logo alinea.id logo alinea.id

Komentar Jackie Chan soal demo Hong Kong tuai kritik

Jackie Chan menyebut serangkaian protes yang melanda Hong Kong suram dan menyedihkan.

Valerie Dante
Valerie Dante Jumat, 16 Agst 2019 12:44 WIB
Komentar Jackie Chan soal demo Hong Kong tuai kritik

Memecah kebisuan terkait protes yang telah mengguncang Hong Kong, aktor serba bisa Jackie Chan mengatakan dia berharap situasi di kota asalnya itu dapat segera kembali damai. 

"Hong Kong dan China adalah tempat kelahiran dan rumah saya. China adalah negara saya, saya mencintai negara dan rumah saya. Saya berharap Hong Kong dapat segera kembali damai," ungkap Jackie Chan yang merupakan kelahiran Hong Kong.

Dalam wawancara dengan stasiun TV milik pemerintah China, CGTN, bintang film laga "Drunken Master" itu menyebut serangkaian protes yang melanda Hong Kong sebagai hal yang suram dan menyedihkan.

"Saya ingin mengungkapkan prinsip patriotisme yang paling dasar sebagai warga Hong Kong dan China. Saya merupakan penjaga bendera nasional," tutur Jackie Chan pada Rabu (14/8).

Demonstran Hong Kong menentang pandangan pro-China Jackie Chan.

Pria berusia 65 tahun itu adalah anggota Konferensi Konsultatif Politik Rakyat China, sebuah badan penasihat legislatif di Beijing yang sebagian besar terdiri dari anggota Partai Komunis China.

"Saya telah mengunjungi banyak negara, dan saya dapat mengatakan negara kita telah berkembang pesat dalam beberapa tahun terakhir. Saya merasa bangga menjadi orang Tionghoa ke mana pun saya pergi, dan 'Bendera Merah Berbintang Lima' dihormati di seluruh dunia," kata Jackie Chan.

Dia mengibaratkan keamanan, stabilitas dan kedamaian sebagai udara segar.

Sponsored

"Anda tidak pernah tahu betapa berharganya ketiga hal itu sampai Anda kehilangan semuanya," ujar dia.

Potongan video wawancara dengan Jackie Chan, yang diunggah di akun Twitter CGTN, menuai kritik dan amarah dari sejumlah pengguna media sosial Hong Kong.

"Hong Kong membencimu," tulis akun Twitter @HKWORLDCITY, yang mendukung gerakan pro-demokrasi.

Akun Twitter @vangelicmonk mengkritik Jackie Chan, menyebutnya sebagai pendukung kejahatan yang dilakukan China.

"Jadi dia hanya melawan kejahatan di film, tetapi ketika Partai Komunis menyiksa dan menahan orang serta melecehkan hak asasi manusia, dia malah mendukung kejahatan itu?," tulis pemilik akun @vangelicmonk.

Akun @JuliaKatmusi35 ikut mengungkap kemarahan atas komentar Jackie Chan.

"Jackie Chan adalah sampah. Pada 2009 dia mengatakan bahwa dia tidak yakin apakah masyarakat China harus memiliki kebebasan atau tidak," kata dia.

Pemilik akun Twitter @GreasilyWee menuturkan bahwa dengan membela Partai Komunis, Jackie Chan telah "memesan tempat" di neraka.

Sementara itu, sesama ikon seni bela diri Hong Kong, Bruce Lee, justru menjadi simbol bagi demonstran muda yang menentang RUU ekstradisi.

Pada Juni, Jackie Chan mengaku tidak tahu-menahu soal protes pro-demokrasi yang telah menjadi sorotan dunia.

"Saya baru tahu ada demonstrasi besar di Hong Kong. Saya tidak tahu apa-apa tentang itu," kata dia

Jackie Chan sempat dihujani kritik pada 2009 karena komentarnya dianggap merendahkan gerakan pro-demokrasi.

"Saya tidak yakin kebebasan adalah hal yang baik. Jika diberi kebebasan terlalu luas, situasinya dapat menjadi seperti Hong Kong yang sangat kacau. Taiwan pun sangat kacau," ujarnya pada saat itu.

Taipan Hong Kong ikut bersuara

Dalam komentar publik pertamanya pada Jumat (16/8), taipan Hong Kong Li Ka-shing mendesak masyarakat untuk mencintai China, mencintai Hong Kong dan mencintai diri sendiri.

Pernyataannya tersebut merupakan tanggapan atas meningkatnya gelombang protes pro-demokrasi yang telah mengguncang Hong Kong selama berminggu-minggu.

Komentar Li dimuat di halaman depan surat kabar utama Hong Kong. Dia mendesak publik untuk menghentikan kekerasan dan menyebarkan cinta.

Namun, pria berusia 91 tahun itu tidak secara eksplisit menyatakan dukungan terhadap pemerintah atau Kepala Eksekutif Hong Kong Carrie Lam.

"Saya pikir pemerintah Hong Kong mendengar pesan dari para pengunjuk rasa dan sekarang sedang memutar otak untuk mencari solusi," tutur Li.

Serangkaian protes yang berlangsung selama 10 minggu terakhir telah menjerumuskan Hong Kong ke dalam krisis politik terburuknya sejak dikembalikan ke China pada 1997. Lebih dari 700 orang telah ditangkap sejak unjuk rasa dimulai pada Juni.

China menyebut protes yang semakin keras itu mirip aksi terorisme. China memperingatkan bahwa mereka dapat menggunakan kekuatan untuk memadamkannya.

Diperkirakan lebih banyak demonstrasi massal akan terjadi sepanjang akhir pekan ini. Sebuah unjuk rasa bertajuk, "Stand with Hong Kong, Power to the People" direncanakan akan berlangsung di kawasan pusat bisnis pada Jumat malam. Aksi protes itu mendapat izin dari pihak berwenang tetapi polisi melarang protes lainnya yang direncanakan akan berlangsung pada akhir pekan ini.

Front Hak Asasi Manusia Sipil, yang berencana untuk menggelar demonstrasi pada Minggu (18/7), hanya diberi izin untuk mengadakan pertemuan di Taman Victoria. Sementara itu, unjuk rasa lain yang direncanakan di Distrik Hung Hom Kowloon pada Sabtu (17/8) telah dilarang oleh pihak berwenang. (South China Morning Post dan Reuters)