sun
moon
a l i n e a dot id
fakta data kata
logo alinea.id

Ketegangan meningkat, Dubes AS untuk China mundur

Pengumuman itu muncul di tengah meningkatnya ketegangan antara AS dan China di beberapa bidang.

Valerie Dante
Valerie Dante Senin, 14 Sep 2020 16:51 WIB
Ketegangan meningkat, Dubes AS untuk China mundur
Informasi mutakhir perkembangan Covid-19 di Indonesia bisa dilihat di sini
Terinfeksi 236519
Dirawat 55000
Meninggal 9336
Sembuh 170774

Duta Besar Amerika Serikat untuk China Terry Branstad mengundurkan diri setelah lebih dari tiga tahun bertugas di Beijing. Kabar tersebut disampaikan oleh sebuah sumber pada Senin (14/9). Kata sumber itu, Branstad diperkirakan meninggalkan Beijing sebelum Pilpres AS pada November.

Pengumuman itu muncul di tengah meningkatnya ketegangan antara AS dan China di beberapa bidang.

Pemerintah China pekan lalu mengumumkan, akan memberlakukan pembatasan yang belum ditentukan bagi para diplomat dan personel senior AS di China.

Langkah itu diambil Beijing setelah Washington memberlakukan tindakan serupa yang menargetkan korps diplomatik Beijing pada 3 September.

Dalam sebuah twit pada Senin (14/9), Menteri Luar Negeri AS Mike Pompeo berterima kasih kepada Branstad atas jasanya kepada rakyat Amerika sebagai Duta Besar AS.

"Presiden (Donald Trump) memilih Duta Besar Branstad karena pengalamannya selama puluhan tahun berurusan dengan China membuatnya menjadi orang terbaik untuk mewakili pemerintah dan untuk membela kepentingan dan cita-cita AS dalam hubungan penting ini," tutur Pompeo.

Pompeo tidak memberikan alasan atas kepergian Branstad maupun pengumuman tentang calon penerus jabatan diplomatik penting tersebut.

Branstad merupakan salah satu duta besar pertama yang dipilih oleh Trump pada Desember 2016, tak lama setelah sang presiden memenangkan pilpres pada saat itu.

Sponsored

Pada 2016, Trump mengatakan mantan Gubernur Iowa tersebut dipilih karena pengalamannya dalam kebijakan publik, perdagangan, dan pertanian, serta hubungan eratnya dengan Presiden China Xi Jinping.

Dubes Branstad mengenal Presiden Xi sejak 1985 melalui program pertukaran pemerintah AS-China.

Selama periode itu, keduanya diyakini telah menjalin persahabatan. Pasalnya, Xi bertemu lagi dengan Branstad saat berkunjung ke AS pada 2012 saat masih menjabat sebagai wakil presiden.

Awalnya, pengangkatan Branstad disambut baik oleh Beijing. Juru bicara Kementerian Luar Negeri China Lu Kang memujinya sebagai, "teman lama rakyat China".

Namun, Branstad telah menjabat dalam salah satu periode paling tegang hubungan AS-China dalam sejarah baru-baru ini. Sejak pengangkatannya, pemerintahan Trump telah memberlakukan tarif pada ratusan miliar dolar barang-barang China sebagai bagian dari perang dagang yang telah berlangsung lama.

Selain itu, pemerintahan Trump juga melarang perusahaan teknologi China, seperti Huawei, untuk terlibat dalam infrastruktur komunikasi AS dan memperketat pembatasan visa bagi jurnalis media pemerintah China yang bekerja di AS.

Pada 9 September, sebuah opini yang ditulis oleh Branstad, di mana dia menuduh pemerintah China "mengeksploitasi" keterbukaan AS dalam beberapa dekade terakhir, ditolak untuk diterbitkan oleh media Partai Komunis China karena dianggap sangat tidak konsisten dengan fakta.

"Jika Anda memang ingin menerbitkan opini ini di People's Daily, Anda harus melakukan revisi substantif berdasarkan fakta dalam prinsip kesetaraan dan saling menghormati," kata media itu dalam surat penolakannya.

Sebagai tanggapan, Menteri Luar Negeri Pompeo menuduh People's Daily sebagai media yang munafik dengan mengatakan bahwa jika pemerintah China berlaku adil, mereka seharusnya menghormati hak diplomat Barat untuk berkomunikasi langsung dengan rakyat China.

Sumber : CNN

Berita Lainnya