sun
moon
a l i n e a dot id
fakta data kata
logo alinea.id

Kematian akibat Covid-19 di Inggris lampaui 50.000

Jumlah kematian di Inggris lebih tinggi daripada negara-negara yang terkena dampak terburuk lainnya di Eropa. 

Valerie Dante
Valerie Dante Kamis, 12 Nov 2020 16:49 WIB
Kematian akibat Covid-19 di Inggris lampaui 50.000
Informasi mutakhir perkembangan Covid-19 di Indonesia bisa dilihat di sini
Terinfeksi 534.266
Dirawat 66.752
Meninggal 16.825
Sembuh 445.793

Inggris pada Rabu (11/11) mencapai tonggak sejarah yang suram dengan jumlah resmi kematian akibat Covid-19 melewati 50.000.

Jumlah kematian Inggris lebih tinggi daripada negara-negara yang terkena dampak terburuk lainnya di Eropa. Selain Inggris, Amerika Serikat, Brasil, India, dan Meksiko juga telah mencatat fatalitas yang melampaui 50.000.

Perdana Menteri Boris Johnson mengatakan, Inggris belum keluar dari masa-masa kritis bahkan ketika Pfizer pekan ini mengumumkan bahwa data awal menunjukkan vaksin Covid-19 eksperimentalnya lebih dari 90% efektif.

"Setiap kematian adalah tragedi dan kami berduka atas semua yang meninggal," kata Johnson.

Dia mengaku, telah memerintahkan Inggris kembali menerapkan kebijakan lockdown nasional selama sebulan di tengah kekhawatiran bahwa gelombang kedua infeksi dapat membuat layanan kesehatan kewalahan.

Namun, Johnson telah dikritik oleh lawan politiknya karena dinilai bergerak terlalu lambat dalam menerapkan lockdown nasional kedua, membiarkan pejabat kesehatan kekurangan alat pelindung diri (APD), dan dinilai gagal melindungi lansia yang berada di panti-panti jompo.

Pada awal pandemi, kepala penasihat ilmiah pemerintah, Patrick Vallance, mengatakan bahwa menjaga agar jumlah korban tewas akibat Covid-19 berada di bawah 20.000 adalah harapan mereka.

Sejauh ini, Inggris secara total mencatat 1.256.725 kasus positif Covid-19, termasuk 50.365 fatalitas.

Sponsored

"Sayangnya, tren kenaikan kemungkinan akan terus berlanjut. Akan membutuhkan beberapa minggu sebelum dampak dari tindakan pencegahan saat ini akan terlihat dan tercermin dalam data," tutur Yvonne Doyle, direktur Medis Kesehatan Masyarakat Inggris. (Reuters).

Berita Lainnya