sun
moon
logo alinea.id logo alinea.id

Korea Utara sebut PM Jepang idiot dan penjahat

Korea Utara berang karena PM Abe mengkritik mereka terkait uji coba senjata.

Valerie Dante
Valerie Dante Jumat, 08 Nov 2019 10:47 WIB
Korea Utara sebut PM Jepang idiot dan penjahat

Pada Kamis (7/11), Korea Utara menyebut Perdana Menteri Jepang Shinzo Abe sebagai idiot dan penjahat yang seharusnya tidak bermimpi untuk menginjakkan kaki di Pyongyang.

Komentar itu diterbitkan oleh kantor berita negara, KCNA, sebagai tanggapan atas kritik PM Abe terkait uji coba senjata yang dilakukan Korea Utara.

"Abe adalah seorang idiot dan penjahat karena dia membuat keributan seolah-olah bom nuklir dijatuhkan di Jepang dengan mempermasalahkan uji coba senjata Korea Utara," kata perwakilan Korea Utara untuk Jepang, Song Il-ho.

Pyongyang melakukan uji coba dari apa yang disebutnya peluncur roket ganda super besar pada 31 Oktober, tetapi Jepang menyebut itu kemungkinan adalah rudal balistik yang melanggar sanksi Amerika Serikat.

PM Abe mengutuk uji coba itu dalam KTT ASEAN pada awal pekan ini. Dalam kesempatan yang sama, dia mengatakan ingin bertemu dengan pemimpin Korea Utara Kim Jong-un untuk menyelesaikan persoalan warga Jepang yang diculik oleh Korea Utara.

Komentar Song Il-ho menandai kemunduran bagi harapan Abe untuk menyelesaikan persoalan warga Jepang yang diculik. Sebelumnya dia telah berjanji untuk memulangkan mereka semua dan menyatakan dia bersedia bertemu dengan Kim Jong-un tanpa syarat.

Pada 2002, Korea Utara mengaku bahwa agen-agennya telah menculik 13 orang Jepang pada 1960-an hingga 1980-an. Jepang menyatakan warganya yang diculik berjumlah 17 dan lima di antaranya sudah dipulangkan.

Mantan Perdana Menteri Jepang Junichiro Koizumi pernah mengunjungi Pyongyang pada 2002 dan bertemu dengan ayah Kim Jong-un, Kim Jong-il. Namun, hingga saat ini Abe belum pernah bertatap muka dengan pemimpin Korea Utara tersebut.

Sponsored

Pada Rabu (6/11), seorang diplomat senior Korea Utara menilai bahwa latihan udara bersama AS-Korea Selatan, yang direncanakan bulan depan, akan berdampak buruk bagi perundingan yang berlangsung antara Pyongyang dan Washington.

Korea Utara telah secara konsisten menentang latihan militer gabungan AS-Korea Selatan, memandangnya sebagai latihan untuk invasi.

Di Washington pada Kamis, Pentagon membela langkah AS dan menyatakan bahwa pihaknya telah mengurangi cakupan dari latihan militer gabungan tersebut.

"Itu memenuhi semua persyaratan Angkatan Udara Korea Utara dan Angkatan Udara AS," jelas Wakil Direktur Staf Gabungan AS Laksamana Muda William Byrne.

Sumber : Reuters