logo alinea.id logo alinea.id

Kim Jong-un dan Putin akan bertatap muka pekan ini

Pertemuan Kim Jong-un dan Putin akan berlangsung di Vladivostok pada Rabu (24/4) dan Kamis (25/4).

Khairisa Ferida
Khairisa Ferida Senin, 22 Apr 2019 16:15 WIB
Kim Jong-un dan Putin akan bertatap muka pekan ini

Pemimpin Korea Utara Kim Jong-un akan bertatap muka dengan Presiden Rusia Vladimir Putin di Vladivostok pada Rabu (24/4) dan Kamis (25/4). Ini merupakan kali pertama sejak pemimpin kedua negara bertemu delapan tahun lalu.

Pertemuan pemimpin Korea Utara dan Rusia terakhir terjadi antara ayah Kim Jong-un, Kim Jong-il, dan Dmitry Medvedev yang saat itu menjabat sebagai presiden.

Tatap muka Kim Jong-un dan Putin berlangsung kurang dari dua bulan setelah pemimpin Korea Utara itu menggelar pertemuan yang berujung tanpa kesepakatan dengan Donald Trump di Hanoi, Vietnam.

Dengan Presiden China Xi Jinping yang menjadi sekutu utamanya saat ini, Kim Jong-un telah bertatap muka empat kali dalam satu tahun. Para analis menilai, lawatan Kim Jong-un ke Rusia bertujuan untuk mencari dukungan yang lebih luas atas kebuntuan perundingan denuklirisasi dengan Amerika Serikat.

Negeri Beruang Merah telah menyerukan agar sanksi terhadap Korea Utara dilonggarkan. Adapun Negeri Paman Sam telah lama menuduh Moskow berusaha membantu Pyongyang menghindari sejumlah sanksi. 

Pasca-KTT Hanoi, Duta Besar Rusia untuk Korea Utara Alexander Matsegora mengatakan kepada AFP bahwa Pyongyang kecewa dengan hasil tatap muka kedua Kim Jong-un dan Trump tersebut.

"Washington harus menawarkan konsesi konkret daripada hanya janji yang tidak berarti apa-apa. Itu tidak bisa diterima," kata Matsegora.

Teman lama

Sponsored

Korea Utara dan Rusia adalah teman lama bahkan pernah sangat karib puluhan tahun lalu. Prasasti yang terletak di Liberation Monument di Pyongyang menyatakan bahwa militer Uni Soviet yang hebat telah membebaskan Korea dari penindasan Jepang dan tindakan heroik mereka akan bersinar selama 10.000 generasi, bahkan lebih.

Faktanya, Uni Soviet menyatakan perang terhadap Jepang pada 8 Agustus 1945, setelah AS membom nuklir Hiroshima. Bom nuklir AS berikutnya di Nagasaki bahkan telah memaksa Jepang menyerah, mengakhiri Perang Dunia II dan kolonialisme Negeri Matahari Terbit atas semenanjung.

Tapi sejarah resmi Korea Utara tidak memberikan pujian apapun atas peran AS, dan menyalahkan AS atas pembagian Semenanjung Korea.

Kakek Kim Jong-un, Kim Il-sung, diangkat sebagai pemimpin Korea Utara oleh Uni Soviet. 

Kim Il-sung adalah orang buangan yang bertempur sebagai gerilyawan dalam melawan pasukan Jepang di China yang diduduki. Dia melarikan diri ke Uni Soviet, tempat di mana putranya Kim Jong-il dikabarkan lahir. 

Namun, Korea Utara bersikeras bahwa Kim Jong-il dilahirkan di sebuah kamp rahasia di Gunung Paektu yang disucikan.

Moskow sendiri merupakan pendukung penting Pyongyang dan penyedia bantuan utama selama Perang Dingin. Sementara itu, Rusia menjadi bahasa asing wajib di sekolah-sekolah di Korea Utara.

Kim Jong-il dikabarkan fasih berbahasa Rusia.

Menurut Ahn Chan-il, seorang pembelot dan peneliti Korea Utara di Seoul, warisan tersebut membantu pemimpin kedua negara memperkuat hubungan mereka.

"Kim Jong-un selalu menjadikan kakeknya sebagai teladan, bukan ayahnya," kata Ahn Chan-il. "Banyak yang percaya dia memiliki pandangan romantis tentang masa lalu Korea Utara dan Uni Soviet, terutama karena kenangan manisnya tentang kakeknya."

Mengejar rekonsiliasi dengan Korea Selatan pada 1980-an, membuat Uni Soviet mengurangi bantuan pendanaan ke Korea Utara. Pyongyang sangat terpukul oleh runtuhnya Uni Soviet.

Sejak saat itu China menjadi sekutu terpenting Korea Utara yang terisolasi, mitra dagang terbesar dan pemasok bahan bakar krusial.

Melalui babak baru hubungan Korea Utara-Rusia, menurut analis, Kim Jong-un kini menemukan penyeimbang bagi pengaruh China.

Selama Perang Dingin kakeknya mahir mengeksploitasi persaingan komunis antara Beijing dan Moskow untuk mengekstraksi konsesi dari keduanya.

"Itu adalah bagian dari ideologi Juche yang dianut Korea Utara, kemandirian, ideologi untuk tidak bergantung pada sekutu tunggal," kata Jeong Young-tae, seorang analis di University of North Korean Studies. "Pyongyang memiliki sekelompok pakar diplomasi yang telah berada di pos mereka selama beberapa dekade. Mereka akan tahu bagaimana memainkan permainan ini."  (The Straits Times)