sun
moon
a l i n e a dot id
fakta data kata
logo alinea.id

Kasus Covid-19 melonjak, Inggris perketat aktivitas sosial

Peningkatan tajam terjadi saat jumlah kasus menjadi 1.000 per hari pada Agustus.

Angelin Putri Syah
Angelin Putri Syah Rabu, 09 Sep 2020 10:14 WIB
Kasus Covid-19 melonjak, Inggris perketat aktivitas sosial
Informasi mutakhir perkembangan Covid-19 di Indonesia bisa dilihat di sini
Terinfeksi 291182
Dirawat 61839
Meninggal 10856
Sembuh 218487

Perdana Menteri (PM) Inggris, Boris Johnson, akan memperketat aktivitas sosial di seluruh wilayah dalam upaya mengendalikan penyebaran coronavirus baru (Covid-19).

"Mulai 14 September, kelompok yang terdiri lebih dari enam orang akan dilarang bertemu dan didenda jika mereka melanggarnya," katanya, Rabu (9/9) waktu setempat. Mulanya, jumlah kerumunan yang diizinkan maksimal 30 orang.

Kasus Covid-19 di Inggris kembali meningkat tajam dalam beberapa hari terakhir. Meskipun pengujian telah dilakukan lebih luas dan jumlah pasien di rumah sakit (RS) di bawah puncak wabah, para menteri khawatir infeksi lepas kendali.

"Kita perlu bertindak sekarang untuk menghentikan penyebaran virus," kata Johnson. "Jadi, kami menyederhanakan dan memperkuat aturan tentang kontak sosial, membuatnya lebih mudah dipahami dan untuk ditegakkan oleh polisi."

Terkonfirmasi 2.460 kasus baru pada Selasa (8/9) waktu setempat. Peningkatan tajam terjadi sejak jumlah kasus per hari menjadi 1.000 pada Agustus dan penularan mayoritas terjadi di golongan muda.

Aturan baru ini tidak akan berlaku di tempat kerja atau sekolah. Pun dikecualikan bagi acara pernikahan, pemakaman, dan beberapa tim olahraga. 

Sementara itu, Skotlandia, Wales, dan Irlandia Utara menetapkan kebijakan karantina wilayah (lockdown) sendiri.

Meskipun begitu, ini dianggap langkah mundur dalam pemulihan Inggris dari pandemi dibanding negara-negara Eropa lainnya. Juga memicu kritik luas terhadap kepemimpinan Johnson.

Sponsored

Keputusan tersebut dinilai akan menggagalkan upaya pemerintah dalam memperbaiki ekonomi di perkotaan dan meyakinkan publik yang skeptis, bahwa aman untuk kembali ke tempat kerja mereka. (Reuters)

Berita Lainnya

, : WIB

, : WIB

, : WIB