logo alinea.id logo alinea.id

Kali ketiga, China tangkap warga negara Kanada

Tensi tinggi mewarnai hubungan bilateral China dan Kanada pasca-penangkapan eksekutif Huawei Meng Wanzhou pada 1 Desember 2018.

Khairisa Ferida
Khairisa Ferida Kamis, 20 Des 2018 11:41 WIB
Kali ketiga, China tangkap warga negara Kanada

Pemerintah China kembali menahan seorang warga negara Kanada. Tindakan Beijing dinilai dapat memperburuk krisis diplomatik kedua negara dan mendorong Amerika Serikat untuk melunak atas tuduhan yang mereka alamatkan kepada Meng Wanzhou, direktur keuangan global raksasa telekomunikasi Tiongkok, Huawei.

Mengomentari penangkapan terbaru warga negaranya oleh China, PM Kanada Justin Trudeau pada Rabu (19/12) mengatakan bahwa kasus ketiga tampaknya tidak terkait dengan dua kasus sebelumnya.

"Dua situasi tersebut sangat berbeda," ujar PM Trudeau dalam sebuah konferensi pers di Ottawa. 

Sang PM menambahkan bahwa penangkapan ketiga merupakan kasus rutin, tidak melibatkan semacam tuntutan keamanan nasional yang dikenakan kepada dua warga Kanada sebelumnya. Dia menyebut, kemungkinan itu terkait persoalan visa.

Seorang anggota Parlemen menguatkan pernyataan PM Trudeau. Erin O'Toole, anggota parlemen konservatif dalam wawancarannya dengan The Canadian Press menerangkan bahwa warga negara Kanada ketiga yang ditangkap atas persoalan visa adalah seorang guru bernama Alberta.

Menurut O'Toole, Alberta telah mengajar di China selama berbulan-bulan dan sebelumnya tidak memiliki masalah dengan visanya. O'Toole sendiri tidak tahu apakah wanita itu masih ditahan saat ini.

Kementerian Luar Negeri Kanada lewat juru bicaranya, Maegan Graveline, pada Rabu kemarin juga telah mengonfirmasi penahanan seorang warganya. Mereka memastikan bahwa bantuan konsuler telah diberikan kepada pihak keluarga. 

"Pejabat konsuler telah memberikan bantuan kepada keluarga. Berdasarkan ketentuan di bawah Privacy Act, tidak ada lagi informasi lebih lanjut yang dapat diungkapkan," terang Graveline.

Sponsored

Sementara itu, di Beijing pada hari yang sama, juru bicara Kementerian Luar Negeri China Hua Chunying menuturkan tidak mengetahui perihal kasus terbaru. 

"Saya belum mendengar apa pun tentang situasi yang Anda tanyakan," ungkap Hua merespons pertanyaan wartawan.

Kabar tentang penahanan terakhir ini muncul lebih dari sepekan setelah dua warga Kanada lainnya ditahan dalam kesempatan berbeda.

Michael Kovrig, seorang mantan diplomat yang kini bekerja sebagai analis di International Crisis Group (ICG) adalah warga Kanada pertama yang ditangkap pasca-penahanan Meng Wanzhou di Bandara Internasional Vancouver pada 1 Desember 2018.

Meng Wanzhou ditangkap atas permintaan Amerika Serikat karena dituduh melanggar sanksi yang dijatuhkan terhadap Iran. Putri dari pendiri Huawei Ren Zhengfei itu bebas dengan membayar uang jaminan sebesar US$7,4 juta. Meski demikian, Meng Wanzhou belum sepenuhnya bisa lega karena dia masih harus menanti sidang ekstradisi.

Beijing murka atas penangkapan Meng Wanzhou. Mereka memperingatkan bahwa Kanada akan menghadapi konsekuensi serius jika tidak membebaskan Meng Wanzhou.

Warga negara Kanada kedua yang ditangkap oleh China adalah Michael Spavor, seorang pengusaha yang bermarkas di kota Dandong, China. Spavor mengelola Paektu Cultural Exchange, yang memfasilitasi pertukaran olahraga, budaya, bisnis, dan pariwisata dengan Korea Utara.

Baik Kovrig mau pun Spavor ditangkap dengan tuduhan melakukan kegiatan yang membahayakan keamanan nasional China. Namun, banyak yang melihat penahanan keduanya sebagai tit for tat atau pembalasan setara atas penangkapan Meng Wanzhou.

PM Trudeau: Pernyataan politik tidak selalu membantu

Ditanya pada titik mana dia akan menyampaikan kekhawatiran atas penahanan warga negaranya kepada Presiden Xi Jinping, PM Trudeau menyatakan bahwa sikap atau pernyataan politik tidak selalu membantu.

"Eskalasi atau pernyataan politik yang sangat kuat sebenarnya juga bisa menjadi kontraproduktif. Eskalasi dan sikap politik mungkin memuaskan dalam jangka pendek untuk membuat diri Anda tampak seperti ... melakukan sesuatu yang signifikan, namun mungkin tidak berkontribusi pada hasil yang diinginkan semua orang," ujar PM Trudeau.

China dan Kanada saat ini tengah merundingkan perjanjian perdagangan bebas. Kritikus mengatakan bahwa penangkapan dapat menghambat perundingan.

Steve Tsang, direktur SOAS China Institute di London menilai bahwa citra China di mata internasional akan terancam jika penangkapan warga Kanada dilakukan terkait dengan kasus Meng Wanzhou.

"Diplomasi penyanderaan ditentang komunitas internasional dan negara mana pun yang mempraktikkannya akan secara sigfinikan merusak reputasi, citra internasional dan kredibilitasnya sebagai mitra internasional," jelas Tsang. (The New York Times, South China Morning Post, dan Global News)