logo alinea.id logo alinea.id

Korea Utara kembali luncurkan dua rudal

Kedua rudal dilaporkan terbang 250 km dan mencapai ketinggian 30 km sebelum mendarat di Laut Jepang atau dikenal pula sebagai Laut Timur.

Khairisa Ferida
Khairisa Ferida Rabu, 31 Jul 2019 10:19 WIB
Korea Utara kembali luncurkan dua rudal

Militer Korea Selatan mengumumkan, Korea Utara menembakkan dua rudal balistik jarak pendek di lepas pantai timurnya pada Rabu (31/7) pagi. Ini merupakan peluncuran rudal kedua dalam waktu sepekan terakhir.

Menurut militer Korea Selatan, peluncuran dilakukan dari Semenanjung Hodo di Provinsi Hamgyong Selatan di pantai timur Korea Utara pada pukul 05.06 dan pukul 05.27 waktu setempat.

Kedua rudal dilaporkan terbang 250 km dan mencapai ketinggian 30 km sebelum mendarat di Laut Jepang atau dikenal pula sebagai Laut Timur.

Menteri Pertahanan Korea Selatan Jeong Kyeong-doo menuturkan bahwa rudal itu diidentifikasi berbeda dengan model sebelumnya.

Sementara itu, PM Jepang Shinzo Abe mengonfirmasi bahwa peluncuran rudal tidak berdampak pada keamanan Jepang.

Peluncuran sebelumnya terjadi enam hari lalu, di mana Korea Utara juga menembakkan dua rudal jarak pendek. Satu rudal terbang sekitar 690 km dan lainnya 430 km.

Itu merupakan peluncuran pertama sejak Donald Trump dan Kim Jong-un menggelar pertemuan dadakan di zona demiliterisasi (DMZ) pada Juni lalu. Dalam tatap muka tersebut, keduanya sepakat memulai kembali perundingan denuklirisasi.

Meski telah setuju untuk memulai kembali negosiasi, namun kedua belah pihak dikabarkan belum bertemu.

Sponsored

Korea Utara blak-blakan mengatakan bahwa peluncuran pada Kamis (25/7) merupakan peringatan bagi Korea Selatan terkait rencana negara itu menggelar latihan militer tahunan bersama Amerika Serikat. 

Seorang analis mengatakan bahwa peluncuran rudal kemungkinan akan terus dilakukan menjelang latihan tersebut.

"Korea Utara akan terus melampiskan amarahnya dengan melakukan uji coba rudal ... dalam beberapa hari mendatang sebelum latihan dimulai pada awal Agustus," ungkap Harry Kazianis dari think tank National Interest yang bermarkas di Washington. "Ini adalah pesan bagi Washington dan Seoul: Hentikan latihan bersama atau kami akan lebih lanjut memamerkan kemampuan ofensif militer kami."

Korea Utara menyebut latihan bersama Korea Selatan dan AS adalah pelanggaran dari semangat pernyataan bersama yang diteken oleh Trump dalam KTT perdana mereka di Singapura.

Pyongyang telah memperingatkan bahwa latihan semacam itu dapat memengaruhi dimulainya kembali perundingan denuklirisasi.

Menteri Luar Negeri AS Mike Pompeo pada Senin (29/7) menuturkan harapannya agar pembicaraan dengan Korea Utara dapat dimulai segera. Namun, dia mengonfirmasi bahwa belum ada rencana untuk kembali menggelar pertemuan antara Trump dan Kim Jong-un. (BBC dan Al Jazeera)