sun
moon
a l i n e a dot id
fakta data kata
logo alinea.id

Korban tewas akibat ledakan di Lebanon jadi 135 orang

Pemerintah setempat melakukan penyelidikan selama lima hari ke depan untuk menentukan penyebab pasti dan pihak yang bertanggung jawab.

Valerie Dante
Valerie Dante Kamis, 06 Agst 2020 11:46 WIB
Korban tewas akibat ledakan di Lebanon jadi 135 orang
Informasi mutakhir perkembangan Covid-19 di Indonesia bisa dilihat di sini
Terinfeksi 385.980
Dirawat 63.556
Meninggal 13.205
Sembuh 309.219

Pihak berwenang di Beirut, Lebanon, menyatakan ledakan yang terjadi pada Selasa (4/8) sore waktu setempat menewaskan sedikitnya 135 orang dan melukai sekitar 5.000 lainnya.

Para pejabat memperkirakan jumlah korban tewas akan terus bertambah seraya para petugas darurat menggali reruntuhan untuk mencari para korban.

Menyusul ledakan, Kabinet Lebanon menyatakan keadaan darurat selama dua pekan di Beirut dan menyerahkan kendali keamanan di ibu kota kepada militer.

Ledakan yang terjadi di Port of Beirut mengirimkan gelombang kejut ke seluruh kota, menyebabkan kerusakan luas hingga ke wilayah pinggiran ibu kota.

Gubernur Beirut Marwan Abboud mengatakan, 300.000 orang kehilangan rumah mereka dan pihak berwenang sedang berupaya menyediakan makanan, air, dan tempat tinggal bagi warga yang membutuhkan.

Belum diketahui penyebab pasti ledakan tersebut. Sumber awal menyampaikan, bencana terjadi di salah satu hangar besar, tempat kejadian menyimpan bahan rentan meledak.

Pihak berwenang Lebanon menghubungkan ledakan itu dengan sekitar 2.750 ton amonium nitrat yang disita yang disimpan di gudang pelabuhan sejak 2014.

Amonium nitrat umumnya digunakan sebagai pupuk, tetapi juga merupakan komponen bahan peledak bila dicampur dengan bahan bakar minyak. Pengeboman di Oklahoma City, Amerika Serikat, pada 1995, menggunakan amonium nitrat sebanyak dua ton dan menewaskan 168 orang.

Sponsored

New York Times, mengutip catatan publik, melaporkan bahwa pejabat Lebanon mengetahui tentang risiko penyimpanan amonium nitrat selama beberapa tahun tetapi tidak menindaklanjutinya.

Pemerintah setempat kemudian melakukan penyelidikan selama lima hari ke depan untuk menentukan penyebab pasti dan pihak yang bertanggung jawab atas ledakan tersebut.

"Saya tidak akan beristirahat sampai menemukan pihak yang bertanggung jawab atas apa yang terjadi," tutur Perdana Menteri Lebanon Hassan Diab pada Rabu (5/8).

Lebih lanjut, Kabinet Lebanon menyatakan, seluruh petugas pelabuhan yang bertugas mengawasi gudang pelabuhan sejak 2014 akan menjadi tahanan rumah untuk sementara waktu. (Al Jazeera dan CNBC)

Berita Lainnya