logo alinea.id logo alinea.id

Jepang desak Inggris hindari no-deal Brexit

Sekitar 1.000 perusahaan Jepang yang beroperasi di Inggris khawatir akan dampak negatif jika Inggris hengkang dari UE tanpa kesepakatan.

Valerie Dante
Valerie Dante Jumat, 28 Jun 2019 09:08 WIB
Jepang desak Inggris hindari no-deal Brexit

Menteri Luar Negeri Taro Kono mengatakan Jepang sangat khawatir akan potensi implikasi dari Brexit tanpa kesepakatan (no-deal Brexit). 

Dia menyatakan bahwa sekitar 1.000 perusahaan Jepang yang beroperasi di Inggris khawatir akan dampak negatif yang dapat memengaruhi mereka jika Inggris hengkang dari Uni Eropa tanpa kesepakatan.

"Ada lebih dari 1.000 perusahaan Jepang yang beroperasi di Inggris sehingga kami sangat khawatir akan dampak no-deal Brexit terhadap perusahaan-perusahaan itu," katanya.

Berbicara menjelang KTT G20 yang akan berlangsung di Osaka pada 28-29 Juni, Taro menyatakan Jepang tidak ingin ada yang mengganggu hubungan ekonomi dengan Inggris.

Dia mengatakan telah mendesak kandidat pemimpin Partai Konservatif yang calon Perdana Menteri Inggris, Boris Johnson dan Jeremy Hunt, untuk menghindari opsi no-deal Brexit. Persoalan no-deal Brexit, jelasnya, selalu menjadi isu utama yang dia bahas jika bertemu dengan kedua politikus Inggris itu.

Taro mengaku sangat dekat dengan Johnson dan Hunt.

"Saya telah bekerja dengan mereka. Jadi siapa pun yang menang, siapa pun yang menjadi pemimpin baru Inggris, saya harap dia akan mempertimbangkan kepentingan perusahaan-perusahaan asing yang beroperasi di Inggris dan menjaga mereka dengan baik," ucapnya.

Menurutnya, sejumlah perusahaan Jepang yang bergerak di industri manufaktur mobil khawatir no-deal Brexit dapat menghambat aliran suku cadang dari Uni Eropa ke Inggris.

Sponsored

"Saat ini kegiatan perusahaan-perusahaan itu berjalan lancar ... Tetapi jika ada no-deal Brexit, dan jika suku cadang itu harus melewati pemeriksaan pabean, pekerjaan mereka dapat terhambat," jelas Taro.

Selain itu, Taro menuturkan bahwa sejumlah perusahaan Jepang khawatir akan implikasi hengkangnya Inggris dari Uni Eropa karena mereka tidak dapat memprediksi apa yang akan terjadi. Oleh sebab itu, beberapa dari mereka mulai memindahkan tempat operasi ke negara lain di Eropa.

Dia menambahkan, Jepang tidak akan menandatangani kesepakatan perdagangan baru dengan Inggris sebelum negara itu resmi cerai dengan Uni Eropa pada 31 Oktober.

Inggris menyatakan keinginan untuk bergabung dengan pakta perdagangan yang dikenal sebagai Kemitraan Trans-Pasifik (TPP) bersama Jepang dan sejumlah negara lainnya. Taro mengatakan bahwa meski hal itu mungkin terjadi, negosiasi tidak dapat berjalan sampai Inggris keluar dari Uni Eropa.

"Walaupun Jepang dengan senang hati akan menegosiasikan kesepakatan perdagangan baru dengan Inggris, saya pikir Inggris harus keluar dari Uni Eropa terlebih dahulu," tegasnya.

Ditanya apakah kesepakatan perdagangan bebas dengan Jepang dapat disepakati pada 31 Oktober, Taro meragukannya. Namun dia menekanakan Jepang tetap ingin memperkuat hubungan bilateral dengan Inggris.

Takahito Tokita, presiden perusahaan Jepang terbesar di Inggris, Fujitsu, menuturkan bahwa ketidakpastian terkait Brexit menyulitkan perusahaannya.

Dia menyatakan bahwa rencana darurat telah dibuat untuk mengantisipasi efek Brexit. Namun, Takahito memastikan bahwa perusahaannya, yang mempekerjakan 10.000 warga lokal, tidak akan memindahkan kantornya ke luar Inggris.

Sumber : BBC