Pertahanan Jepang akan mengeluarkan perintah khusus yang memungkinkan pasukan bersenjata melindungi kapal yang sedang dalam bahaya.

"Perdamaian dan stabilitas di Timur Tengah sangat penting bagi perdamaian dan kemakmuran masyarakat internasional, termasuk Jepang," kata Suga dalam konferensi pers reguler. "Sangat penting untuk memastikan bahwa kapal-kapal Jepang dapat berlayar dengan aman di kawasan yang merupakan sumber energi utama dunia itu."

Para importir dan penyuling minyak menyambut baik keputusan pemerintah Jepang.

"Situasi di Timur Tengah tidak dapat diprediksi ... Kami meyakini keputusan pemerintah akan bermanfaat bagi perjalanan yang aman untuk kapal-kapal di kawasan tersebut," jelas Presiden Asosiasi Perminyakan Jepang Takashi Tsukioka.

Jepang, sekutu Amerika Serikat yang juga menjaga hubungan persahabatan dengan Iran, telah memilih untuk meluncurkan operasi sendiri daripada bergabung dengan misi yang dipimpin Washington untuk melindungi pengiriman jalur laut di wilayah tersebut.

Pekan lalu, Abe memberi tahu Presiden Iran Hassan Rouhani mengenai rencana Tokyo mengirim pasukan angkatan laut ke Teluk.

Sponsored

Operasi tersebut rencananya akan mencakup laut lepas di Teluk Oman, bagian utara Laut Arab dan Teluk Aden, tetapi tidak akan menjangkau Selat Hormuz.

Pemerintah Jepang berencana untuk memulai operasi patroli pesawat pada Januari, sementara kapal perusak kemungkinan akan mulai beraktivitas di kawasan pada Februari.

Operasi ini akan berlaku hingga 26 Desember 2020. Setelah tenggat tersebut, dibutuhkan persetujuan baru dari kabinet untuk melanjutkan kegiatan angkatan bersenjata di Timur Tengah.

Eropa juga berencana meluncurkan operasi untuk memastikan keamanan pelayaran di Teluk mulai Januari. Kapal-kapal perang milik Prancis akan berpatroli di sana.

Ketegangan di Timur Tengah salah satunya dipicu oleh Iran dan AS. Hubungan antara kedua negara memanas sejak 2018, saat Presiden Donald Trump secara sepihak menarik diri dari kesepakatan nuklir 2015 (JCPOA) dan kemudian menerapkan kembali sanksi yang melumpuhkan ekonomi Teheran.

Pada Mei dan Juni, terjadi serangkaian serangan terhadap kapal dagang internasional di Timur Tengah, termasuk tanker milik Jepang, Kokuka Courageous. AS menuduh Iran sebagai pihak yang bertanggung jawab atas serangan tersebut. Teheran secara konsisten membantah tudingan itu.

Sumber : Reuters

Berita Lainnya