sun
moon
logo alinea.id logo alinea.id

Kawanan belalang serbu Uganda dan Tanzania

Serbuan kawanan besar belalang ini membawa ancaman kelaparan.

Valerie Dante
Valerie Dante Selasa, 11 Feb 2020 17:59 WIB
Kawanan belalang serbu Uganda dan Tanzania

PBB mengatakan bahwa kawanan besar hama belalang yang menyerbu sebagian besar Afrika Timur telah mencapai Uganda dan Tanzania, membawa ancaman kelaparan di negara-negara itu.

Tanzania telah mendeteksi kawanan belalang tersebut di daerah perbatasan utara dekat Gunung Kilimanjaro. Pemerintah setempat menyewa tiga pesawat untuk menyemprot pestisida, sebuah taktik yang dinilai paling efektif untuk melawan penyebaran hama.

Sementara itu, pihak berwenang Uganda mengirimkan persediaan pestisida ke daerah-daerah yang terdampak dan telah memobilisasi ribuan tentara.

"Kami menggunakan penyemprot pestisida manual, beroda, dan drone," tutur pejabat Kementerian Pertanian Uganda Stephen Byantwale. "Belalang-belalang itu menyebar seperti api, mereka benar-benar ancaman besar."

Serbuan hama belalang di Afrika timur dilaporkan sebagai yang paling serius dalam beberapa dekade terakhir dan telah menghancurkan sejumlah besar tanaman di Kenya dan Somalia.

Pakar iklim menyatakan bahwa hujat lebat dan topan kuat di Somalia pada Desember merupakan faktor utama serbuan hama tersebut. Mereka menyebut, belalang-belalang itu datang dari wilayah Arab setelah angin topan memicu tingginya curah hujan di padang pasir di Oman, menciptakan kondisi sempurna bagi proses perkembangbiakan belalang.

Kawanan belalang sepanjang 60 km dengan lebar 40 km dilaporkan terlihat di wilayah timur laut Kenya. Bahkan sekawanan kecil belalang disebut dapat mengonsumsi makanan yang cukup untuk 35.000 orang dalam sehari.

Dengan curah hujan tinggi diperkirakan akan berlanjut di Afrika timur sampai beberapa minggu mendatang, para pakar khawatir jumlah belalang akan tumbuh 500 kali lipat hingga Juni. Otoritas regional menyatakan bahwa satu kawanan tunggal dapat berisi hingga 150 juta belalang.

Sponsored

Salah satu tantangan yang dihadapi adalah banyak belalang berkembang biak di Puntland, wilayah semiotonom di Somalia. Sebagian besar wilayah di sana dikuasai oleh kelompok ekstremis al-Shabaab, membuat pemerintah sulit melakukan penyemprotan pestisida dari udara untuk membunuh hama.

Serbuan hama belalang memicu kekhawatiran bagi Sudan Selatan, di mana hampir separuh masyarakat di negara itu menghadapi kelaparan akibat perang saudara yang berlangsung selama bertahun-tahun.

Sebelum serangan hama tersebut, hampir 20 juta orang menghadapi tingkat kerawanan pangan yang tinggi di wilayah Afrika timur yang telah lama dilanda oleh kekeringan dan banjir. Meski belum jelas apa penyebabnya, beberapa pakar menyalahkan perubahan iklim sebagai faktor pemicu serbuan belalang.

"Kita tahu bahwa angin topan adalah pemicu munculnya kawanan belalang. Dalam 10 tahun terakhir telah terjadi peningkatan frekuensi topan di Samudra Hindia," kata Keith Cressman, pejabat senior di bidang peramalan hama di Organisasi Pangan dan Pertanian PBB (FAO) pada awal Februari. "Jika tren peningkatan frekuensi topan di Samudra Hindia berlanjut, maka tentu akan ada peningkatan kawanan belalang di Afrika timur."

Ancaman hama di Afrika timur berasal dari belalang gurun, salah satu dari sejumlah spesies serangga yang membentuk kawanan. Ada enam krisis hama belalang di Afrika, yang terakhir terjadi pada 1987-1989. (The Guardian)

Berita Lainnya