logo alinea.id logo alinea.id

Korea Utara bebaskan mahasiswa Australia

Dalam upaya membebaskan Alek Sigley (29), Australia dibantu oleh Kedutaan Besar Swedia di Korea Utara.

Khairisa Ferida
Khairisa Ferida Kamis, 04 Jul 2019 13:36 WIB
Korea Utara bebaskan mahasiswa Australia

Alek Sigley (29), mahasiswa master Australia yang dilaporkan hilang pekan lalu telah dibebaskan dan dalam kondisi aman. Demikian disampaikan Perdana Menteri Scott Morrison.

Nasib Sigley terkuak setelah berlangsungnya pertemuan antara Kedutaan Besar Swedia di Pyongyang dan pemerintah Korea Utara.

Australia tidak memiliki kehadiran diplomatik resmi di Korea Utara. Bantuan konsuler diberikan lewat perwakilan Swedia di Korea Utara.

Tidak dijelaskan alasan di balik penahanan Sigley.

Kabar pembebasan Sigley pertama kali dilaporkan oleh NK News, situs yang memiliki spesialisasi pada urusan Korea Utara. Situs itu menyebutkan bahwa Sigley dalam kondisi aman di China dan akan pulang ke istrinya di Jepang pada Kamis (4/7).

PM Morrison telah mengonfirmasi pembebasan Sigley di hadapan parlemen. Dia menyatakan bahwa bebasnya pemuda itu adalah hasil dari kerja rahasia menyangkut kasus konsuler yang kompleks dan sensitif.

"Dengan bahagia kami umumkan bahwa Alek Sigley telah dibebaskan dari detensi di Republik Rakyat Demokratik Korea (DPRK). Dia aman dan sehat," ungkap Morrison.

Sponsored
— Australian House of Representatives (@AboutTheHouse) 4 July 2019

PM Morrison menuturkan bahwa pertemuan antara otoritas Swedia dengan para pejabat senior DPRK berlangsung pada Rabu (3/7) untuk membahas soal Sigley.

"Saya ingin menyampaikan terima kasih yang mendalam kepada pihak berwenang Swedia atas bantuan mereka yang tidak ternilai," imbuh Morrison.

Tidak ada rincian yang dirilis tentang bagaimana Sigley, pemilik Tongil Tours yang mengatur tur budaya ke Korea Utara, berakhir di China.

Sigley yang fasih berbahasa Mandarin dan Korea, telah menjadi satu-satunya warga Australia yang tinggal di Korea Utara dan sejak 2018 dia merupakan satu dari sejumlah mahasiswa Barat yang menempuh pendidikan di Kim Il-sung University. Dia mempelajari sastra kontemporer Korea Utara.

Tulisan Sigley tentang pengalamannya sehari-hari di Korea Utara telah dimuat di sejumlah media Barat.

Kekhawatiran atas hilangnya Sigley pekan lalu bermula dari absennya pemuda itu di Twitter dan keluarganya kemudian mengonfirmasi bahwa dia belum melakukan kontak dengan mereka sejak Selasa (25/6).

Kepada Sky News, Sigley pernah menuturkan bahwa dia tidak khawatir tentang unggahan-unggahan di media sosialnya tentang Korea Utara.

"Saya tidak pernah merasa terancam dan tahun ini merupakan periode pemulihan hubungan (AS-Korea Utara)," kata dia.

Perlakuan Korea Utara terhadap warga negara asing, biasanya dari Amerika Serikat, yang penuh rahasia telah menjadi masalah yang diperdebatkan selama bertahun-tahun.

Beberapa telah ditahan untuk waktu yang lama, dan lenyapnya Sigley yang tiba-tiba memicu kekhawatiran bahwa apa yang menimpanya dapat menyerupai kasus Otto Warmbier.

Warmbier, seorang mahasiswa AS dihukum 15 tahun kerja paksa pada 2017 setelah dia dituduh melanggar hukum dengan mencuri poster propaganda dari sebuah hotel saat berkunjung ke Korea Utara.

Upaya diplomatik AS membuahkan hasil dengan dilepasnya Warmbier pada Juni 2017 setelah menjalani masa tahanan 17 bulan, namun pemuda itu kembali ke negaranya dalam kondisi koma sebelum akhirnya tutup usia pada 19 Juni 2017. (Telegraph dan BBC)